Diplomat utama UE mengatakan RRT dan Rusia merongrong tanggapan internasional terhadap Myanmar

Diplomat utama UE mengatakan RRT dan Rusia merongrong tanggapan internasional terhadap Myanmar

Reuters

Diplomat utama Uni Eropa mengatakan pada pertengahan April 2021 bahwa Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan Rusia menghambat kesatuan respons internasional terhadap kudeta militer Myanmar dan bahwa UE dapat menawarkan lebih banyak insentif ekonomi jika demokrasi kembali ke negara itu.

“Tidak mengherankan jika Rusia dan Tiongkok memblokir upaya Dewan Keamanan P.B.B., misalnya untuk memberlakukan embargo senjata,” ungkap kepala urusan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell dalam sebuah postingan blog.

“Persaingan geopolitik di Myanmar akan membuat sangat sulit untuk menemukan titik temu,” ungkap Borrell, yang berbicara atas nama 27 negara anggota UE. “Tapi kami memiliki kewajiban untuk mencobanya.”

Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan lebih dari 700 pengunjuk rasa yang tidak bersenjata, termasuk 46 anak-anak, sejak militer merebut kekuasaan dari pemerintah terpilih yang dipimpin oleh Aung San Suu Kyi dalam kudeta pada 1 Februari 2021, demikian menurut Assistance Association for Political Prisoners. Jumlah korban tewas itu termasuk 82 orang di kota Bago, dekat Yangon, pada 9 April, yang oleh kelompok aktivis itu disebut sebagai “ladang pembunuhan.”

“Dunia menyaksikan dengan penuh kengerian, ketika angkatan darat menggunakan kekerasan terhadap rakyatnya sendiri,” ungkap Borrell.

RRT dan Rusia memiliki hubungan dengan angkatan bersenjata Myanmar, masing-masing sebagai pemasok persenjataan terbesar pertama dan kedua ke negara itu.

Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada awal April menyerukan pembebasan Suu Kyi dan tawanan lainnya yang ditahan oleh militer tetapi memutuskan untuk tidak mengutuk kudeta tersebut.

UE sedang mempersiapkan sanksi baru terhadap individu dan perusahaan yang dimiliki oleh militer Myanmar. Pada bulan Maret, blok itu menyetujui serangkaian sanksi pertama terhadap 11 orang yang terkait dengan kudeta itu, termasuk panglima tertinggi militer.

Meskipun pengaruh ekonominya di negara itu relatif kecil, Borrell mengatakan UE dapat menawarkan untuk meningkatkan hubungan ekonominya dengan Myanmar jika demokrasi dipulihkan. Dia mengatakan bahwa hal itu dapat mencakup lebih banyak perdagangan dan investasi dalam pembangunan berkelanjutan.

Investasi langsung asing UE di Myanmar mencapai 10,17 triliun rupiah (700 juta dolar A.S.) pada tahun 2019, dibandingkan dengan investasi langsung asing RRT yang mencapai 276,1 triliun rupiah (19 miliar dolar A.S.).

Militer mengklaim melakukan kudeta karena terjadi kecurangan dalam pemilihan umum pada November 2020 yang dimenangkan oleh partai Suu Kyi. Komisi pemilihan umum telah menyangkal pernyataan tersebut.

Di Myanmar, kelompok pengunjuk rasa menyerukan pemboikotan terhadap Festival Air Thingyan pada pertengahan April, salah satu perayaan terpenting tahun ini, karena pembunuhan tersebut. (Foto: Para pengunjuk rasa yang membawa pot tanaman untuk Festival Air Thingyan berdemonstrasi menentang kudeta militer Myanmar selama pawai di Yangon pada 13 April 2021.)

Dalam postingan Twitter menjelang Festival Air Thingyan, Kedutaan Besar A.S. di Yangon mengatakan, “kami berduka atas hilangnya nyawa secara tidak berperikemanusiaan di Bago & di berbagai penjuru negara ini ketika pasukan rezim militer dilaporkan menggunakan persenjataan perang untuk melawan warga sipil.”

“Rezim militer memiliki kemampuan untuk menyelesaikan krisis & perlu memulainya dengan mengakhiri kekerasan & serangan.”

 

FOTO DIAMBIL DARI: AFP/GETTY IMAGES

saham