Ancaman Ruang Angkasa

Tajuk Utama

Analisis kemampuan, perkembangan, dan kebijakan kontra-ruang angkasa

Todd Harrison, Kaitlyn Johnson, Letkol. Joe Moye, dan Makena Young/Center for Strategic and International Studies

Tahun 2020 ternyata menjadi tahun penuh ketidakpastian dan tidak dapat diprediksi yang didorong oleh pandemi COVID-19, resesi global yang menyertainya, dan perubahan politik di Amerika Serikat serta tempat lainnya di Indo-Pasifik. Namun, bagi keamanan ruang angkasa, tahun 2020 terutama merupakan tahun penuh kontinuitas dan prediktabilitas. Perubahan yang paling signifikan di lingkungan ruang angkasa adalah penambahan sekitar 900 satelit SpaceX Starlink ke orbit Bumi rendah (LEO), yang membawa ukuran konstelasi total menjadi lebih dari 1.200. Ini adalah konstelasi satelit terbesar dalam sejarah, dan sudah membentuk sekitar sepertiga dari semua satelit yang beroperasi di ruang angkasa. SpaceX terus membangun konstelasinya, dengan peluncuran 60 satelit Starlink setiap beberapa minggu sekali. 

Beberapa perkembangan penting dalam kebijakan ruang angkasa A.S. juga terjadi selama pemerintahan A.S. sebelumnya, di bawah Presiden Donald Trump, yang mengeluarkan tiga arahan kebijakan ruang angkasa (SPD) baru. SPD-5 mengarahkan departemen dan lembaga pemerintah untuk mengembangkan kebijakan dan praktik keamanan siber guna meningkatkan perlindungan aset ruang angkasa pemerintah dan komersial dari serangan siber. SPD-6 memperbarui kebijakan nasional untuk pengembangan dan penggunaan tenaga nuklir ruang angkasa dan propulsi, dan SPD-7 memperbarui kebijakan dan panduan untuk program serta kegiatan pemosisian, navigasi, dan penentuan waktu berbasis ruang angkasa. NASA juga memperkenalkan Artemis Accords pada tahun 2020, yang mencakup 10 prinsip yang harus dipatuhi oleh negara-negara untuk menjadi bagian dari program Artemis, sebuah rencana untuk mengirim astronot kembali ke bulan dan, pada akhirnya, mengirim mereka ke Mars. Pada pertengahan 2021, 12 negara telah menandatangani kesepakatan tersebut, termasuk negara Indo-Pasifik Australia, Jepang, Selandia Baru, Korea Selatan, dan A.S. 

Berdirinya Pasukan Ruang Angkasa A.S. dan Komando Ruang Angkasa A.S. berlanjut sepanjang tahun 2020 dan 2021. Pasukan Ruang Angkasa A.S. mengajukan permintaan anggaran pertamanya, sebesar 220,5 triliun rupiah (15,4 miliar dolar A.S.), termasuk 219,1 triliun rupiah (15,3 miliar dolar A.S.) yang ditransfer dari rekening Angkatan Udara A.S. yang ada. Pasukan Ruang Angkasa juga menerbitkan dokumen tertinggi pertamanya, “Spacepower Doctrine for Space Forces,” yang lebih terkenal akan kontinuitasnya dengan kebijakan dan doktrin saat ini daripada segala perubahan yang signifikan. Jenderal Angkatan Darat A.S. James Dickinson, komandan Komando Ruang Angkasa A.S., menerbitkan visi strategisnya pada Februari 2021 untuk mengembangkan pola pikir pertempuran di seluruh komando, menjaga hubungan utama dengan sekutu dan mitra, serta meningkatkan integrasi di seluruh pemerintahan A.S. dan dengan organisasi ruang angkasa komersial. 

Sepanjang tahun 2020, negara-negara lain melanjutkan pengembangan dan pengujian senjata kontra-ruang angkasa. Terutama, Rusia melakukan beberapa pengujian antisatelit (ASAT), termasuk senjata co-orbital ASAT pada Juli 2020 dan senjata direct-ascent ASAT pada Desember 2020. Kegiatan ini mencerminkan pola perilaku yang mana Rusia terus mengembangkan dan menyusun kembali kemampuan kontra-ruang angkasanya.

Sementara Tiongkok, India, Korea Utara, dan Rusia mencapai kemajuan paling publik dalam senjata kontra-ruang angkasa, negara-negara lain sedang mengembangkan kemampuan kontra-ruang angkasa. Jepang terus memajukan operasi ruang angkasa sipil dan militernya. Sebelum disahkannya Undang-Undang Ruang Angkasa Dasar, Jepang melarang penggunaan ruang angkasa untuk pertahanan nasional. Undang-undang tahun 2008 mengizinkan negara itu untuk memulai pengembangan militer di ruang angkasa, dan pejabat pemerintah sedang berbicara tentang pengembangan kemampuan kontra-ruang angkasa defensif, terutama sebagai tanggapan terhadap tindakan oleh Tiongkok di ruang angkasa, seperti pengujian ASAT 2007 yang menghasilkan puing. 

