Korea Selatan dan A.S. memperkuat aliansi dengan pakta pembagian biaya

Korea Selatan dan A.S. memperkuat aliansi dengan pakta pembagian biaya

Felix Kim

Para ahli dan pejabat pemerintah menyepakati bahwa perjanjian pembagian biaya baru di antara Korea Selatan dan Amerika Serikat akan memperkuat aliansi pertahanan untuk melawan ancaman yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.

“Washington dan Seoul mencapai kesepakatan tentang pembagian biaya pertahanan selama enam tahun ke depan, termasuk tahun lalu,” ungkap Sheen Seong-ho, analis pertahanan dan profesor studi internasional di Seoul National University, kepada FORUM. “Ini menstabilkan basis fundamental aliansi.”

Dia menambahkan bahwa rasio pembagian beban di antara kedua sekutu itu akan disesuaikan dengan perubahan ukuran anggaran pertahanan Korea Selatan dan menggambarkan perjanjian itu sebagai “upaya praktis dan logis.” Meskipun detailnya belum dirilis, para pejabat yang terlibat mengatakan pakta itu mewakili peningkatan yang berarti dalam kontribusi dari Korea Selatan untuk membantu membayar biaya penempatan pasukan A.S. di Semenanjung Korea.

Kata-kata Sheen menyatakan pandangan yang serupa dengan pernyataan Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook setelah pertemuannya pada 18 Maret 2021 dengan Menteri Luar Negeri A.S. Antony Blinken dan Menteri Pertahanan A.S. Lloyd Austin. “Aliansi Korea Selatan-A.S. akan tumbuh selangkah lebih maju berdasarkan pada sistem kerja sama dan komunikasi strategis yang lebih kuat di antara mereka,” ungkap Suh, demikian menurut Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan. (Foto: Menteri Pertahanan A.S. Lloyd Austin, kiri, dan Menteri Pertahanan Korea Selatan Suh Wook membahas ancaman yang ditimbulkan oleh Republik Rakyat Tiongkok dan Korea Utara selama pertemuan mereka pada Maret 2021 di Seoul.)

Sekitar 28.000 prajurit A.S. ditempatkan di Korea Selatan. Pada tahun 2019, kedua sekutu itu mencapai kesepakatan yang mengharuskan Korea Selatan membayar sekitar 13,35 triliun rupiah (924 juta dolar A.S.) untuk kehadiran A.S. Kesepakatan baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan kontribusi tahunan itu.

Dengan diselesaikannya kesepakatan itu, kedua sekutu dalam beberapa bulan mendatang akan mengalihkan perhatian mereka ke berbagai masalah pertahanan. Masalah itu mencakup pengalihan kendali operasional (operational control – OPCON) masa perang ke Korea Selatan dari Pasukan A.S. di Korea (U.S. Forces Korea – USFK); pertahanan dan penangkalan ancaman yang ditimbulkan oleh Korea Utara; pertahanan perairan Indo-Pasifik; dan kerja sama pertahanan trilateral yang melibatkan Jepang, Korea Selatan, dan A.S., demikian ungkap Sheen.

Dia mengatakan pengalihan OPCON telah diwacanakan sejak awal tahun 2006, tetapi momentumnya meningkat dengan relokasi USFK dari pangkalan Garnisun Yongsannya di Seoul ke Camp Humphreys, sekitar 65 kilometer di selatan ibu kota. Pengalihan itu menggambarkan bahwa militer Korea Selatan mengambil tanggung jawab yang lebih besar untuk pertahanan negara itu, demikian tambahnya.

Menangkal dan mempertahankan diri dari ancaman konvensional dan nuklir yang ditimbulkan oleh Korea Utara membutuhkan kekuatan dan kesiapan militer yang berkelanjutan, demikian ungkap Sheen. Akan tetapi, pencapaian sasaran yang dinyatakan Suh yaitu “perdamaian permanen” di Semenanjung Korea, juga akan membutuhkan keterlibatan dengan Pyongyang “yang ditangani melalui koordinasi yang sangat erat di antara kedua mitra sekutu itu,” demikian ungkap Sheen.

Para pejabat A.S. menekankan bahwa komitmen mereka untuk mempertahankan Korea Selatan bersifat abadi. “Komitmen keamanan Amerika Serikat terhadap Korea Selatan tidak tergoyahkan, konsisten dengan Perjanjian Pertahanan Timbal Balik, dan pasukan A.S. di Korea khususnya diposisikan untuk bertempur malam ini juga jika diperlukan,” ungkap Letnan Kolonel Angkatan Darat Martin Meiners, juru bicara Pentagon, demikian menurut surat kabar The Washington Post.

Kerja sama pertahanan trilateral dengan Jepang akan menjadi topik penting di masa depan, terutama dalam pertahanan rudal, demikian ungkap Sheen. Dia menggambarkan kehadiran USFK di semenanjung itu sebagai “mungkin pilar terpenting dari stabilitas Indo-Pasifik.” Di kawasan yang tidak kekurangan potensi titik rawan konflik, terutama di Laut Cina Timur dan Selatan, stabilitas di Semenanjung Korea sangat penting bagi perdamaian di kawasan yang lebih luas, demikian ungkapnya.

Dengan perekonomiannya yang sangat bergantung pada perdagangan dan sebagai negara pembuat kapal terbesar kedua di dunia, Korea Selatan sangat mendukung kebebasan navigasi, demikian ungkapnya. “Memelihara kebebasan navigasi dan supremasi hukum sangat penting bagi Korea Selatan, tidak hanya bagi keamanan militer tetapi juga keamanan ekonomi,” ungkapnya.

Felix Kim merupakan kontributor FORUM yang memberikan laporan dari Seoul, Korea Selatan.

 

FOTO DIAMBIL DARI: AFP/GETTY IMAGES

saham