Staf FORUM
Personel pertahanan dari sembilan negara telah merampungkan rangkaian misi kemanusiaan dan tanggap bencana berskala luas yang dikenal sebagai Pacific Partnership. Dalam misi itu, kapabilitas mereka dipadukan dengan kapabilitas negara-negara tuan rumah di seluruh kawasan demi meningkatkan taraf hidup ribuan orang.
Pacific Partnership dibentuk setelah terjadinya gempa bumi dan tsunami dahsyat di Samudra Hindia pada tahun 2004. Iterasi terbarunya yang dipimpin oleh Angkatan Laut Amerika Serikat ini dimulai pada bulan Juni di Vietnam dan berakhir pada bulan September di Filipina. Lebih dari 200 personel mengunjungi tujuh negara untuk melaksanakan pertukaran medis, proyek rekayasa, kegiatan kesiapsiagaan bencana, dan program pengabdian masyarakat.
Di Palau, Pacific Partnership mendukung sektor pariwisata, yang menjadi penggerak utama perekonomian negara kepulauan itu, dengan menyingkirkan tiga kapal penangkap ikan yang terbengkalai serta memompa keluar 1.500 galon minyak dan berbagai polutan lain yang telah mencemari samudra selama bertahun-tahun.
Kapal-kapal itu terlepas dan tersebar di sebuah pelabuhan di negara bagian Koro saat Topan Molave melanda pada Oktober 2020.
Pariwisata telah membantu mendorong Palau menempati peringkat No. 2 dalam hal produk domestik bruto per kapita di antara negara-negara Pasifik, demikian menurut Lowy Institute, wadah pemikir yang berkantor pusat di Australia. Pengunjung Palau wajib menandatangani ikrar pelestarian untuk turut menjaga kawasan yang oleh buku panduan wisata disebut sebagai kepulauan dengan keindahan alami yang belum terjamah, tempat perairan sebening kristal berpadu dengan hutan lebat dan budaya tradisional.
Para penyelam Angkatan Laut A.S. dan pasukan penyelamatan kapal karam yang dikerahkan oleh Armada ke-7 memulai proyek pembersihan yang berlangsung selama satu bulan itu pada akhir Agustus. Mereka bekerja sama dengan berbagai instansi di Palau, termasuk Departemen Konservasi dan Penegakan Hukum, Kementerian Infrastruktur Publik dan Industri, Dewan Perlindungan Kualitas Lingkungan, serta pemerintah daerah Koror. Kapal tunda komersial menarik kapal-kapal itu ke laut untuk digunakan sebagai terumbu karang buatan.
“Kami mengapresiasi dedikasi Angkatan Laut Amerika Serikat yang telah menjadi mitra aktif dan bekerja sama dengan kami untuk melindungi serta melestarikan samudra dan lingkungan kelautan Palau demi generasi mendatang,” ungkap Jennifer Anson, koordinator keamanan nasional Palau.

Pacific Partnership, yang menandai tahun ke-20 pelaksanaannya pada tahun 2026, meningkatkan interoperabilitas dan kapabilitas tanggap bencana, memperkuat keamanan, serta memupuk persahabatan di seluruh kawasan Indo-Pasifik.
Pacific Partnership 2026 melibatkan personel dari Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, Singapura, dan Britania Raya. Selama misi lima bulan itu, mereka bekerja sama dengan pihak berwenang dan berbagai lembaga di Fiji, Indonesia, Malaysia, Palau, Filipina, Timor-Leste, dan Vietnam.
— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —
Gabung dengan bahasan ini
Bagaimana negara Anda dapat bekerja sama dengan A.S. beserta Sekutu dan Mitranya untuk mendukung kesiapan regional?
Misi itu mencakup berbagai kegiatan operasi yang di antaranya adalah pelatihan manajemen bencana di Dili, Timor-Leste, yang dilakukan oleh angkatan bersenjata Kanada, Jerman, dan Selandia Baru; pemeriksaan, prosedur, dan pelatihan medis yang dilakukan oleh personel Pasukan Bela Diri Jepang di Kota Tacloban, Filipina; serta penempatan personel dan peralatan di atas kapal amfibi Angkatan Laut Australia.
Pacific Partnership 2026 memungkinkan Angkatan Bersenjata Filipina (Armed Forces of the Philippines – AFP) untuk memperkuat kapabilitas di berbagai bidang seperti bantuan kemanusiaan, bantuan bencana, dan kerja sama regional, demikian ungkap Mayjen AFP Peter Burgonio.
“Selama dua minggu terakhir ini, banyak negara telah berkumpul untuk saling belajar dan mendukung pertumbuhan satu sama lain,” ungkap Peter Burgonio saat operasi di Filipina berakhir pada bulan September. “Itulah kemitraan dalam tindakan nyata.”