Pada tahun 2020, Jepang mengesahkan rancangan undang-undang untuk mendirikan Unit Misi Ranah Ruang Angkasa yang diusulkannya di bawah Pasukan Bela Diri Udara Jepang yang akan beroperasi pada tahun 2023, dengan rencana peluncuran satelit pertama untuk memantau lingkungan ruang angkasa pada tahun 2026. Jepang membentuk Skuadron Operasi Ruang Angkasa pada tahun 2020 sebagai unit misi ranah ruang angkasa pertama dengan misi resmi untuk melindungi satelit Jepang dari kerusakan, termasuk serangan bersenjata, dan untuk memantau lingkungan ruang angkasa, termasuk puing ruang angkasa, asteroid, dan satelit lainnya. Skuadron Operasi Ruang Angkasa akan bekerja sama dengan Komando Ruang Angkasa A.S. dan badan sipil Jepang, Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang. “Kegiatan luar angkasa keamanan Jepang berlandaskan kerja sama dengan Amerika Serikat,” kata Yasuhito Fukushima, peneliti senior di Institut Nasional Jepang untuk Studi Pertahanan.  

Jepang belum mempertunjukkan sistem direct-ascent ASAT apa pun, meski memiliki pencegat pertahanan rudal SM-3 buatan A.S. dengan kemampuan laten untuk menyerang aset ruang angkasa di LEO. Karena perkembangan militer di ruang angkasa relatif baru bagi negara itu, sebagian besar komentar publik adalah tentang kemungkinan mengupayakan kemampuan seperti teknologi jamming dan co-orbital ASAT. Pada tahun 2020, Perdana Menteri saat itu Shinzo Abe menyatakan bahwa Jepang akan “meningkatkan kemampuan dan sistem secara drastis untuk mengamankan keunggulan,” meski tidak ada program spesifik yang diumumkan. 

Di Korea Selatan, pemerintah dalam sebuah blog pada Oktober 2020 membahas perlunya memperkuat navigasi satelit dengan sistem terestrial untuk memerangi jamming dan spoofing. Negara itu menyebutkan masalah dengan spoofing dari Korea Utara, khususnya dari 2010-16, sebagai kekuatan pendorong untuk meningkatkan GPS dengan sistem terestrial. Kementerian Sains Korea Selatan juga merilis pernyataan yang memperinci rencana untuk meningkatkan kemampuan ruang angkasa, termasuk meluncurkan roket buatan lokal pertama untuk membawa satelit dan probe pengorbit ke bulan, dengan tujuan demi roket yang lebih hebat per tahun 2029. 

Penerbang Angkatan Udara A.S. yang bertransisi ke Penjaga Pasukan Ruang Angkasa A.S. mengambil sumpah di Pangkalan Angkatan Udara Travis di California. THE ASSOCIATED PRESS

PROGRAM RUANG ANGKASA TIONGKOK

Pengembangan atau pengujian senjata kontra-ruang angkasa minimal diidentifikasi dalam informasi sumber terbuka selama tahun 2020. Namun, Tiongkok memiliki program direct-ascent ASAT yang kuat, kemampuan penggunaan ganda di orbit yang diperlukan untuk senjata co-orbital ASAT dan kemampuan kontra-ruang angkasa elektronik dan siber yang banyak digunakan. 

Kendati adanya pandemi, tahun 2020 menyaksikan pencapaian Tiongkok dalam misi ruang angkasa sipil. Misi bulan Chang’e-5 membawa pulang 2 kilogram bebatuan pada Desember 2020. Wahana penjelajah Yutu-2 masih beroperasi di sisi jauh bulan pada pertengahan tahun 2021 dan telah melakukan perjalanan lebih dari 600 meter di atas permukaan bulan. Tiongkok juga meluncurkan bagian inti stasiun ruang angkasa nasionalnya pada Juni 2021. 

ORGANISASI RUANG ANGKASA MILITER TIONGKOK 

Organisasi aset dan misi ruang angkasa dalam Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) masih belum jelas. Banyak misi ruang angkasa, seperti peluncuran ruang angkasa dan akuisisi serta operasi satelit, tetap berada di bawah Pasukan Dukungan Strategis (SSF). Sering disajikan sebagai “ranah informasi,” SSF mempertahankan upaya PLA untuk perang siber, elektronik, dan psikologis, serta ruang angkasa. Departemen Sistem Ruang Angkasa dan Sistem Jaringan (cabang semi-independen yang setara di dalam SSF) berbagi misi bersama, termasuk kemampuan kontra-ruang angkasa. Sebuah laporan Center for the Study of Chinese Military Affairs mencatat bahwa “prinsip penting lain yang tampaknya telah memengaruhi desain SSF adalah keharusan abadi Maois akan integrasi masa damai-masa perang.” Prinsip ini sangat cocok untuk sifat penggunaan ganda dari banyak kemampuan ruang angkasa dan kontra-ruang angkasa. 

