Australia dan India memperdalam kemitraan kesadaran ranah bawah laut
Mandeep Singh
Ketika kapal selam dan kapal survei asing semakin jauh menjelajahi koridor maritim paling strategis di kawasan Indo-Pasifik, Australia dan India mengarahkan fokus kemitraan pertahanan mereka ke ranah bawah laut. Proyek sains dan teknologi gabungan selama tiga tahun, yang berlangsung sejak tahun 2025, menggabungkan Laboratorium Fisika dan Oseanografi Angkatan Laut (Naval Physical and Oceanographic Laboratory – NPOL) India dengan Grup Sains dan Teknologi Pertahanan (Defence Science and Technology Group – DSTG) Australia untuk bersama-sama mengembangkan algoritma Towed Array Target Motion Analysis, teknologi yang dirancang untuk mengasah kemampuan deteksi serta pelacakan kendaraan bawah air otonom dan kapal selam senyap.
Inisiatif ini mencerminkan transisi lebih luas menuju apa yang disebut analis sebagai kesadaran ranah bawah laut, untuk melawan perluasan pengaruh bawah laut Tiongkok sembari melindungi jalur laut dan infrastruktur bawah laut yang diandalkan oleh Australia dan India.
“Peningkatan pengerahan kapal selam nuklir dan konvensional Tiongkok, bersamaan dengan kapal pemetaan samudra di Samudra Hindia dan Pasifik, menimbulkan tantangan keamanan langsung bagi New Delhi dan Canberra,” ungkap Kolonel Angkatan Darat (Purn.) India, Anil Bhat, kepada FORUM.
Tantangan itu semakin diperparah oleh serangkaian insiden:
- Kapal perusak Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLAN) mendekati kapal fregat Angkatan Laut Australia di dekat Jepang pada November 2023 dan mengoperasikan sonar yang terpasang di lambungnya dengan cara yang berbahaya sehingga melukai penyelam Australia yang berusaha melepaskan jaring ikan dari baling-baling kapal fregat itu.
- Kapal Tiongkok tampak membayangi pelaksanaan uji coba rudal India pada tahun 2024.
- Pasukan Penjaga Pantai Taiwan menahan kapal kargo yang diawaki warga negara Tiongkok pada Februari 2025 dan menuduh kapal itu sengaja memutus kabel internet bawah laut.
Selain itu, berbagai laporan menunjukkan upaya terkoordinasi Tiongkok untuk memetakan dasar laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia.
Proyek NPOL-DSTG itu berada dalam kerangka pengembangan kekuatan kelembagaan yang lebih luas. Berdasarkan Kemitraan Strategis Komprehensif Australia dan India, latihan seperti AUSINDEX semakin menekankan pelacakan antikapal selam, sementara itu perjanjian baru tentang data pengapalan, pertukaran intelijen, dan kerja sama pencarian dan penyelamatan kapal selam telah memformalkan kolaborasi bawah laut angkatan laut kedua negara. India juga telah mengoperasikan Pusat Fusi Informasi-Kawasan Samudra Hindianya di Gurugram, yang menghubungkan data pelacakan secara langsung dengan markas besar maritim Australia, dan angkatan udara kedua negara itu kini menggunakan pangkalan di Kepulauan Cocos Keeling serta Kepulauan Andaman dan Nikobar untuk memperluas jalur patroli antikapal selam jarak jauh, demikian menurut Lowy Institute Australia.
Kerja sama itu meluas ke format minilateral lainnya, kerangka kerja yang berada di antara ikatan bilateral dan badan multilateral besar seperti ASEAN. Quad, yang juga mencakup A.S. dan Jepang, berfungsi sebagai wahana utama untuk menyatukan sensor berbasis ruang angkasa, patroli udara, dan pelacakan dasar laut menjadi gambaran maritim bersama, sementara itu Latihan Malabar melatih peperangan antikapal selam di antara para mitra.
Keamanan kabel bawah laut telah menjadi prioritas paralel. Dialog Kabel Australia-India berfokus pada pemetaan kerentanan di seluruh jaringan serat optik bawah laut di seluruh kawasan ini, infrastruktur yang membawa sebagian besar data dan transaksi keuangan dunia. Para pejabat di kedua negara telah membahas rute alternatif melalui pemasok regional tepercaya untuk mengurangi ketergantungan pada berbagai titik keluar masuk rawan seperti Selat Malaka.
— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —
Gabung dengan bahasan ini
Bagaimana negara Anda dapat memperoleh manfaat dari bergabung dengan Sekutu dan Mitra untuk meningkatkan kesadaran ranah bawah laut?
Kemitraan NPOL-DSTG itu diperkuat oleh kekuatan pelengkap dari masing-masing pihak. “Kesatuan upaya ini menjembatani kesenjangan di antara inovasi teknologi canggih dan penerapan di dunia nyata, sehingga menciptakan kekuatan gabungan yang meningkatkan keamanan maritim regional dengan lebih baik daripada yang dapat dicapai oleh masing-masing negara secara sendiri-sendiri,” ungkap Anil Bhat. Australia memberikan kontribusi berupa penelitian sinyal akustik tingkat lanjut dan pengembangan algoritma melalui berbagai lembaga seperti Geoscience Australia, sementara itu India memasok kapasitas industri yang terus berkembang dan kehadiran operasional berkelanjutan di berbagai penjuru Samudra Hindia, termasuk armada survei hidrografi kelas Sandhayak dan pesawat patroli P-8I, yang memetakan profil termal dan salinitas di Teluk Benggala dan Samudra Hindia Utara. Australia memfokuskan upaya pemetaannya pada palung laut dalam di Samudra Selatan, Laut Timor, dan Pasifik Barat Daya.
Anil Bhat mengatakan logika strategisnya tidak hanya sekadar mendeteksi ancaman. “Dengan adanya sensor yang memantau perairan itu, kapal perang lawan tidak lagi dapat mengandalkan unsur kejutan,” ungkapnya. Pemantauan terus-menerus meningkatkan biaya aktivitas bawah laut agresif bahkan sebelum konfrontasi terjadi.
Mandeep Singh merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari New Delhi, India.



