Kerja sama teknologi Jepang-Korea Selatan memperkuat jaringan pelacakan rudal trilateral bersama dengan A.S.
Felix Kim
Jepang dan Korea Selatan tengah memanfaatkan kembali ikatan pertahanan mereka yang telah dipulihkan untuk memperkuat jaringan pelacakan rudal trilateral bersama sekutu timbal balik lama mereka, Amerika Serikat, dengan memadukan latihan operasional dan kerja sama di bidang teknologi baru yang sedang berkembang.
Seoul dan Tokyo mengumumkan pada pertengahan tahun 2026 bahwa mereka akan melanjutkan kembali latihan pencarian dan penyelamatan maritim yang terakhir kali diadakan pada tahun 2018. Latihan itu, yang diharapkan dapat meningkatkan kapabilitas radar dan prosedur komunikasi, memiliki arti penting bagi hubungan bilateral, demikian ungkap SeungHwan Kim, peneliti nonresiden di Cross-Strait Dynamics Research Center, Indo-Pacific Studies Center yang berkantor pusat di Australia, kepada FORUM.
Latihan gabungan dapat mengidentifikasi keterlambatan komunikasi, format data yang tidak kompatibel, dan wewenang operasional yang tidak jelas, demikian ungkap Letnan Kolonel Angkatan Laut Korea Selatan (Purn.), Jihoon Yu, peneliti di Korea Institute for Defense Analyses, kepada FORUM. Menghilangkan kesenjangan semacam itu sangat penting bagi pertahanan rudal terintegrasi, yang menuntut kejelasan dalam berbagi intelijen, komando dan kendali (command and control – C2), serta pengambilan keputusan.
Pada Desember 2023, Jepang, Korea Selatan, dan A.S. mengumumkan mereka telah mengaktifkan sepenuhnya mekanisme berbagi data peringatan waktu nyata terkait peluncuran rudal Korea Utara. Data itu sebelumnya mengalir melalui saluran terpisah di antara Seoul-Washington dan Tokyo-Washington, namun kini menghubungkan pasukan ketiga negara sekutu itu dalam satu rantai tunggal. Jaringan itu juga saling berbagi aset deteksi, termasuk radar darat, guna memantau lintasan rudal sejak diluncurkan hingga perkiraan titik sasarannya.
— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —
Gabung dengan bahasan ini
Bagaimana negara Anda bekerja sama dengan A.S. beserta Sekutu dan Mitranya untuk menangkal potensi permusuhan?
“Keuntungan teknis utamanya adalah radar di berbagai lokasi saling melengkapi area deteksi yang tidak terjangkau oleh radar lain,” ungkap SeungHwan Kim. Arsitektur itu diuji selama latihan trilateral Freedom Edge pada September 2026. Komando Pasukan A.S. di Pasifik menyatakan bahwa latihan itu mencakup pertukaran data waktu nyata, koordinasi tersinkronisasi, dan skenario pertahanan udara yang ditingkatkan.
Latihan itu “bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas penangkalan dan respons terhadap ancaman nuklir serta rudal Korea Utara, sembari menjaga perdamaian dan stabilitas regional,” demikian ungkap Kepala Staf Gabungan Korea Selatan.
SeungHwan Kim mengatakan integrasi aset yang didukung oleh kecerdasan buatan, yang juga dikenal sebagai kecerdasan super, ke dalam sistem pertahanan rudal dapat mempercepat pengambilan keputusan di titik-titik C2, termasuk melalui analisis citra satelit untuk mendeteksi tanda-tanda aktivitas peluncur bergerak dan persiapan lainnya. Korea Selatan tengah meningkatkan sistem C2 gabungannya dengan A.S. agar mencakup kemampuan analisis serta dukungan pengambilan keputusan otomatis semacam itu, demikian ungkapnya.
Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.



