Intrusi RRT di dekat Kepulauan Senkaku berisiko memicu bentrokan dan eskalasi

Intrusi RRT di dekat Kepulauan Senkaku berisiko memicu bentrokan dan eskalasi

Felix Kim

Kapal-kapal berbendera Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah melakukan intrusi secara terus menerus dan melanggar hukum dalam beberapa bulan terakhir ke dalam perairan di sekitar Kepulauan Senkaku Jepang, sehingga memprovokasi keberatan dari Tokyo dan menimbulkan tindakan perlindungan yang dilakukan oleh Pasukan Penjaga Pantai Jepang, demikian menurut Kementerian Pertahanan Jepang.

Intrusi RRT yang semakin berani itu meningkatkan risiko terjadinya konfrontasi dan konflik, dengan potensi memicu tanggapan dari sekutu Jepang, Amerika Serikat, demikian ungkap para ahli.

Kapal-kapal RRT masuk tanpa izin setiap hari, dari pertengahan Februari hingga awal Juni 2021, ke dalam perairan di sekitar Kepulauan Senkaku, demikian ungkap Kementerian Pertahanan Jepang, sehingga meningkatkan frekuensi perilaku agresif RRT selama beberapa tahun terakhir. (Foto: Sebuah kapal pasukan penjaga pantai Tiongkok berlayar di dekat Kepulauan Senkaku pada Agustus 2016). Tiongkok juga mengklaim kepulauan itu, yang sudah lama dikelola Jepang.

“Tiongkok terus melakukan upaya sepihak untuk mengubah status quo di Laut Cina Timur dengan latar belakang kekuasaan,” ungkap Menteri Pertahanan Jepang Nobuo Kishi kepada jurnalis pada 4 Juni 2021. “Kapal-kapal Pasukan Penjaga Pantai Tiongkok yang melakukan aktivitas patroli reguler berulang kali menginvasi perairan teritorial Jepang di sekitar Kepulauan Senkaku meskipun adanya protes dari Jepang.”

Motif Beijing untuk melakukan perambahan berkelanjutan itu melibatkan ambisi teritorial dan kelaparannya akan sumber daya, demikian ungkap Dr. Timothy Heath, seorang peneliti pertahanan internasional senior di Rand Corp., kepada FORUM.

RRT berupaya menegaskan kontrol atas perairan yang disengketakan untuk alasan komersial, sehingga memungkinkan armadanya untuk menangkap ikan dan kapal eksplorasi minyaknya untuk melakukan survei, demikian ungkap Timothy Heath. Selain itu, banyak kapal-kapal itu memiliki hubungan rantai komando dengan Beijing dan berfungsi sebagai milisi maritim, demikian ungkapnya.

Tidak ada negara yang menyatakan ketertarikan pada kepulauan itu sampai sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1969 menyebutkan prospek cadangan minyak di sekitarnya, demikian tulis Nobukatsu Kanehara, mantan asisten kepala sekretaris kabinet Jepang dan profesor tamu di Doshisha University, dalam artikel pada Juli 2021 untuk situs web Japan Forward.

“Secara strategis, perairan dan kepulauan ini menyediakan titik akses di sekitar Taiwan ke Samudra Pasifik yang lebih luas, sehingga merupakan pintu gerbang penting untuk dilintasi khususnya oleh Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army – PLA) untuk memperluas kehadiran mereka dan menegaskan pengaruh mereka di wilayah Samudra Pasifik yang lebih luas,” ungkap Timothy Heath.

Nobuo Kishi mengatakan Pasukan Penjaga Pantai Jepang merupakan pelindung utama Kepulauan Senkaku, mengawasi kapal-kapal RRT yang merambah memasuki wilayah perairan Jepang dan memberikan pengawalan kepada kapal-kapal Jepang. Sementara itu, pesawat terbang patroli Pasukan Bela Diri Maritim Jepang “memantau status” kapal-kapal RRT, demikian ungkapnya.

Mulai 24 Juni 2021, Jepang dan A.S. melakukan latihan Orient Shield 21, yang melibatkan ribuan prajurit yang berpartisipasi dalam latihan taktis dan perencanaan bilateral di beberapa lokasi di Jepang, demikian yang dilaporkan Departemen Pertahanan A.S.

“Sepertinya hal terbaik yang dapat dilakukan A.S. dan Jepang saat ini adalah mencoba menyamai kehadiran Tiongkok, yang telah dilakukan Jepang dengan sebaik mungkin,” ungkap Timothy Heath.

Dia memperkirakan jumlah kapal RRT yang merambah memasuki wilayah perairan di sekitar Kepulauan Senkaku akan bertambah, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya konfrontasi.

“Rasio kapal Tiongkok dan Jepang dapat terus berubah ke arah yang lebih menguntungkan bagi Tiongkok,” ungkap Timothy Heath, “jadi saya kira satu risiko yang terjadi seiring berjalannya waktu adalah bahwa Tiongkok mungkin menjadi lebih berani dan merasa sepertinya, mengingat keunggulan jumlah kapal mereka, mereka dapat mulai mengambil risiko dan menjadi lebih agresif dalam taktik mereka untuk mengusir Pasukan Penjaga Pantai Jepang.”

Washington telah memperingatkan Beijing bahwa tindakan bermusuhan yang dilakukan oleh pasukan penjaga pantai dan milisi maritimnya dapat dianggap melewati ambang batas serangan bersenjata dan oleh karena itu memicu kewajiban aliansi A.S. berdasarkan perjanjian pertahanan timbal baliknya dengan Jepang.

“Untuk saat ini, setidaknya, Jepang menerjunkan kapal dan pesawat terbang Pasukan Penjaga Pantai untuk menandingi Tiongkok jika tidak satu lawan satu, setidaknya di sebagian besar,” pungkas Timothy Heath. “Tindakan itu telah menjadi upaya penangkalan yang sangat efektif untuk kebaikan negara-negara lainnya, untuk negara-negara tetangga Tiongkok.”

 

FOTO DIAMBIL DARI: THE ASSOCIATED PRESS

 

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.

saham