Korea Selatan berupaya mempercepat ‘inovasi pertahanan cerdas’

Korea Selatan berupaya mempercepat ‘inovasi pertahanan cerdas’

Felix Kim

Kemitraan baru di antara Kementerian Pertahanan Nasional dan Kementerian Sains dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Korea Selatan berupaya memajukan teknologi digital untuk memenuhi kebutuhan pertahanan negara itu yang terus berkembang.

Kolaborasi itu terkait dengan prakarsa “Kesepakatan Baru Digital” Seoul yang lebih luas, yang bertujuan untuk mempromosikan pengembangan bisnis dan jaminan kepastian kerja melalui teknologi digital.

“Melalui proyek penelitian dan pengembangan gabungan di masa depan di antara kedua kementerian ini, kami berharap untuk lebih mempercepat inovasi pertahanan cerdas yang terkait dengan Kesepakatan Baru Digital serta berkontribusi pada inovasi pertahanan di masa depan dan terwujudnya ‘Visi Pertahanan 2050,’” ungkap Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook, ditampilkan dalam foto, saat kedua kementerian itu menandatangani nota kesepahaman pada pertengahan Agustus 2021.

Visi Pertahanan 2050 berupaya untuk memperkuat kemampuan operasional dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI) dan robot tempur, demikian menurut JoongAng Ilbo Institute for Military and Security Affairs Korea Selatan.

Kedua kementerian itu telah berkomitmen untuk meningkatkan penelitian dan pengembangan teknologi informasi dan komunikasi pertahanan serta mempromosikan bakat digital militer, demikian menurut memorandum kedua kementerian itu. Untuk melakukannya, kedua kementerian itu membentuk kelompok pendukung untuk bekerja sama dengan organisasi berbasis teknologi pemerintah dan sektor swasta dalam mengembangkan peta jalan teknologi dan strategi promosi penelitian dan pengembangan, serta penemuan dan perencanaan bisnis baru, manajemen pelaksanaan bisnis, dan bantuan proyek demonstrasi.

Sistem tak berawak, seperti drone dan robot, pertahanan siber, dan modernisasi sistem ilmiah dan peringatan merupakan beberapa bidang yang menjadi prioritas pengembangan, demikian menurut rilis berita Kementerian Pertahanan Korea Selatan. Perjanjian itu juga mencakup pendidikan khusus bagi perwira dan bintara militer untuk memperoleh keterampilan dalam perangkat lunak dan AI pada akhir tahun 2021.

Fokus keseluruhannya adalah pada teknologi yang sangat diminati oleh sektor swasta dan pertahanan, seperti teknologi yang mendorong transisi dari bahan bakar fosil ke listrik untuk menggerakkan kendaraan dan mesin.

“Kami akan memperkuat kerja sama di antara kedua kementerian sehingga teknologi digital baru tidak hanya akan meningkatkan kekuatan militer tetapi juga membantu pengembangan industri swasta,” ungkap Menteri Sains dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Korea Selatan Lim Hye-sook.

Begitu pihaknya mendemonstrasikan pembuktian konsep untuk elektrifikasi, misalnya, Kementerian Pertahanan Korea Selatan akan membagikan hasil penelitian ke seluruh cabang militer Korea Selatan. Strategi serupa diharapkan dapat digunakan untuk pemutakhiran infrastruktur militer, seperti jaringan komunikasi kabel dan nirkabel, serta pusat data.

“Struktur siklus yang efektif” akan digunakan untuk menyalurkan inovasi semacam itu dari aplikasi pertahanan ke sipil, demikian menurut Kementerian Pertahanan Korea Selatan.

“Kesepakatan bisnis ini akan semakin memantapkan sistem kerja sama di antara kedua kementerian yang telah dipromosikan selama ini dan tidak hanya akan menerapkan dengan cepat teknologi Revolusi Industri Keempat seperti AI ke militer, tetapi juga mempromosikan demonstrasi dan penyebaran teknologi sipil,” demikian ungkap Suh Wook. “Kesepakatan ini akan menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi yang signifikan.”

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.

 

FOTO DIAMBIL DARI: THE ASSOCIATED PRESS

saham