Membeli Kekuatan

Membeli Kekuatan

Berbagai negara harus mempertimbangkan integritas proses pembelian ketika membeli peralatan dan teknologi militer asing

Staf FORUM

Bagi banyak militer di Indo-Pasifik, modernisasi pasukan melibatkan beberapa tingkat pembelian peralatan militer asing, dan Amerika Serikat telah melihat melambungnya permintaan untuk membeli teknologi dan alutsistanya.

Dalam hal jumlah total transfer persenjataan di seluruh dunia, Amerika Serikat, Rusia, Prancis, Jerman, dan Tiongkok berada dalam peringkat 5 teratas — sesuai dengan urutan — di antara tahun 2014 dan 2018, demikian menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI). Bersama-sama, mereka menyumbang 75% dari total volume ekspor persenjataan selama periode itu. Dari jumlah tersebut, lebih dari sepertiga, atau sekitar 36%, ekspor berasal dari A.S. 

“Amerika Serikat berkomitmen untuk memperkuat sekutu dan mitra di seluruh dunia guna memenuhi kebutuhan pertahanan diri sah mereka sendiri dan untuk meningkatkan kemampuan mereka guna beroperasi di samping pasukan A.S. dalam mengatasi tantangan keamanan bersama,” demikian menurut pernyataan pada Mei 2019 yang diterbitkan oleh Biro Urusan Politik-Militer Departemen Luar Negeri A.S., yang mengawasi sebagian besar transfer persenjataan pemerintah-ke-pemerintah dan pemberian lisensi ekspor komersial untuk peralatan dan teknologi pertahanan asal A.S.

Panglima Angkatan Darat Thailand Jenderal Apirat Kongsompong, kiri, dan Laksamana Angkatan Laut A.S. Philip S. Davidson, komandan Komando Indo-Pasifik A.S., menyambut pesawat terbang C-17 Globemaster yang mengirimkan kendaraan Stryker pada Agustus 2019 di Bandara Militer Don Mueang di Bangkok.

Penjualan persenjataan dan perdagangan pertahanan adalah alat bantu utama dalam kebijakan luar negeri dan memiliki potensi implikasi jangka panjang bagi keamanan regional. Itulah sebabnya Departemen Pertahanan (Department of Defense – DOD) A.S. mempertimbangkan kondisi politik, militer, ekonomi, kontrol persenjataan, dan hak asasi manusia ketika membuat keputusan untuk menyediakan peralatan dan teknologi militer ke negara mana pun, demikian ungkap DOD. 

Amerika Serikat menandatangani kontrak penjualan persenjataan senilai 879,57 triliun rupiah (55,6 miliar dolar A.S.) dengan sekutu pada tahun fiskal 2018, kenaikan sebesar 33% dari tahun 2017 ketika Presiden Donald Trump memberi lampu hijau untuk menjual lebih banyak, lebih cepat, di luar negeri. Pada akhir tiga kuartal pertama tahun fiskal 2019, kontrak penjualan persenjataan asing A.S. telah mencapai 697,64 triliun rupiah (44,1 miliar dolar A.S.).

Laporan SIPRI mencatat bahwa kesenjangan di antara dua pemasok persenjataan terbesar dunia juga semakin besar. Ekspor persenjataan A.S. 75% lebih tinggi dari Rusia di antara tahun 2014 dan 2018, sementara ekspor persenjataan itu hanya 12% lebih tinggi selama periode empat tahun sebelumnya, demikian menurut SIPRI.

“A.S. semakin memperkuat posisinya sebagai pemasok persenjataan terkemuka di dunia,” ungkap Dr. Aude Fleurant, direktur Program Pembelanjaan Persenjataan dan Militer SIPRI, mencatat bahwa pengiriman A.S. sering kali terdiri dari persenjataan canggih seperti pesawat tempur, rudal jelajah jarak pendek, dan rudal balistik serta bom pandu.

Panglima Angkatan Darat Thailand Jenderal Apirat Kongsompong memeriksa salah satu kendaraan tempur Stryker setelah kendaraan itu tiba.

Meskipun Tiongkok berada dalam urutan 5 teratas, tingkat persentase ekspor persenjataannya telah menurun secara drastis dalam beberapa tahun terakhir ini, demikian menurut data SIPRI. Antara tahun 2004 dan 2008, ekspor persenjataan Tiongkok naik sebesar 195%. Untuk periode tahun 2014 hingga 2018, ekspor Tiongkok hanya naik 2,7%.

