Vietnam membangun kemandirian pengadaan pertahanan melalui kemitraan yang terdiversifikasi
Peter Parson
Vietnam tengah mentransformasi basis industri pertahanannya, beralih dari pembeli platform asing menjadi produsen dalam negeri kapal perang dan persenjataan canggih, sembari menjalin jaringan kemitraan yang terdiversifikasi untuk membangun kemandirian jangka panjang.
“Tujuan jangka panjang Hanoi adalah membangun industri pertahanan modern dengan fungsi ganda, yang menjadi landasan modernisasi militer dan pilar utama ekosistem industri nasional yang lebih luas,” ungkap analis pertahanan yang berbasis di Australia, Nguyen The Phuong, kepada FORUM.
Dengan mengajak partisipasi sektor swasta dalam penelitian, transfer teknologi, dan produksi, negara itu memosisikan basis pertahanannya untuk memanfaatkan terobosan komersial di berbagai bidang seperti baja khusus dan material canggih, demikian ungkapnya.
Pendekatan ini membuahkan hasil. Perjanjian transfer teknologi telah membantu melengkapi divisi infanteri dengan persenjataan ringan dan perlengkapan buatan dalam negeri, termasuk senapan serbu STV. Galangan kapal dalam negeri tengah mengembangkan subsistem utama bagi kapal perang, sementara itu Viettel, konglomerat telekomunikasi dan pertahanan milik negara, telah mengalami kemajuan pesat dalam sistem otonom, peperangan elektronik, dan radar phased-array. Perusahaan itu juga terlibat dalam pengembangan sistem rudal pesisir Truong Son dan rudal pertahanan udara S-125-VT yang telah ditingkatkan kemampuannya.
“Vietnam secara selektif membeli sistem yang terbukti dan matang dalam jumlah kecil pada tahap awal,” ungkap Nguyen The Phuong. Dia menjelaskan metode “beli dalam jumlah kecil, uji coba secara menyeluruh” itu memungkinkan Tentara Rakyat Vietnam untuk mengevaluasi kinerja platform dan membangun keahlian pemeliharaan internal sebelum berkomitmen untuk mengadopsinya secara lebih luas.
Mitra dipilih berdasarkan keahlian khusus: India, misalnya, memasok rudal jelajah supersonik BrahMos, serta rawat pulih mesin dan dukungan keberlanjutan kapal selam.
Kemitraan Hanoi dengan New Delhi, yang juga mencakup pembiayaan untuk kapal patroli, kapal lepas pantai, dan peningkatan kemampuan kapal selam, merupakan landasan yang memperkuat kapabilitas Vietnam dalam menghalangi akses ke wilayah pesisir. Sementara itu, Korea Selatan memasok Vietnam dengan howitzer bertenaga penggerak mandiri K9 Thunder.
— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —
Gabung dengan bahasan ini
Bagaimana negara Anda berkolaborasi dengan Sekutu dan Mitra untuk meningkatkan keamanan regional?
Hanoi juga memperluas kerja sama pertahanan dengan Washington, termasuk melalui transfer pesawat T-6C Texan II dan kapal cutter Pasukan Penjaga Pantai Amerika Serikat. Pemasok Eropa seperti konglomerat Thales telah menyediakan komponen radar presisi untuk diintegrasikan ke dalam platform buatan Vietnam.
Hasilnya adalah model pengadaan modular yang memberikan fleksibilitas kepada Vietnam, dengan kapal perang yang menggabungkan desain lambung lama dengan radar modern, perangkat peperangan elektronik, dan rudal, sehingga mengurangi ketergantungan pada satu pemasok tunggal. Pendekatan ini mencapai tonggak pencapaian penting pada Agustus 2026 ketika Vietnam mulai membuat kapal fregat antikapal selam terbesarnya di galangan kapal Da Nang milik Song Thu Corp., dengan mengendalikan proses rekayasa di setiap tahap konstruksi.
Nguyen The Phuong mengatakan kemajuan ini mendukung postur strategis Vietnam di perairan yang disengketakan di Laut Cina Selatan. Di sana, prioritas Hanoi adalah penangkalan alih-alih proyeksi kekuatan di tengah invasi maritim agresif Tiongkok. Pembuatan kapal angkatan laut di dalam negeri, rudal antikapal berbasis darat, dan kapabilitas kapal selam yang sedang berkembang secara bersama-sama membentuk “perisai kecil” berlapis untuk membuat tindakan pemaksaan menjadi lebih mahal dan berisiko.
Strategi ini memungkinkan Hanoi memodernisasi kapabilitas pertahanannya sembari tetap mempertahankan independensi yang diwujudkan dalam prinsip “Empat Larangan”: tidak bergabung dalam aliansi militer, tidak berpihak pada satu negara untuk melawan negara lain, tidak mengizinkan pangkalan militer asing, serta tidak menggunakan atau mengancam menggunakan kekuatan militer.
Peter Parson merupakan kontributor FORUM yang berbasis di Hamilton, Selandia Baru.