Kemampuan ruang angkasa sipil Tiongkok, seperti wahana penjelajah Mars, dipimpin oleh Administrasi Ruang Angkasa Nasional Tiongkok, yang berada dalam lingkup Administrasi Negara untuk Sains, Teknologi, dan Industri untuk Pertahanan Nasional dari Dewan Kenegaraan RRT. China Aerospace Science and Technology Corp. dan China Aerospace Science and Industry Corp. adalah dua contoh dari banyak lengan penelitian dan pengembangan dari pemerintah Tiongkok yang mengkhususkan diri dalam teknologi ruang angkasa.

Gambar grafis komputer yang disediakan oleh Badan Eksplorasi Ruang Angkasa Jepang ini menunjukkan sebuah asteroid dan penjelajah asteroid Hayabusa2. THE ASSOCIATED PRESS

SENJATA KONTRA-RUANG ANGKASA TIONGKOK 

Tiongkok terus menguji sistem direct-ascent ASAT SC-19 operasionalnya, meski telah menunjukkan bahwa kemampuan direct-ascent ASAT-nya dapat mengancam satelit mana pun di LEO dan kemungkinan di orbit Bumi medium dan orbit ekutor geosinkron (GEO) juga. 

Universitas Tianjin telah mengembangkan sebuah robot untuk mendukung misi penyingkiran puing ruang angkasa. Lengan robot seperti tentakel ini akan ditempatkan di satelit dan diluncurkan ke orbit untuk mencengkeram puing dan membersihkannya dari orbit populer. Lengan robot itu dapat, dalam teori, digunakan untuk mencengkeram satelit musuh, meski mungkin akan membutuhkan Rendezvous Proximity Operation (RPO) yang sangat dekat yang tidak akan efektif dengan puing atau satelit mati yang jatuh tidak terkendali di ruang angkasa.

Beberapa analis telah membuat klaim pengembangan besar-besaran dalam stasiun laser berbasis darat Tiongkok, termasuk identifikasi dugaan lima lokasi program tersebut di Tiongkok. Sementara beberapa program yang diidentifikasi tampaknya bersifat akademis dan, oleh karena itu, kemungkinan bukan sistem ASAT, satu lokasi yang menjadi keprihatinan utama adalah pangkalan militer yang dikenal melakukan pengujian ASAT fisik kinetik yang mungkin juga menjadi rumah bagi sistem senjata laser. Tidak ada indikasi seberapa mutakhir atau “siap untuk dimobilisasi” sistem energi terarah seperti itu, dan belum ada informasi yang tersedia untuk umum tentang potensi pengujian atau serangan terhadap sistem ruang angkasa. 

Pada akhir Oktober 2020, surat kabar India Hindustan Times menuduh Tiongkok memindahkan jammer seluler dalam jarak 60 kilometer dari Garis Kontrol Aktual di Ladakh, bagian dari wilayah Kashmir yang disengketakan antara India, Pakistan, dan Tiongkok, untuk menyembunyikan gerakan PLA di daerah tersebut. 

Belum ada serangan siber yang diakui publik dari Tiongkok terhadap sistem ruang angkasa A.S. atau negara lain. Namun, Tiongkok telah berhasil membuktikan kemampuan ini dan terus aktif dengan serangan siber di ranah lain terhadap target terkait keuangan atau pertahanan.

KEMAMPUAN RUANG ANGKASA MILITER RUSIA

Pandemi COVID-19 memperlambat sebagian besar industri di sejumlah besar negara yang disebutkan dalam laporan ini, tetapi kemampuan ruang angkasa militer Rusia tetap stabil. Pada tahun 2020, Rusia menguji berbagai kemampuan kontra-ruang angkasa, melakukan RPO kompleks, dan memperluas infrastruktur militernya yang berbasis ruang angkasa. Kemampuan peluncuran ruang angkasa yang konsisten, kemajuan berkelanjutan dari kemampuan kontra-ruang angkasa, dan kontribusi ruang angkasa sipil melalui Stasiun Ruang Angkasa Internasional negara itu telah mempertahankan status Rusia sebagai kekuatan ruang angkasa utama, dan kehebatannya di ranah ruang angkasa telah menjalin hubungan unik dengan negara-negara asing yang terkadang menjadi saingan di ranah lain. 

Kegiatan ruang angkasa Rusia yang disponsori negara berada di bawah Pasukan Ruang Angkasa Rusia (RAF) atau program Roscosmos sipil. Dalam militer Rusia, kemampuan ruang angkasa berada di bawah RAF. Subbagian dari RAF adalah Pasukan Ruang Angkasa Rusia, yang dibentuk pada tahun 1992 sebagai pasukan luar angkasa pertama di dunia dan bertanggung jawab untuk memantau semua aset berbasis ruang angkasa, peluncuran militer, dan ancaman potensial terhadap sistem ruang angkasa. 

