Sentry
Pada September 2021, Australia, Britania Raya, dan Amerika Serikat membentuk kemitraan keamanan untuk meningkatkan penangkalan di Indo-Pasifik. Lima tahun kemudian, pakta trilateral itu telah mengalami kemajuan di tengah perubahan geopolitik.
AUKUS dibentuk sebagai tanggapan atas kebutuhan yang kian mendesak untuk melawan ancaman keamanan di kawasan ini, khususnya dari Tiongkok dan Rusia.
“Tantangan yang kita hadapi di kawasan Indo-Pasifik semakin besar dan risiko bagi Australia kian meningkat, khususnya terkait dengan kapabilitas maritim dan kapabilitas kapal selam,” ungkap Greg Moriarty, Duta Besar Australia untuk A.S., selama diskusi pada September 2026 yang diselenggarakan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berkantor pusat di A.S. Greg Moriarty mengatakan untuk menghadapi berbagai ancaman itu, Australia perlu meningkatkan kapabilitas kapal selamnya dari armada bertenaga konvensional menjadi armada bertenaga nuklir.
Bagi Britania Raya, AUKUS muncul dari “pengakuan atas fakta bahwa kemakmuran kita sangat bergantung pada kebebasan navigasi dan rute perdagangan … di Indo-Pasifik,” ungkap Steven Lovegrove, perwakilan khusus perdana menteri Britania Raya untuk AUKUS, selama acara CSIS itu. “Kami ingin memastikan bahwa bagian dunia itu tetap aman.”
Dia mengatakan AUKUS juga membuka jalan untuk membangun kembali basis industri kapal selam Britania Raya.
Pilar 1 AUKUS mencakup penyediaan kapabilitas kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia. Pilar 2 menyerukan peningkatan kapabilitas gabungan dan interoperabilitas melalui teknologi pertahanan, termasuk kapabilitas siber, kuantum, peperangan elektronik, dan bawah laut.
“Indo-Pasifik dan Atlantik Utara … hal yang dibuat-buat jika kita berpura-pura bahwa keduanya merupakan wilayah operasi yang sepenuhnya terpisah,” ungkap Steven Lovegrove.
Pada Mei 2026, mitra AUKUS mengumumkan bahwa mereka akan bersama-sama mengembangkan modul atau muatan yang bisa diganti-ganti sesuai misi dan sistem pendukung untuk kendaraan bawah laut nirawak. Sementara itu, proyek Kapabilitas Radar Ruang Angkasa Jauh Tingkat Lanjut (Deep Space Advanced Radar Capability – DARC) akan membangun jaringan radar berbasis darat yang dirancang untuk melacak objek-objek kecil di ruang angkasa, dengan stasiun radar yang tersebar di setiap negara mitra. Negara-negara AUKUS juga tengah melaksanakan latihan dan pengujian trilateral, termasuk yang melibatkan teknologi hipersonik.
Greg Moriarty mengatakan Australia tengah mengembangkan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mendukung kapal selam bertenaga nuklir. Lebih dari 140 personel Angkatan Laut Australia telah menyelesaikan pelatihan dan mulai berdinas di kapal selam A.S., sementara itu 230 personel dari Korps Kapal Selam Australia telah menerima pelatihan pemeliharaan kapal selam di Pangkalan Gabungan Pearl Harbor-Hickam, Hawaii.
“Personel angkatan laut kami telah memenuhi standar pemeliharaan yang wajib kami penuhi,” ungkap Greg Moriarty. “Kami bekerja sama dengan A.S. dan Britania Raya untuk memastikan bahwa personel kami — baik tenaga sipil bidang pemeliharaan maupun personel angkatan laut — dapat memenuhi standar-standar itu.”
Sentry merupakan majalah militer profesional yang diterbitkan oleh Komando Strategis A.S. untuk menyediakan forum bagi personel keamanan nasional.



