Usulan anggaran pertahanan Jepang menyerukan lebih banyak drone, AI, dan rudal
The Associated Press
Jepang berencana menggabungkan drone, kecerdasan buatan (AI), dan teknologi lainnya yang sedang berkembang saat negara itu menyesuaikan strategi pertahanannya, demikian menurut permintaan anggaran tahunan sebesar 987,4 triliun rupiah (55,6 miliar dolar A.S.).
Jumlah sementara yang diumumkan oleh Kementerian Pertahanan Jepang pada Agustus 2026 itu diperkirakan akan meningkat setelah pemerintah menyetujui strategi keamanan untuk memperkuat kapabilitas serangan balasan Jepang.
Jepang telah melipatgandakan anggaran pertahanannya menjadi sekitar 2% dari produk domestik bruto berdasarkan strategi lima tahun yang diadopsi pada tahun 2022. Negara itu tengah membangun peran Pasukan Bela Dirinya untuk melawan semakin meningkatnya keangkuhan Tiongkok.
Tokyo bertujuan untuk “memperkuat secara drastis kapabilitas penangkalan dan responsnya” dengan beradaptasi terhadap jenis peperangan baru seperti yang terlihat dalam pengerahan drone oleh Ukraina, demikian ungkap Kementerian Pertahanan.
Kementerian Pertahanan mengatakan upaya itu membutuhkan pengembangan di dalam negeri dan produksi massal senjata nirawak berbiaya rendah untuk mengendalikan pengeluaran, meminimalkan korban jiwa, dan membangun jaringan pertahanan udara yang lebih hemat biaya. Negara itu berencana menggunakan drone secara terkoordinasi dengan rudal jarak jauh sebagai opsi serangan balasan, termasuk sistem nirawak yang diluncurkan dari bawah air.
Jepang telah memperkuat kawasan barat dayanya melalui penempatan sistem pencegat dan rudal berjangkauan lebih jauh. Untuk lebih memperkuat kapabilitas serangan balasan, Kementerian Pertahanan berupaya mengembangkan rudal hipersonik yang diluncurkan dari kapal selam.
Kementerian itu juga berencana untuk memperkenalkan platform AI terintegrasi dalam komando dan kontrol untuk meningkatkan kecepatan dan akurasi dalam pengambilan keputusan, termasuk menilai medan pertempuran dan memilih target.
Jepang tengah mempertimbangkan untuk menggunakan teknologi AI asing yang sudah ada, termasuk dari sekutu lamanya, Amerika Serikat, sembari juga mengembangkan dan memperkuat AI yang dikembangkan di dalam negeri, demikian ungkap para pejabat.
Kementerian Pertahanan ingin mengembangkan platform “orkestrator AI” guna mengintegrasikan berbagai sistem. Selain itu, pihaknya juga berencana membangun sistem komputasi cloud untuk transmisi data sensitif dan jaringan komunikasi yang stabil dalam keadaan darurat.
Permintaan anggaran itu mencakup pendanaan untuk mendukung restrukturisasi atau penelitian dan pengembangan terkait pertahanan yang dilakukan berbagai perusahaan untuk memperkuat produksi dan efisiensi.