Penjualan militer asing (foreign military sales – FMS) merupakan sistem yang kompleks, demikian ungkap Mayor Jenderal Jeffrey W. Drushal, komandan jenderal Komando Bantuan Keamanan Angkatan Darat A.S. (U.S. Army Security Assistance Command – USASAC), yang membahas topik tersebut selama Simposium dan Pameran Land Forces of the Pacific (LANPAC) di Honolulu, Hawaii, pada Mei 2019. A.S. bekerja sama dengan mitranya selangkah demi selangkah untuk menghasilkan penawaran yang tepat untuk jenis layanan yang tepat, dan USASAC mengeksekusi sekitar 95% FMS Angkatan Darat A.S.

Itu semua berarti mempertahankan integritas proses, yang menjadikan A.S. sebagai mitra yang diinginkan.

“Saat Anda membeli dari Amerika Serikat, Anda tidak akan mendapatkan helikopter yang akan diparkir di hanggar segera setelah helikopter itu rusak. Anda akan mendapatkan paket lengkap,” ungkap Drushal selama LANPAC. “Itu mencakup suku cadang. Itu mencakup publikasi. Itu mencakup pelatihan pemeliharaan. Itu mencakup pelatihan tentang cara menggunakan produk jadi yang Anda beli. Semua hal ini digabungkan menjadi satu dan disertakan dalam paket lengkap yang dipertimbangkan oleh negara itu.”

USASAC membantu mengklarifikasi proses FMS dengan daftar periksa surat permintaan untuk membantu calon pembeli menyempurnakan detail peralatan yang mereka butuhkan dan tujuannya. Permintaan harus:

  • Mengidentifikasi sumber pendanaan. 
  • Mengidentifikasi dinas militer dalam negeri mana (angkatan darat, angkatan laut, atau angkatan udara) yang mengajukan permintaan.
  • Mengidentifikasi jenis peralatan atau layanan yang diminta.

Detail tambahan tentang tujuan penggunaan peralatan atau durasi yang diinginkan dan lokasi layanan juga harus diserahkan.

Drushal mengakui bahwa umpan balik No. 1 yang diterima USASAC adalah bahwa proses FMS-nya terlalu lambat.

“Jangka waktu pembuatan kontrak membutuhkan waktu yang sangat lama,” ujarnya. “Salah satu keuntungan menggunakan FMS A.S. adalah integritas proses kontrak kami.” Negara mitra sering kali bertanya apakah ada cara untuk mempercepat proses pembelian, demikian ujarnya. “Butuh waktu sedikit lebih lama, tetapi berakhir dengan hasil yang tepat, dan hasilnya tidak dapat dipertanyakan dan kebal terhadap korupsi.”

Meningkatnya ketegangan di Indo-Pasifik — termasuk ketegangan di Laut Cina Selatan dan semakin meningkatnya dorongan Republik Rakyat Tiongkok untuk mendapatkan pengaruh di Pasifik dan di tempat lain — besar kemungkinan akan mendorong peningkatan berkelanjutan FMS oleh A.S. kepada mitra Indo-Pasifiknya.

“Pembelian pesawat terbang dan pertahanan udara dari kawasan Asia Timur dan Pasifik didorong oleh meningkatnya ketegangan di Laut Cina Selatan serta kebutuhan untuk merekapitalisasi peralatan militer yang sudah tua,” demikian menurut majalah Military Embedded Systems. “Di Timur Dekat dan Asia Selatan, ada permintaan umum untuk pasukan udara dan darat yang lebih mutakhir, keinginan besar untuk membeli peralatan buatan A.S.”

Perusahaan penelitian pasar Frost & Sullivan meramalkan bahwa pasar FMS DOD akan tumbuh pada tingkat tahunan gabungan sekitar 3,4 persen di antara tahun 2015 dan 2021 dengan produk yang paling banyak diminta dan dikirim adalah persenjataan pertahanan udara berbasis darat, pesawat tempur, layanan pelatihan, dan kendaraan taktis. 

Untuk mengakomodasi permintaan tersebut, USASAC memiliki manajer program negara yang ditugaskan untuk setiap negara sekutu. Setelah daftar periksa itu diselesaikan, kebutuhan tindakan spesifik dapat dipenuhi untuk mentransfer teknologi. Perwakilan USASAC bekerja mengatasi hambatan bahasa, prosedur, dan kebutuhan pelatihan, yang oleh Drushal disebut sebagai bagian dasar operabilitas. 

Drushal mengetahui bahwa iklim geopolitik akan memacu lebih banyak permintaan, dan timnya siap untuk terus membantu negara-negara mitra membangun kemampuan baru. “Permintaan akan produk pertahanan A.S. tidak akan turun,” ungkap Drushal di LANPAC. “Permintaan akan terus meningkat.”

saham