Pada tahun 2020, Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui dokumen yang memberinya kuasa untuk menggunakan senjata nuklir dalam menanggapi serangan konvensional yang menargetkan infrastruktur pemerintah dan militer penting negara itu. Selain mempertahankan diri dari senjata konvensional, senjata berbasis ruang angkasa disebut sebagai ancaman dalam dokumen itu, yang juga menyerukan potensi pengerahan senjata pertahanan rudal dan serangan ofensif di ruang angkasa sebagai ancaman bagi Rusia. Persetujuan dokumen ini menandakan bahwa Rusia percaya bahwa senjata ruang angkasa menuju Bumi dapat menimbulkan ancaman yang sama besarnya dengan senjata nuklir dan akan memicu respons yang sama dari negara itu. 

Para astronot memberikan hormat sebelum naik pesawat ruang angkasa Shenzhou-12 Tiongkok dengan roket pembawa Long March-2F di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan di Tiongkok pada Juni 2021. AFP/GETTY IMAGES

SENJATA KONTRA-RUANG ANGKASA RUSIA 

Rusia telah memiliki kemampuan kontra-ruang angkasa fisik kinetik sejak pengujian co-orbital ASAT pertama Uni Soviet pada tahun 1960-an. Teknologi yang digunakan dalam program era Soviet terbukti menjadi blok pembangun yang solid bagi perkembangan Rusia belakangan ini, dan negara itu telah berulang kali menampilkan kemampuan direct-ascent dan co-orbital ASAT — dan menguji keduanya pada tahun 2020. 

Menanggapi uji coba pada Juli 2020 di mana Cosmos 2543 Rusia menembakkan proyektil kecil di dekat satelit Rusia yang tidak terkait, Komando Ruang Angkasa A.S. mengutuk pengujian tersebut dan menegaskan bahwa proyektil semacam itu dapat digunakan untuk menargetkan satelit. Sebagai tanggapan, Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa satelit matryoshka, atau nesting, ini dikerahkan untuk inspeksi rutin dan pengawasan terhadap aset ruang angkasa Rusia lainnya. Kremlin terus menegaskan bahwa Rusia selalu dan tetap merupakan negara yang berkomitmen untuk sepenuhnya mendemiliterisasi luar angkasa. 

Rusia terus mengembangkan sistem pertahanan udara dan rudalnya. Meski tidak secara resmi ditetapkan sebagai senjata ASAT, sistem rudal permukaan menuju udara (SAM) seri S-400 dan S-500 kemungkinan dapat mencapai satelit di LEO. Sumber militer Rusia mengklaim bahwa S-500 dirancang untuk menyerang objek di ruang angkasa dan mempertahankan dari senjata berbasis ruang angkasa. Kepala Angkatan Udara dan Ruang Angkasa Rusia mengatakan bahwa S-500 mampu menghancurkan senjata hipersonik dan satelit di ruang angkasa dekat. Kelas rudal itu dapat digunakan sebagai senjata kontra-ruang angkasa, demikian menurut wakil kepala tentara SAM RAF, Yuri Muravkin. “Batas-batas antara udara dan ruang angkasa sedang, dan akan, dihapus karena musuh aerial secara bertahap menjadi musuh ruang angkasa,” ungkapnya. 

Rusia juga terus menumbuhkan kemampuan kontra-ruang angkasa elektroniknya dan mengembangkan sistem berbasis darat seluler untuk mengganggu satelit asing. Kemampuan elektroniknya telah meningkat dengan laju stabil sejak awal tahun 2000-an dan dipercepat pada tahun 2009 dengan berdirinya pasukan perang elektronik dalam militer Rusia. Perkembangan terbaru dalam senjata kontra-ruang angkasa elektronik termasuk Tirada-2, sistem jamming seluler “untuk penekanan komunikasi ruang angkasa,” dan Bylina-MM, sistem seluler berbasis darat yang berfokus pada jamming saluran komunikasi satelit. Bylina telah dilaporkan sebagai “serangkaian stasiun otomatis seluler berbasis darat” dan sistem perintah dan kendali seluler dengan kecerdasan buatan. Ini termasuk sistem otomatis yang dapat mengenali aset dan menentukan cara menyerangnya, dan dapat digunakan terhadap berbagai target berbasis darat, udara, dan ruang angkasa. Rusia juga dilaporkan memiliki dua jammer, Krasukha-2 dan Krasukha-4, yang mungkin mampu mengganggu satelit pengintai radar. 

UPAYA RUANG ANGKASA KOREA UTARA

Upaya kontra-ruang angkasa Korea Utara ditaklukkan pada tahun 2020. Kecil kemungkinannya bahwa Korea Utara mampu atau aktif mengupayakan senjata direct-ascent atau co-orbital ASAT, dan nyaris tidak ada indikasi bahwa negara tersebut telah memajukan kemampuan fisik nonkinetiknya, meski beberapa sumber bersikeras bahwa ancaman pulsa elektromagnetik Korea Utara tetap ada. Korea Utara telah menunjukkan kemampuan melakukan perang elektronik melalui kemampuan jamming, dan ancaman serangan sibernya aktif dan viabel. Kedua kemampuan ini memiliki potensi terbesar untuk aplikasi kontra-ruang angkasa. Klaim bahwa Korea Utara dan Iran telah melanjutkan kerja sama dalam teknologi rudal dan kendaraan peluncur menunjukkan kemajuan oleh satu negara mungkin dapat ditransfer ke negara lain. 

