Asia TenggaraAsia Timur LautKonflik / Ketegangan

Aktivitas agresif dan penangkapan ikan ilegal RRT terus mendapatkan pengawasan ketat

Staf FORUM

Meningkatnya penindasan yang dilakukan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Laut Cina Selatan terjadi ketika Amerika Serikat, Sekutu, dan Mitranya melanjutkan investasi selama lima tahun untuk membantu keamanan maritim di kawasan itu dan responsnya terhadap penangkapan ikan ilegal, ancaman kedaulatan, dan tantangan lainnya.

Kemitraan Kuadrilateral (Quad) yang terdiri dari Australia, India, Jepang, dan A.S. mengumumkan upaya multilateral itu pada Mei 2022. Kemitraan Indo-Pasifik untuk Kesadaran Ranah Maritim (Indo-Pacific Partnership for Maritime Domain Awareness – IPMDA) menyediakan teknologi dan pelatihan untuk “mendukung dan bekerja melalui konsultasi dengan negara-negara Indo-Pasifik dan pusat fusi informasi regional di Samudra Hindia, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik … untuk meningkatkan stabilitas dan kemakmuran di laut dan samudra kita,” ungkap mitra Quad.

Untuk melawan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diregulasi (illegal, unreported and unregulated – IUU), Quad akan menyediakan data pelacakan kapal yang tersedia secara komersial kepada berbagai negara dan memperluas sistem untuk membagikan informasi tentang kapal penangkap ikan di kawasan itu. Negara-negara pesisir yang melalukan patroli dalam zona ekonomi eksklusif (ZEE) maritimnya yang luas khususnya akan mendapatkan manfaat dari IPMDA, demikian yang dilaporkan Lowy Institute, wadah pemikir yang berkantor pusat di Australia, pada Agustus 2023.

Sejak pengumuman Quad itu, RRT telah meningkatkan taktik intimidasinya, termasuk mengganggu kapal-kapal Filipina yang memasok ulang perbekalan kepada prajurit yang ditempatkan di Second Thomas Shoal, yang juga dikenal sebagai Ayungin Shoal, di Laut Cina Selatan yang disengketakan. Kapal pasukan penjaga pantai Tiongkok melakukan berbagai insiden gangguan yang di antaranya mencakup mengarahkan laser kelas militer ke kapal Pasukan Penjaga Pantai Filipina, menembakkan meriam air ke kapal pasokan Filipina, dan menabrakkan kapalnya pada kapal Pasukan Penjaga Pantai Filipina.

Hukum internasional memberikan hak eksklusif kepada negara pesisir atas penggunaan dan manfaat sumber daya alam, termasuk perikanan, dalam ZEE mereka, yang membentang sepanjang 200 mil laut dari garis pantai. Penangkapan ikan IUU melanggar hak kedaulatan tersebut serta mengancam ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi secara global. Kapal berbendera Tiongkok merupakan pelaku utama penangkapan ikan IUU, demikian menurut laporan dari Poseidon Aquatic Resource Management dan Inisiatif Global melawan Kejahatan Terorganisir Transnasional (Global Initiative Against Transnational Organized Crime).

Aktivitas terlarang ini mengandalkan para pekerja yang rentan dan masyarakat kurang beruntung yang sering kali terpikat untuk bekerja di atas kapal berdasarkan perjanjian kerja sah yang bersifat menipu dan terjebak selama bertahun-tahun dalam kondisi ketika penganiayaan, kurangnya perawatan medis, dan malnutrisi memperburuk profesi yang sudah berbahaya ini.

Anggota Kongres A.S. baru-baru ini menyoroti penangkapan ikan IUU, dengan mengutip laporan dari Administrasi Samudra dan Atmosfer Nasional (National Oceanic and Atmospheric Administration – NOAA) tahun 2023 berjudul “Improving International Fisheries Management (Meningkatkan Manajemen Perikanan Internasional).”

Dalam suratnya yang disampaikan kepada Administrator NOAA Richard W. Spinrad pada bulan Oktober, anggota Komite Khusus tentang Partai Komunis Tiongkok Dewan Perwakilan Rakyat A.S. mencatat “keengganan RRT untuk mengambil tindakan korektif meskipun telah terjadi pelanggaran yang merajalela selama bertahun-tahun serta penghindaran terhadap langkah-langkah konservasi dan manajemen internasional.”

Anggota komite itu menyerukan kepada badan federal A.S. itu agar “mempertimbangkan dengan serius upaya penerapan pembatasan perdagangan terhadap RRT untuk produk makanan laut tertentu yang tercemar oleh kerja paksa” jika Beijing gagal mengambil tindakan.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button