Australia dan Selandia Baru bermitra dalam membentuk ‘gelembung perjalanan’ COVID-19

Australia dan Selandia Baru bermitra dalam membentuk ‘gelembung perjalanan’ COVID-19

Staf FORUM

Usulan zona perjalanan aman COVID-19 di antara Australia dan Selandia Baru dapat mempercepat pemulihan ekonomi pasca-pandemi dan pada akhirnya mencakup kepulauan Pasifik lainnya, demikian yang diumumkan pemimpin kedua negara baru-baru ini.

Australia dan Selandia Baru, yang dipisahkan sejauh 2.000 kilometer oleh Laut Tasman, merupakan mitra dagang utama dalam barang dan jasa. Sekitar seperlima ekspor jasa Selandia Baru ditujukan ke Australia, dengan hampir sepertiga impor jasanya melintasi Laut Tasman dalam arah yang berlawanan, demikian menurut Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru.

Perjanjian perdagangan bebas kedua negara juga memungkinkan penduduk gabungan kedua negara yang jumlahnya sekitar 30 juta jiwa untuk bergerak bebas di antara kedua negara untuk keperluan pariwisata, pekerjaan, dan tempat tinggal.

“Zona perjalanan aman COVID lintas Laut Tasman akan saling menguntungkan, membantu pemulihan ekonomi dan perdagangan kita, membantu menghidupkan sektor pariwisata dan transportasi, meningkatkan kontak olahraga, dan menyatukan kembali keluarga dan teman,” ungkap Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern dan Perdana Menteri Australia Scott Morrison dalam pernyataan bersama pada 5 Mei 2020.

Kedua negara yang bertetangga itu telah dipuji karena menanggapi dengan cepat wabah virus korona baru dengan memberlakukan langkah-langkah penutupan akses menyeluruh (lockdown) yang sekarang ini dianggap telah mengurangi penyebaran virus mematikan itu di negara mereka. Per minggu pertama Mei 2020, Australia telah melaporkan sekitar 100 kematian akibat COVID-19 dan Selandia Baru sekitar 20 kematian. Kedua negara melanjutkan rencana pelonggaran pembatasan secara bertahap. 

Akan tetapi, Morrison dan Ardern mengingatkan bahwa prakarsa yang disebut sebagai “gelembung perjalanan” itu akan dilaksanakan dengan mengutamakan keselamatan.  

“Tidak ada negara yang ingin melihat virus korona bangkit kembali, jadi sangat penting untuk memastikan keselamatan di setiap zona perjalanan tersebut,” ungkap pernyataan mereka. “Melonggarkan pembatasan perjalanan pada waktu yang tepat jelas akan menguntungkan kedua negara dan menunjukkan mengapa mengatasi virus korona sejak dini merupakan strategi terbaik bagi pemulihan ekonomi.”

(Foto: Perdana Menteri Australia Scott Morrison membahas usulan zona perjalanan aman COVID lintas Laut Tasman di antara negaranya dan Selandia Baru.)

Pengumuman itu muncul sehari setelah Ardern bergabung dalam pertemuan Kabinet Nasional Australia melalui konferensi video untuk membahas proposal tersebut. Dia merupakan perdana menteri Selandia Baru pertama yang bergabung dalam pertemuan Kabinet Australia sejak Perang Dunia II.

Sejak awal pandemi, warga Selandia Baru dan Australia diizinkan untuk melakukan perjalanan melintasi negara satu sama lain dalam perjalanan pulang ke tanah air mereka.

“Hubungan kami adalah hubungan keluarga — dan pengaturan perjalanan kami yang unik berarti kami memiliki awal yang baik ketika saatnya untuk membuat perjalanan lintas Laut Tasman mengalir lagi,” ungkap pernyataan kedua perdana menteri itu.

Perjalanan melintasi Laut Tasman — yang dikenal secara lokal sebagai “the Ditch (Parit)” — mengikat kedua negara itu. Pada tahun 2019, sekitar 1,2 juta warga Selandia Baru mengunjungi Australia dan 1,6 juta warga Australia mengunjungi Selandia Baru, demikian ungkap Ardern dalam konferensi pers pada 5 Mei 2020.

“Sebagian dari alasan adanya begitu banyak perjalanan semacam itu adalah karena hubungan keluarga dan persahabatan, tentu saja, membentang melintasi Laut Tasman,” ungkapnya. “Ada sekitar 75.000 warga Australia di Selandia Baru, dan lebih dari setengah juta warga Selandia Baru di Australia.” 

Secara global, krisis virus korona telah mengganggu rantai pasokan dan menghancurkan industri pariwisata. Di Australia, virus korona telah menghancurkan perekonomian di sektor pariwisata dan pengunjung negara itu yang nilainya mencapai 1,49 kuadriliun rupiah (100 miliar dolar A.S.), demikian ungkap Simon Westaway, direktur eksekutif Dewan Industri Pariwisata Australia, dalam sebuah pernyataan pada April 2020. 

Ardern dan Morrison mengatakan bahwa pemerintah mereka akan mulai mengembangkan “protokol kesehatan, transportasi, dan lainnya” untuk zona lintas Laut Tasman bersama dengan para pemangku kepentingan, termasuk para pemimpin bisnis. 

“Begitu kami telah menetapkan pengaturan perjalanan yang efektif melintasi Laut Tasman, kami juga akan menjajaki peluang untuk memperluas konsep tersebut ke anggota keluarga Pasifik kami yang lebih luas, sehingga memungkinkan perjalanan di antara Australia, Selandia Baru, dan negara-negara kepulauan Pasifik,” ungkap kedua perdana menteri itu.

saham