Korea Utara terus mengklaim niat damai di ruang angkasa, meski laporan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa melabeli program ruang angkasa rezim itu sebagai ancaman terhadap perdamaian internasional. Pada Mei 2020, televisi negara Korea Utara menayangkan segmen tentang Administrasi Pengembangan Ruang Angkasa Nasional untuk mempromosikan program ruang angkasa negara itu. Layanan propaganda Pyongyang, Naenara, menyatakan bahwa tujuan program ruang angkasa Korea Utara adalah untuk “mematuhi kepentingan negara dan menggunakan sains dan teknologi untuk memecahkan masalah sains dan teknologi yang sangat penting bagi pembangunan ekonomi dan kehidupan masyarakat.” Namun, seperti dalam kasus Iran, banyak diduga bahwa niat ruang angkasa Korea Utara terkait erat dengan aspirasi rudal balistiknya. 

Rezim ini mempertahankan dua area peluncuran mapan untuk kemampuan ruang angkasa: Landasan Peluncuran Satelit Tonghae dan Landasan Peluncuran Satelit Sohae. Tidak ada informasi sumber terbuka yang muncul pada tahun 2020 mengenai penggunaan situs Tonghae. Situs web 38 North mempublikasikan citra dan analisis yang melaporkan pemeliharaan normal, pembersihan salju, dan aktivitas rutin, tetapi tidak menunjukkan persiapan atau pelaksanaan peluncuran pada tahun 2020. Korea Utara juga memiliki Gedung Kontrol Satelit Umum (GSCB) yang dimaksudkan untuk melacak dan memantau peluncuran satelitnya sendiri dan satelit yang mengorbit. Laporan menunjukkan pembangunan berkelanjutan dari apa yang diyakini sebagai fasilitas pengujian ilmiah di samping GSCB, meski tujuan tepatnya tidak jelas. 

Korea Utara juga tampaknya tidak mengupayakan senjata co-orbital ASAT. Hingga saat ini, Korea Utara belum menunjukkan sarana dan keahlian untuk melakukan RPO atau langkah-langkah panduan aktif yang diperlukan untuk kemampuan co-orbital ASAT yang viabel. Dengan hanya segelintir objek Korea Utara yang saat ini berada di ruang angkasa, dan minimnya aktivitas di dua fasilitas peluncurannya, kecil kemungkinannya bahwa Korea Utara secara aktif mengupayakan kemampuan direct-ascent atau co-orbital ASAT. 

Dalam hal operasi perang elektronik, Korea Utara terus menggunakan kemampuan downlink jamming. Pada April 2020, Korea Utara mengumumkan bahwa pihaknya bersiap untuk mengerahkan “perangkat jamming GPS” baru untuk digunakan melawan Korea Selatan. Ada beberapa laporan pada tahun 2020 bahwa Korea Utara terus melakukan operasi jamming di sepanjang Semenanjung Korea. Banyak laporan sumber terbuka menyoroti jamming yang berfokus pada frekuensi siaran radio komersial dan sinyal GPS sipil alih-alih target militer. Angkatan Darat A.S. menerbitkan manual baru berjudul “Taktik Korea Utara” pada Juli 2020 yang menjabarkan organisasi, kemampuan, teknik, dan taktik perang elektronik Korea Utara. 

Ancaman terbesar kontra-ruang angkasa Korea Utara terhadap A.S. tetaplah serangan siber, demikian menurut para pejabat A.S. Taktik Korea Utara mengecam Unit Panduan Perang Siber rezim itu, yang dikenal sebagai Biro 121. Manual Angkatan Darat A.S. itu menggambarkan Biro 121 terdiri dari 6.000 lebih anggota, dan banyak yang beroperasi di negara seperti Belarusia, Tiongkok, India, Malaysia, dan Rusia. 

Menteri Luar Negeri A.S. saat itu, Mike Pompeo, pada Desember 2020 mengatakan bahwa Korea Utara menimbulkan ancaman yang lebih besar terhadap keamanan siber A.S. daripada Rusia. Pemerintahan Presiden A.S. Joe Biden pun sepakat dengan sentimen ini pada Februari 2021. Kegiatan siber jahat Korea Utara yang mengancam A.S. dan sekutunya membantu menginformasikan peninjauan kebijakan A.S., kata juru bicara Departemen Luar Negeri A.S. Ned Price.

PERTUMBUHAN INDIA

Sejak peluncuran satelit pertamanya pada tahun 1980, India telah menunjukkan pertumbuhan progresif dalam kemampuan luar angkasanya. Dengan pengujian ASAT yang sukses pada tahun 2019, India menjadi negara keempat yang menunjukkan kemampuan kontra-ruang angkasa kinetik. India juga memajukan program ruang angkasa sipilnya, yang sedang mengerjakan misi ketiganya ke bulan. 

