Asia TenggaraIndo-Pasifik yang Bebas dan Terbuka / FOIP

TNI Angkatan Laut dan industri pertahanan Indonesia mengembangkan dan mengerahkan wahana bawah air nirawak

0 0 votes
Article Rating

Staf FORUM

TNI AL akan bekerja sama dengan industri pertahanan dalam negeri untuk merancang wahana bawah air nirawak (uncrewed underwater vehicle – UUV) guna mengatasi tantangan pengawasan dan keamanan maritim di wilayah kepulauan yang sangat luas ini.

Laksamana Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Laut, mengatakan UUV mampu bernavigasi di selat dan titik keluar masuk rawan sempit dan strategis di Indonesia, seperti jalur yang menghubungkan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. UUV juga dapat beroperasi pada kedalaman yang sangat bervariasi.

Kepulauan Indonesia mencakup selat-selat penting dan titik keluar masuk rawan maritim yang strategis.

Jarak jelajah drone itu akan memungkinkannya mendeteksi pergerakan kapal asing dan memprediksi upaya masuk ilegal ke dalam perairan Indonesia, demikian ungkap Muhammad Ali pada September 2026 saat mengumumkan kerja sama di antara TNI Angkatan Laut dan industri. UUV juga dapat mengumpulkan informasi untuk membantu memetakan berbagai fitur bawah laut yang di antaranya mencakup arus, pasang surut, terumbu karang, dan bangkai kapal.

“Teknologi bawah air berkembang dengan pesat,” ungkap Muhammad Ali. “TNI AL terus mengkaji cara memanfaatkan drone bawah air untuk mendukung operasi pengawasan dan pengintaian di wilayah maritim kami.”

Detail oseanografi yang diperbarui secara berkelanjutan diperlukan untuk memaksimalkan efektivitas kapal selam dan kapal permukaan, demikian ungkap Alman Helvas Ali, analis pertahanan dari Marapi Consulting di Jakarta. Para pejabat harus memahami karakteristik bawah laut untuk mengelola pertahanan maritim, demikian ungkapnya dalam rilis berita.

Rencana Indonesia selaras dengan inisiatif Sekutu dan Mitra untuk memaksimalkan teknologi pertahanan maritim. Australia, India, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat termasuk di antara negara-negara Indo-Pasifik yang bekerja sama dengan industri pertahanan untuk mengembangkan UUV.

Wahana bawah air nirawak Speartooth, yang dikembangkan Australia, dipamerkan di Canberra pada akhir tahun 2025. DEPARTEMEN PERTAHANAN AUSTRALIA

“Kapal nirawak merupakan garda depan yang menentukan bagi pasar angkatan laut masa depan di seluruh dunia,” ungkap Joo Won-ho, presiden HD Hyundai Heavy Industries Korea Selatan, demikian yang dilaporkan surat kabar Korea JoongAng Daily pada April 2026.

Pasar UUV global diprediksi akan meningkat hampir 500% paling lambat pada tahun 2035, demikian menurut Market Research Future, perusahaan konsultasi bisnis yang berkantor pusat di New York. Drone maritim biasanya berbiaya lebih rendah dibandingkan kapal konvensional berawak dan meminimalkan risiko bagi operator.

Angkatan Laut India tengah mengembangkan berbagai UUV, mulai dari Neerakshi, wahana otonom berukuran kecil untuk deteksi ranjau, pelatihan peperangan antikapal selam, inspeksi bawah air, pencarian dan penyelamatan, serta eksplorasi ilmiah, hingga kapal berukuran sangat besar yang mampu menyerang kapal permukaan dan kapal selam musuh, melakukan pengintaian, serta menebar dan menghancurkan ranjau.

— KISAH BERLANJUT DI BAWAH —

Gabung dengan bahasan ini

Bagaimana negara Anda bekerja sama dengan industri dalam negeri untuk meningkatkan kemampuan penangkalan maritim?

HD Hyundai dan perusahaan pertahanan A.S., Anduril, mengembangkan sistem UUV secara bersama-sama, demikian yang dilaporkan Korea JoongAng Daily.

Pasukan Bela Diri Maritim Jepang telah mengembangkan UUV untuk keperluan pemantauan dan keamanan yang dapat diluncurkan serta diambil kembali oleh kapal selam, demikian yang dilaporkan The Defense Post, publikasi yang berbasis di A.S., pada Januari 2026.

Angkatan Laut Australia tengah mengembangkan dan mengerahkan sistem otonom maritim dengan beragam kapabilitas, termasuk Ghost Shark, UUV berukuran sangat besar yang mampu menjalankan misi jarak jauh dan berdurasi panjang, dan Speartooth, UUV berukuran besar.

Dalam kerangka kemitraan keamanan trilateral AUKUS, Australia juga bekerja sama dengan Britania Raya dan A.S. untuk mengembangkan modul atau muatan pada kendaraan bawah laut yang bisa diganti-ganti sesuai misi serta sistem pendukung bagi UUV. Teknologi itu memungkinkan aset nirawak untuk melakukan serangan, melindungi infrastruktur dasar laut seperti kabel komunikasi, serta mengumpulkan data pengawasan, pengintaian, dan logistik, demikian yang diumumkan kemitraan itu pada pertengahan tahun 2026.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted

Artikel Terkait

Back to top button
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x