India dan Indonesia memperkuat ikatan pertahanan dan kerja sama keamanan maritim
Staf FORUM
India dan Indonesia meningkatkan kerja sama pertahanan dan keamanan maritim, termasuk New Delhi yang menyediakan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos kepada Jakarta. Pengumuman itu disampaikan setelah Perdana Menteri India Narendra Modi mengunjungi Presiden Prabowo Subianto di Jakarta pada Juli 2026.
“Kita adalah dua negara demokrasi terbesar di dunia,” ungkap Prabowo Subianto. “Kemitraan di antara kita akan membawa manfaat bagi kawasan ini.”
Rudal BrahMos, yang dikembangkan bersama oleh Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India, dapat diluncurkan dari udara, darat, dan laut. Ketertarikan terhadap rudal itu meningkat sejak India menggunakan sistem senjata itu pada pertempuran untuk pertama kalinya dalam konfliknya dengan Pakistan pada tahun 2025. Kesepakatan dengan Indonesia itu nilainya mencapai 11,28 triliun rupiah (630 juta dolar A.S.), demikian menurut kantor berita Reuters. New Delhi juga telah setuju untuk menyediakan BrahMos kepada Filipina dan Vietnam.
Sementara itu, perusahaan Indonesia, Republikorp, dan Bharat Dynamics yang berkantor pusat di India menyepakati kesepakatan mengenai rudal udara-ke-udara Astra, menjadikan Indonesia sebagai pelanggan asing pertama untuk persenjataan di luar jangkauan visual itu. Rudal-rudal itu dapat diintegrasikan pada pesawat jet tempur TNI AU, demikian yang dilaporkan Reuters. Perjanjian ini memperluas secara signifikan industri pertahanan India.
Kesepakatan persenjataan itu menandai munculnya kemitraan pertahanan langgeng yang menguntungkan kedua negara, demikian yang dilaporkan majalah The Diplomat. Bagi Indonesia, kesepakatan ini sejalan dengan keinginannya untuk menghindari ketergantungan berlebihan pada Tiongkok atau negara lain untuk pengadaan pertahanannya, sembari meningkatkan peran India sebagai mitra industri pertahanan bagi negara-negara Asia Tenggara.

“Memastikan diperolehnya Indonesia sebagai pasar ekspor pertama untuk Astra menandai terobosan bagi India di bidang yang sangat kompetitif dan khusus ini, sehingga memungkinkan New Delhi untuk memosisikan diri sebagai eksportir pertahanan yang serius dan secara efektif membuka pintu bagi penjualan pertahanan di masa depan ke pasar [Asia Tenggara] yang lebih luas,” ungkap Dinakar Peri, peneliti studi keamanan di Carnegie India, kepada The Diplomat.
— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —
Gabung dengan bahasan ini
Bagaimana negara Anda dapat memperkuat penangkalan dengan memperluas perjanjian pertahanan dan berbagi teknologi dengan Sekutu dan Mitra?
India dan Indonesia menandatangani 14 perjanjian yang mencakup mineral kritis, pertahanan, ekonomi, dan keamanan maritim. Menurut pernyataan bersama, Narendra Modi dan Prabowo Subianto “menegaskan kembali komitmen kuat mereka untuk lebih meningkatkan dan memperluas kemitraan pertahanan dan maritim.”
Kedua pemimpin itu juga mencatat bahwa Indonesia telah menempatkan petugas penghubung pertamanya di Pusat Fusi Informasi-Kawasan Samudra Hindia (Information Fusion Centre-Indian Ocean Region – IFC-IOR), pusat kesadaran ranah maritim multinasional yang dikelola oleh Angkatan Laut India. IFC-IOR berbagi data tentang pengapalan komersial, termasuk untuk mengembangkan gambaran maritim bersama bagi angkatan laut negara-negara anggota.
IFC-IOR menjadi tuan rumah bagi para pejabat dari 17 negara, termasuk mitra Indo-Pasifik seperti Australia, Jepang, Maladewa, Singapura, Sri Lanka, Thailand, dan Amerika Serikat. Selain itu, IFC-IOR juga terhubung dengan 28 negara melalui pengaturan berbagi informasi. Petugas penghubung itu, yang bekerja berdampingan dengan personel Angkatan Laut India, meningkatkan koordinasi selama insiden maritim dan memperkuat kesadaran ranah maritim kolektif.
“Kemitraan kita bukan sekadar hubungan di antara dua negara, melainkan janji kepercayaan terhadap stabilitas di Indo-Pasifik,” ungkap Narendra Modi di hadapan anggota DPR RI.