Aktivitas ruang angkasa India terbagi menjadi organisasi ruang angkasa sipil dan militer. Semua pengembangan ruang angkasa sipil berada di bawah Organisasi Penelitian Ruang Angkasa India, yang beroperasi di bawah Departemen Ruang Angkasa. Badan ini merayakan peluncuran ke-51 pada November 2020, satu-satunya peluncuran pada tahun 2020, akibat pandemi. Peluncuran orbit pertama India pada tahun 2021 adalah 28 Februari, ketika 19 satelit dikirim ke orbit, termasuk satelit observasi Bumi untuk Brasil. 

Pada tahun 2019, India membentuk Organisasi Penelitian Ruang Angkasa Pertahanan (DSRO), yang bertanggung jawab atas penelitian dan pengembangan sistem ruang angkasa keamanan nasional dan beroperasi di bawah Badan Ruang Angkasa Pertahanan di Kementerian Pertahanan. Lembaga-lembaga baru ini merupakan bagian dari tujuan India untuk memajukan operasi ruang angkasa strategis. DSRO ditugaskan untuk mengembangkan sistem dan teknologi perang ruang angkasa. Banyak kemampuan kontra-ruang angkasa India dikembangkan untuk menanggapi ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh Tiongkok dan Pakistan. 

India juga telah bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menyediakan data kesadaran ranah ruang angkasa untuk “mendeteksi, mengidentifikasi, dan melacak aset musuh.” Badan Ruang Angkasa Pertahanan itu berharap sistem ini, setelah dikembangkan, dapat memainkan peran defensif dan ofensif. 

YANG HARUS DIPERHATIKAN

Sementara Tiongkok terus mencapai kemajuan dalam mengembangkan senjata kontra-ruang angkasa, fokusnya tampaknya beralih untuk mengintegrasikan kemampuan ini dalam pasukan dan rencana operasionalnya. Persoalan utama yang harus diperhatikan adalah keseluruhan investasi Tiongkok dalam penelitian dan pengembangan terkait ruang angkasa dan kemampuan ruang angkasa penggunaan ganda, seperti robot tentakel pembersih puing ruang angkasanya. Dari perspektif operasional, perkembangan utama yang harus dilacak adalah kemajuan yang dicapai Tiongkok dalam mengintegrasikan kemampuan kontra-ruang angkasa elektroniknya, seperti jamming dan spoofing, dalam taktik dan pasukan perangnya yang tidak beraturan. Dari segi norma perilaku di ruang angkasa, indikator utama yang harus diperhatikan adalah satelit penyelidik GEO Shijan-17 (SJ-17) Tiongkok. Meskipun SJ-17 sejauh ini tampaknya telah berfokus untuk menginspeksi satelit Tiongkok lainnya, kemungkinan penggunaannya untuk menyelidiki satelit negara lain di GEO akan menandai pergeseran penting yang dapat berdampak lebih luas. 

Rusia barangkali negara yang paling mungkin untuk melakukan pengujian dan pengerahan kontra-ruang angkasa tambahan selama tahun mendatang. Mengingat pengujian senjata direct-ascent dan co-orbital ASAT pada tahun 2020, persoalan utama yang harus diperhatikan adalah apakah pengujian ini berlanjut dan apakah ada kemampuan baru yang dipertunjukkan. Bidang lain yang harus diperhatikan dengan Rusia termasuk pengujian sistem ASAT laser pada platform berbasis darat dan udara tambahan, sistem perang elektronik untuk perlindungan platform penting, dan serangan siber yang makin berani terhadap infrastruktur sipil dan lembaga pemerintah. 

Baik Iran maupun Korea Utara masih memiliki kemampuan ruang angkasa yang relatif belum matang, tetapi kemampuan kontra-ruang angkasa elektronik dan siber mereka menimbulkan ancaman serius. Selama tahun mendatang, Iran kemungkinan akan melanjutkan kegiatan peluncuran ruang angkasanya di bawah Korps Pengawal Revolusioner Islam, dan Korea Utara mungkin ingin memulai kembali pengujian kemampuan peluncuran ruang angkasanya setelah setahun relatif dorman. Perkembangan utama yang harus diperhatikan adalah segala indikasi tambahan bahwa Iran dan Korea Utara bekerja sama dalam teknologi rudal balistik atau ruang angkasa. Persoalan tambahan yang harus diperhatikan termasuk terus adanya spoofing GPS Iran di Teluk Persia dan jamming GPS Korea Utara ke Korea Selatan. Peningkatan frekuensi dan kecanggihan serangan siber oleh salah satu negara di ranah lain juga dapat menunjukkan tingkat ancaman siber yang lebih tinggi terhadap sistem ruang angkasa. 

India tampaknya kemungkinan akan melanjutkan pengembangan laser bertenaga tinggi dan kemampuan ASAT nonkinetik lainnya. Indikator utama bagi India di luar angkasa termasuk bagaimana lembaga militer serta penelitian dan pengembangan ruang angkasa yang baru terus berkembang, tingkat pendanaan yang diberikan untuk kegiatan ruang angkasa dan kontra-ruang angkasa, dan tanda-tanda bahwa India sedang mengadaptasi atau menguji sistem perang elektroniknya untuk digunakan terhadap sistem ruang angkasa. 

