‘Pertambangan kota‘ di Korea Selatan menghemat bahan baterai langka

‘Pertambangan kota‘ di Korea Selatan menghemat bahan baterai langka

Para pekerja di pabrik pedesaan Korea Selatan di Gunsan sibuk mengekstraksi beberapa logam yang paling didambakan di dunia, yang digunakan dalam baterai yang menggerakkan mobil listrik. Akan tetapi mereka tidak menggali tanah atau mengolah bijih. Sebaliknya, mereka memilah-milah tumpukan baterai ion litium dari ponsel dan laptop bekas.

Ketika perburuan agresif Tiongkok terhadap kobalt dan litium di luar negeri untuk kendaraan listrik mendorong kenaikan harga dan menyebabkan kekurangan global pada logam-logam utama itu, Korea Selatan semakin beralih ke “pertambangan perkotaan” semacam itu untuk mendapatkan kembali kobalt, litium, dan logam langka lainnya dari limbah elektronik.

Pada tahun 2016, tahun terkini yang tersedia datanya, logam senilai 19,6 triliun won (18,38 miliar dolar A.S.) diekstrak dari bahan daur ulang, memenuhi sekitar 22 persen dari total permintaan logam di negara itu, demikian menurut laporan dari Korea Institute of Industrial Technology.

Kelangkaannya tidak akan mereda dalam waktu dekat, ketika Tiongkok, pengguna logam terbesar dunia, menyambar sumber daya mineral di negara-negara seperti Republik Demokratik Kongo dan Cile. Park Jai-koo, ahli pertambangan perkotaan di Hanyang University di Seoul, mengatakan bahwa daur ulang limbah elektronik dapat membantu mengurangi tingginya harga dan membatasi ketergantungan logam langka pada sumber luar. “Korea Selatan perlu mendapatkan sumber daya, tetapi kebanyakan sumber daya itu diimpor,” ungkap Park. “Pertambangan perkotaan lebih cenderung menjadi metode terbaik.”  Reuters

saham