Secara keseluruhan, tahun 2020 adalah tahun yang lambat untuk kegiatan kontra-ruang angkasa, dengan beberapa pengecualian penting. Itu mungkin berubah saat negara-negara bangkit dari karantina wilayah dan kembali ke rencana dan program mereka sebelumnya. Seiring pemerintahan Presiden Biden mengembangkan dan menyempurnakan keseluruhan strategi keamanan nasionalnya, salah satu bidang utama yang harus diperhatikan adalah bagaimana mereka menangani masalah kebijakan ruang angkasa secara umum dan proliferasi senjata kontra-ruang angkasa. Seruan di A.S. dan tempat lainnya akan norma perilaku yang ditetapkan secara lebih jelas di ruang angkasa makin berkembang. Indikasi awal bahwa pemerintahan Presiden Biden bermaksud mencapai kemajuan menuju pembentukan norma ruang angkasa adalah kesepakatan antara Departemen Pertahanan A.S. dan komunitas intelijen yang mana pemerintah A.S. bersedia mendukung dan mengikuti norma-norma tersebut. Tanpa kesepakatan antarlembaga dalam pemerintah A.S., akan sulit untuk memulai percakapan yang bermakna dengan pemerintah lain.  

Center for Strategic and International Studies Aerospace Security Project menerbitkan laporan ini, yang berjudul “Space Threat Assessment 2021,” pada April 2021. Laporan tersebut telah diedit agar sesuai dengan format FORUM. Untuk mengakses laporan lengkap, kunjungi https://www.csis.org/analysis/space-threat-assessment-2021.


Jenis-Jenis Senjata Kontra-Ruang Angkasa

Ruang angkasa merupakan pendaya guna kekuatan ekonomi dan militer yang makin penting. Kepentingan strategis ruang angkasa telah menyebabkan beberapa negara membangun gudang senjata kontra-ruang angkasa untuk mengganggu, mendegradasi, atau menghancurkan sistem ruang angkasa dan mengancam kemampuan negara lain untuk menggunakan ranah ruang angkasa. Namun, pentingnya ruang angkasa juga memicu upaya untuk mencegah atau mengurangi konflik dan melindungi ranah tersebut untuk penggunaan damai. Misalnya, publikasi dokumen tertinggi Pasukan Ruang Angkasa A.S. tentang kekuatan ruang angkasa mencatat bahwa “pasukan ruang angkasa militer harus melakukan segala upaya untuk memajukan norma perilaku bertanggung jawab yang mempertahankan ruang angkasa sebagai lingkungan yang aman dan terbuka” sesuai dengan undang-undang internasional dan kebijakan nasional. 

Senjata kontra-ruang angkasa, terutama yang menghasilkan puing orbit, menimbulkan risiko serius terhadap lingkungan ruang angkasa dan kemampuan semua negara dalam menggunakan ranah ruang angkasa demi kemakmuran dan keamanan. Senjata kontra-ruang angkasa sangat bervariasi dalam hal dampaknya, cara pengerahannya, dan tingkat teknologi serta sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan dan menerapkannya. Senjata kontra-ruang angkasa menurut kemampuannya dapat dikategorikan menjadi empat kelompok besar: fisik kinetik, fisik nonkinetik, elektronik, dan siber.

FISIK KINETIK

Senjata kontra-ruang angkasa fisik kinetik berupaya untuk menyerang langsung atau meledakkan hulu ledak di dekat satelit atau stasiun darat. Tiga bentuk utama serangan fisik kinetik adalah senjata direct-ascent anti-satellite (ASAT), senjata co-orbital ASAT, dan serangan stasiun darat. Senjata direct-ascent ASAT diluncurkan dari Bumi pada lintasan suborbital untuk menyerang satelit di orbit, sementara senjata co-orbital ASAT ditempatkan ke dalam orbit dan bermanuver ke dalam atau dekat targetnya. Serangan ke stasiun darat ditargetkan di situs terestrial yang bertanggung jawab atas perintah dan kendali satelit atau relai data misi satelit kepada pengguna. 

Serangan fisik kinetik di ruang angkasa akan menghasilkan puing orbit, yang tanpa pandang bulu dapat memengaruhi satelit lain di orbit yang serupa. Jenis serangan ini adalah salah satu dari satu-satunya tindakan kontra-ruang angkasa yang membawa potensi hilangnya nyawa jika ditargetkan pada stasiun darat berawak atau pada satelit di orbit yang terdapat kehadiran manusia, seperti Stasiun Ruang Angkasa Internasional di orbit Bumi rendah. Tidak ada negara yang pernah melakukan serangan fisik kinetik terhadap satelit negara lain, tetapi Tiongkok, India, Rusia, dan Amerika Serikat telah berhasil menguji senjata direct-ascent ASAT.

FISIK NONKINETIK

Senjata kontra-ruang angkasa fisik nonkinetik memengaruhi satelit atau sistem darat tanpa melakukan kontak fisik. Laser dapat secara temporer menyilaukan atau secara permanen membutakan sensor satelit atau menyebabkan komponen terlalu panas. Senjata gelombang mikro bertenaga tinggi (HPM) dapat mengganggu elektronik satelit atau menyebabkan kerusakan permanen pada sirkuit listrik dan prosesornya. Perangkat nuklir yang diledakkan di ruang angkasa dapat menciptakan lingkungan radiasi tinggi dan pulsa elektromagnetik (EMP) yang akan memiliki efek tanpa pandang bulu pada satelit di orbit yang terdampak. 

Satelit dapat ditargetkan dengan laser dan senjata HPM dari situs berbasis darat atau kapal, platform udara, atau satelit lainnya. Sistem lasing satelit membutuhkan kualitas sinar tinggi, optik adaptif (jika digunakan melalui atmosfer), dan kontrol penunjuk mutakhir untuk mengarahkan sinar laser secara tepat — teknologi yang mahal dan membutuhkan tingkat kecanggihan tinggi. Senjata HPM dapat digunakan untuk mengganggu elektronik satelit, merusak data yang tersimpan, menyebabkan prosesor restart dan, pada tingkat tenaga yang lebih tinggi, menyebabkan kerusakan permanen pada sirkuit listrik dan prosesor. 

Peledakan nuklir di ruang angkasa akan segera memengaruhi satelit dalam jangkauan EMP-nya, dan juga akan menciptakan lingkungan radiasi tinggi yang akan mempercepat degradasi komponen satelit dalam jangka panjang untuk satelit tak terlindung dalam rezim orbit yang terdampak. Peledakan senjata nuklir di ruang angkasa dilarang berdasarkan Traktat Larangan Pengujian Parsial 1963, yang memiliki lebih dari 100 penanda tangan, meski Tiongkok dan Korea Utara tidak termasuk di dalamnya.

ELEKTRONIK

Senjata kontra-ruang angkasa elektronik menargetkan spektrum elektromagnetik yang digunakan oleh sistem ruang angkasa untuk mentransmisikan dan menerima data. Perangkat jamming mengganggu komunikasi ke atau dari satelit dengan menghasilkan derau dalam pita frekuensi radio yang sama. Uplink jammer mengganggu sinyal dari Bumi ke satelit, seperti uplink perintah dan kendali. Downlink jammer menargetkan sinyal dari satelit saat menyebar ke pengguna di Bumi. Dalam spoofing, penyerang mengelabui penerima agar percaya sinyal palsu adalah sinyal nyata. Spoofer dapat digunakan untuk menyuntikkan informasi palsu ke dalam aliran data atau mengeluarkan perintah palsu ke satelit untuk mengganggu operasinya. Terminal pengguna dengan antena omnidireksional, seperti banyak penerima GPS dan telepon satelit, memiliki bidang pandang yang lebih luas dan dengan demikian rentan terhadap downlink jamming dan spoofing dari berbagai sudut yang lebih luas di darat. 

Melalui jenis spoofing yang disebut “meaconing,” bahkan sinyal GPS militer yang dienkripsi pun dapat di-spoof. Meaconing tidak memerlukan pemecahan enkripsi GPS karena hanya menyiarkan ulang salinan sinyal asli waktu tertunda tanpa mendekripsi atau mengubah data. Teknologi yang diperlukan untuk melakukan jamming dan spoofing berbagai jenis sinyal satelit tersedia secara komersial dan murah, sehingga relatif mudah untuk berkembang di kalangan aktor negara dan non-negara.

SIBER

Sementara bentuk serangan elektronik berupaya mengganggu transmisi sinyal frekuensi radio, serangan siber menargetkan data itu sendiri dan sistem yang menggunakan, mentransmisikan, dan mengendalikan aliran data. Serangan siber pada satelit dapat digunakan untuk memantau pola lalu lintas data, mencegat data, atau memasukkan data palsu atau rusak dalam sistem. Serangan ini dapat menargetkan stasiun darat, peralatan pengguna akhir, atau satelit itu sendiri. Meski serangan siber membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi tentang sistem sasaran, ini tidak selalu membutuhkan sumber daya yang signifikan untuk dilakukan dan dapat dikontrakkan kepada individu atau kelompok swasta. Bahkan jika aktor negara atau non-negara tidak memiliki kemampuan siber internal, mereka masih dapat menimbulkan ancaman siber. 

Serangan siber pada sistem ruang angkasa dapat mengakibatkan hilangnya data atau layanan yang disediakan oleh satelit, yang dapat memiliki efek sistemik jika digunakan terhadap sistem seperti GPS. Serangan siber dapat memiliki efek permanen jika, misalnya, musuh merebut kontrol satelit melalui sistem komando dan kontrolnya. Penyerang dapat mematikan semua komunikasi dan merusak satelit secara permanen dengan menghabiskan pasokan penggeraknya atau mengeluarkan perintah yang akan merusak elektronik dan sensornya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *