Ekspansi Politik Global PKT

Ekspansi Politik Global PKT

Mengapa Partai Komunis Tiongkok Tidak Bisa Menjadi Pemangku Kepentingan yang Bertanggung Jawab?

Dr. Jinghao Zhou

Sejak pemerintahan Presiden A.S. Richard Nixon membuka babak baru dengan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada tahun 1972, hubungan A.S.-Tiongkok telah bergeser dari hubungan yang bermusuhan menjadi normalisasi dan dari keterlibatan menjadi persaingan strategis yang ketat. Terlepas dari bagaimana hubungan ini didefinisikan saat ini, kenyataannya adalah bahwa hubungan kedua negara telah mencapai titik terendah sejak A.S. menormalisasi hubungannya dengan Tiongkok pada tahun 1979, dan tantangan terbesar bagi A.S. adalah Tiongkok, yang diperintah oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT).

Mengapa hubungan A.S.-Tiongkok kembali lagi ke titik nol? Ada berbagai penjelasan. Beberapa pakar mengatakan bahwa konfrontasi tidak dapat dihindari selama kebangkitan kekuatan dunia baru karena menyusutnya kesenjangan kekuatan nasional di antara kedua negara telah menciptakan kecemasan A.S. terhadap meningkatnya kekuatan RRT. Para pakar lain mengamati bahwa perbedaan ideologis dan politik telah memicu konfrontasi itu dan bahwa persepsi timbal balik yang tidak menguntungkan telah memengaruhi kebijakan luar negeri. Tanpa memedulikan alasan menurunnya hubungan, lebih banyak perhatian harus diberikan pada niat dan kemampuan PKT untuk mendorong Tiongkok menjadi negara adidaya dunia yang utama.

Piring dekoratif yang menampilkan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping terlihat di belakang patung mendiang pemimpin komunis Mao Zedong di toko suvenir di sebelah Lapangan Tiananmen di Beijing pada Februari 2018. Tahun 2018 adalah tahun mesin propaganda Tiongkok bekerja keras untuk membela langkah partai guna mengakhiri pembatasan masa jabatan Xi. AFP/GETTY IMAGES

Kekuatan Tajam Komprehensif

Tiongkok adalah negara berpartai tunggal. Kekuatan PKT adalah kombinasi dari ide, sistem, dan praktik komunis dengan sejarah, tradisi, dan budaya Tiongkok. Dari Karl Marx dan Vladimir Lenin hingga Mao Zedong dan Xi Jinping, sasaran komunis pada dasarnya sama – untuk mendominasi tataran tertinggi komando ekonomi dan mengontrol sarana produksi melalui kediktatoran proletariat yang dipimpin oleh partai.

PKT telah menerapkan sistem sosialis dengan karakteristik Tiongkok untuk menjalankan ide-ide komunis. PKT adalah partai komunis terbesar di dunia dengan 90 juta anggota, ditambah 80 juta anggota Liga Pemuda Komunis. Partai itu merupakan kepemimpinan tunggal negara itu, demikian menurut konstitusi RRT dan konstitusi PKT. PKT mengontrol seluruh negara itu melalui organisasi, ideologi, dan kekuatan koersifnya. PKT memiliki keunggulan asimetris dalam bersaing dengan A.S. karena PKT adalah perusahaan kapitalisme negara terbesar, tetapi telah mengadopsi mekanisme pasar.

PKT memiliki rencana konkret untuk memenuhi sasarannya dalam mencapai “Impian Tiongkok” yang diusulkan oleh Sekretaris Jenderal PKT Xi Jinping pada Kongres Nasional PKT ke-19 pada tahun 2017. Impian tersebut menyerukan untuk mencapai “Dua peringatan 100 tahun” — sasaran material RRT untuk menjadi “masyarakat yang cukup makmur” paling lambat pada tahun 2021 dan sasaran modernisasi RRT untuk menjadi negara maju sepenuhnya paling lambat pada tahun 2049. Prakarsa Buatan Tiongkok 2025 bertujuan untuk menggantikan posisi terdepan A.S. di bidang sains dan teknologi. Bank Investasi Infrastruktur Asia dan bank multilateral regional lainnya yang dipimpin oleh Tiongkok merupakan bagian dari upaya PKT untuk menantang supremasi lembaga keuangan internasional dan bank pembangunan multilateral yang dipimpin A.S. dan Jepang. Skema infrastruktur Satu Sabuk, Satu Jalan (One Belt, One Road – OBOR) RRT berusaha untuk melawan poros atau penyeimbangan kembali A.S. ke Indo-Pasifik. Pembangunan pulau-pulau buatan RRT di Laut Cina Selatan dan pendirian pangkalan militer di Jibuti di Tanduk Afrika dan Tajikistan di Asia Tengah menunjukkan tekad PKT untuk memenuhi Impian Tiongkoknya. Selain pangkalan militer yang baru saja didirikan ini, serta pembiayaan dan pembangunan RRT terhadap pangkalan angkatan laut lainnya, seperti Gwadar di Pakistan, ada spekulasi bahwa upaya mendirikan pangkalan militer di luar negeri mungkin belum selesai.

Kebijakan luar negeri pemerintah Tiongkok adalah dimensi eksternal dari kebijakan dalam negerinya, sehingga bertujuan tidak hanya untuk mempertahankan sistem satu partai tetapi juga untuk menggantikan kekuatan A.S. di kawasan Indo-Pasifik dan pada akhirnya menjadi negara adidaya yang dominan. Sebagai langkah pertama untuk menjadi negara adidaya utama dunia, Xi mengusulkan konsep keamanan Asia barunya pada KTT 2014 di Shanghai, dengan mengatakan bahwa “sudah saatnya rakyat Asia menjalankan urusan Asia, memecahkan masalah Asia, dan menegakkan keamanan Asia.”

Sasaran Xi adalah untuk mengusir A.S. dari Asia dan menghancurkan aliansi A.S. di kawasan ini. Saat ini, jejak RRT sudah mendunia. Militer Tiongkok telah memutus rangkaian pulau pertama dari kepulauan besar yang membentang dari pantai daratan benua Asia Timur dan sedang mendobrak rangkaian pulau kedua dan komponen strategi tiga rangkaian pulau PKT. Dalam beberapa dekade mendatang, persaingan intensif di antara kedua negara sebagian besar akan terjadi di kawasan Indo-Pasifik.

Seorang prajurit yang mengenakan seragam penjaga pintu menghentikan jurnalis agar tidak terlalu dekat dengan Aula Besar Rakyat saat delegasi tiba untuk menghadiri Kongres Rakyat Nasional Tiongkok di Beijing pada Maret 2019. THE ASSOCIATED PRESS

Sasaran Sama, Strategi Berbeda

Impian Tiongkok adalah tujuan persisten PKT, tetapi PKT telah menggunakan strategi yang berbeda dalam waktu yang berbeda. Di akhir Perang Korea, Ketua PKT Mao Zedong menjelaskan bahwa sasaran Tiongkok adalah untuk melampaui Inggris dalam 15 tahun dan melampaui A.S. dalam dua dekade. Pada tahun 1971, Mao mengubah strategi kebijakan luar negeri PKT dari konfrontasi menjadi keterlibatan dengan A.S. Pada awal 1980-an, pemimpin partai saat itu Deng Xiaoping menetapkan prinsip strategis “terus berupaya untuk tidak menonjolkan diri dan menyelesaikan sesuatu” untuk menarik investasi asing dan mengeksploitasi sistem perdagangan global, yang pada akhirnya akan memungkinkan perekonomian Tiongkok melampaui perekonomian Jepang. Pada awal tahun 2000-an, PKT mulai menekankan strategi baru “kebangkitan damai” sebagai tanggapan atas “teori ancaman Tiongkok.”

Setelah Xi berkuasa pada tahun 2012, dia mencoba mengembangkan model baru hubungan kekuatan besar dengan A.S., sembari mempercepat ekspansi global melalui bantuan ekonomi, ekspansi militer, dan mengekspor politik Tiongkok. Kebijakan ini, beserta perubahan kebijakan A.S., khususnya kebijakan perdagangan yang menyertai pemerintahan Presiden Donald Trump, menyebabkan peningkatan ketegangan bilateral. Ketika Xi bertemu dengan sekelompok kepala eksekutif A.S. dan Eropa pada tahun 2018, dia mengatakan: “Ada pepatah di Barat bahwa jika seseorang menampar pipi kiri Anda, Anda harus memberikan pipi kanan Anda. Dalam budaya kami, kami menampar balik, yang disebut gigi ganti gigi,” demikian menurut surat kabar The Wall Street Journal.

Xi telah secara terbuka meninggalkan kebijakan luar negeri untuk tidak menonjolkan diri dan siap untuk menerapkan kebijakan luar negeri “gigi ganti gigi.” PKT dapat menjanjikan banyak hal selama negosiasi demi mencapai sasaran strategisnya, tetapi juga dapat mengingkari janjinya kapan saja. Xi, misalnya, berjanji kepada mantan Presiden A.S. Barack Obama pada September 2015 bahwa dia tidak akan memiliterisasi pulau-pulau buatan yang dibuat di atas terumbu karang di Laut Cina Selatan, tetapi Xi telah melakukannya pada akhir tahun 2016. Jadi, lebih penting untuk melihat perbuatan partai itu daripada kata-katanya saat berurusan dengan negara berpartai tunggal itu.

Seorang pria yang mengenakan masker berjalan melewati mural dengan lambang Partai Komunis Tiongkok yang dimodifikasi di Shanghai pada Januari 2020. REUTERS

Senjata Ajaib untuk Kelangsungan Hidup PKT

PKT hanya memiliki 12 delegasi ketika mengadakan Kongres Nasional pertama di Shanghai pada tahun 1921, tetapi pada tahun 1934, PKT telah berhasil menghimpun 300.000 anggota dalam Tentara Merahnya. Setelah pemerintah Nasionalis melancarkan lima kampanye melawan Tentara Merah, hanya sekitar 20.000 prajurit yang selamat ketika Mao naik ke tampuk kekuasaan di Konferensi Zunyi pada tahun 1935.

Namun lebih dari satu dekade kemudian pada tahun 1949, PKT berhasil mengalahkan pasukan Partai Nasionalis yang pernah menjadi kekuatan dominan sebelum peperangan yang berlangsung selama bertahun-tahun. Tiongkok terisolasi dari komunitas internasional dari tahun 1950-an hingga awal tahun 1970-an dan PKT mengalami periode bencana di antara tahun 1958 hingga 1962 ketika lebih dari 30 juta warga Tiongkok mati kelaparan sebagian besar karena buruknya kebijakan pemerintah. Partai itu juga selamat dari periode pergolakan Revolusi Kebudayaan dari tahun 1966 hingga 1976 ketika Mao menganiaya sekitar 60 juta warga Tiongkok.

Pada tahun 1970-an, perekonomian Tiongkok berada di ambang kehancuran, tetapi PKT mampu mengubahnya dan kembali ke panggung global melalui kebijakan Reformasi dan Keterbukaan PKT. Sejak tahun 2010, Tiongkok telah menjadi perekonomian terbesar kedua di dunia dan dengan cepat memperluas jejak globalnya. Dalam dua dekade terakhir, RRT secara dramatis memperluas kekuatan nasionalnya. Selama beberapa dekade mendatang, RRT akan berusaha untuk membekali dirinya dengan militer kelas dunia, mengamankan status Tiongkok sebagai kekuatan utama di kawasan Indo-Pasifik, dan semakin memperluas pengaruh internasionalnya, demikian menurut laporan Kantor Menteri Pertahanan A.S. kepada Kongres A.S. pada tahun 2019.

Hanya ada sebagian penjelasan yang menunjukkan bahwa ambisi global Tiongkok telah berhasil dicapai karena Washington melakukan kesalahan berdasarkan asumsi yang salah tentang Tiongkok. Pencapaian ekspansi global Tiongkok sebagian besar bergantung pada senjata ajaib tradisional PKT: lini massanya, atau kemampuan untuk memobilisasi warganya, dan propagandanya. Lini massa PKT adalah metode politik, organisasi, dan kepemimpinan, yang dikembangkan oleh Mao, untuk berkonsultasi dengan massa, menafsirkan saran mereka dalam kerangka kerja komunisme, dan kemudian menegakkan kebijakan yang dihasilkannya. Kedua senjata itu bersifat tumpang tindih: Gerakan massa adalah bagian dari propaganda partai, dan PKT telah menggunakan informasi selektif yang disaring oleh sistem sensornya untuk menginspirasi gerakan massa.

Seorang anggota partai menggunakan ponselnya guna menghadiri kelompok belajar mingguan untuk aplikasi propaganda Partai Komunis Tiongkok bernama Xuexi Qiangguo, yang berarti “belajar untuk menjadikan Tiongkok kuat.” REUTERS

Propaganda Global PKT

Salah satu cara PKT menyatukan rakyat Tiongkok untuk mendukungnya ketika berada dalam kesulitan adalah dengan menyebarkan propaganda budaya Tiongkok. PKT mempromosikan keyakinan bahwa Tiongkok, sebelum abad ke-17, merupakan salah satu negara paling maju di dunia. Sistem irigasi paling awal telah ditemukan di Tiongkok. Tiongkok adalah tempat penemuan kuno, termasuk kompas, bubuk mesiu, dan pencetakan blok. Tiongkok mulai mengadopsi sistem ujian pegawai negeri sipil pada dinasti Han dari tahun 206 SM hingga 220 M dan mendirikan pemerintahan sipil paling maju di dunia.

Tiongkok secara berkala mendominasi kawasan itu melalui tatanan hierarki yang berlangsung hampir 1.300 tahun, dari awal dinasti Tang pada tahun 618 hingga akhir dinasti Qing pada tahun 1911, demikian yang dijelaskan Howard French dalam bukunya, Everything Under the Heavens: How the Past Helps Shape China’s Push for Global Power. Negara-negara di kawasan itu mengakui keunggulan budaya dan politik Tiongkok dan menunjukkan rasa hormat mereka terhadap otoritas Tiongkok agar dapat berdagang dengan Tiongkok. Mereka juga mendapatkan manfaat dari pengakuan itu karena sebagai imbalannya mereka menerima hadiah dalam jumlah besar dari Tiongkok dan memperoleh muhibah kaisar Tiongkok. Pemerintah Tiongkok menikmati sistem pemberian upeti (chao gong, 날묽) sebelum Perang Candu pertama.

Para pemimpin Tiongkok percaya bahwa Impian Tiongkok hanyalah mengklaim kembali posisi global yang tepat bagi negara itu dalam sejarah dunia. Ini adalah pola pikir bawaan Beijing dan dalam DNA Tiongkok, yang akan mendorong Beijing untuk berperilaku semakin menyerupai kekaisaran Tiongkok kuno, demikian menurut penulis Richard McGregor. “PKT tidak pernah melupakan masa lalu yang gemilang dari dunia yang berpusat pada Tiongkok dan sekarang berharap untuk merebut kembali status pusat global,” demikian yang dinyatakannya dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2017, Asia’s Reckoning: China, Japan, and the Fate of U.S. Power in the Pacific Century. Saat Tiongkok dengan cepat mendapatkan pasar global, masyarakat Barat menghadapi dilema: Memegang prinsip nilai-nilai universal tetapi kehilangan bisnis di Tiongkok atau bersujud kepada PKT untuk mendapatkan keuntungan dari Tiongkok. Berbahaya bagi Tiongkok untuk membangun kekaisaran yang memaksakan terjadinya perang yang tidak dapat dihindari, seperti yang ditunjukkan oleh ilmuwan politik Graham Allison dalam bukunya yang diterbitkan pada tahun 2018, Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’ Trap?

Sementara itu, PKT telah meluncurkan kampanye propaganda global yang berupaya memengaruhi pandangan dunia masyarakat, meningkatkan citra Tiongkok, dan membentuk gagasan pembuat kebijakan ke arah tertentu. PKT telah menghabiskan miliaran dolar untuk mendanai lembaga media internasional Tiongkok, seperti Kantor Berita Xinhua, China Central Television (CCTV), China Radio International (CRI), China Daily, dan Global Times. Lembaga-lembaga itu telah membuka lebih dari 300 biro di luar negeri dan mempekerjakan staf di seluruh dunia. PKT secara teratur mengadakan lokakarya di Beijing untuk melatih jurnalis asing agar menceritakan kisah-kisah baik mengenai Tiongkok. Tiongkok telah mendirikan sekitar 1.000 Institut Konfusius di seluruh dunia untuk memperluas pengaruh budaya global Tiongkok. Selain itu, PKT semakin memperkuat propagandanya di luar negeri dengan membeli platform media asing, mempromosikan penyensoran global dengan mewajibkan jurnal Barat memblokir akses ke artikel tentang ilmu politik Tiongkok dan politik internasional di Tiongkok, dan meminta pemerintah asing untuk melarang konferensi internasional yang terkait dengan politik Tiongkok. Lebih mengkhawatirkan lagi, PKT juga berusaha membentuk kembali norma-norma internasional dengan mengerahkan dan meningkatkan pengaruhnya di badan-badan pemerintahan internasional, termasuk lebih banyak organisasi di dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Seorang pemandu wisata memberi ceramah di dekat foto Sekretaris Jenderal Xi Jinping di museum sejarah di Sekolah Partai Komite Pusat Partai Komunis Tiongkok di Beijing. THE ASSOCIATED PRESS

Membangkitkan Nasionalisme Melawan Barat, Kesetiaan PKT

Strategi lain yang digunakan PKT untuk mengumpulkan massa adalah mempersenjatai nasionalisme melawan Barat. Tiongkok memiliki masa lalu yang gemilang tetapi secara bertahap melemah setelah kekalahannya dalam Perang Candu pertama — titik awal abad penghinaan, dari sekitar tahun 1840 hingga 1949. Akibat kekalahan dalam perang itu, dinasti Qing terpaksa menandatangani Perjanjian Nanjing yang mewajibkan Tiongkok untuk memberikan kekebalan diplomatik, membayar total ganti rugi sebesar 313,3 miliar rupiah (21 juta dolar A.S.), menerima tarif, memperlakukan Inggris sebagai negara yang paling diistimewakan, membuka lima pelabuhan baru untuk perdagangan, dan menyerahkan Hong Kong kepada Inggris selama 150 tahun. Perjanjian Nanjing, bersama dengan lebih dari 700 perjanjian tidak setara lainnya, memaksa Tiongkok secara bertahap tenggelam dari negara merdeka menjadi negara semi-kolonial. Tiongkok menganggap dirinya sebagai pusat dunia dan satu-satunya peradaban di dunia. Perang Candu dan dampak perang itu mengungkapkan bahwa Tiongkok bukan lagi negara kesatuan dengan pemerintah pusat yang efektif.

PKT telah menggunakan narasi abad penghinaan sebagai alat tawar-menawar selama negosiasi dengan pemerintah Barat pada banyak masalah dan juga untuk membangkitkan nasionalisme melawan masyarakat Barat, terutama A.S. dan Jepang. Dalam tiga dekade terakhir, PKT telah menggunakan nasionalisme dalam menanggapi berbagai peristiwa internasional. Sebuah survei tentang identitas nasional yang dilakukan oleh International Social Survey Programme menunjukkan bahwa Tiongkok memiliki tingkat nasionalisme tertinggi di antara semua negara dan kawasan. Sejak perang perdagangan dan pandemi virus korona global baru-baru ini, kekuatan nasionalisme Tiongkok berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Nasionalisme Tiongkok akan terus berperan dalam hubungan A.S.-Tiongkok. PKT percaya bahwa RRT harus mendapatkan apa yang diinginkannya karena pemerintah Barat menindas Tiongkok selama abad penghinaan. Xi telah berjanji untuk mengembalikan Tiongkok ke status kekuatan besar yang patut didapatkannya paling lambat pada tahun 2049, demikian yang dilaporkan surat kabar The Washington Post pada Oktober 2017.

PKT telah menggunakan budaya tradisional Tiongkok untuk mengonsolidasikan kekuatan hierarkisnya sembari memanipulasi nasionalisme untuk mengalihkan perhatian rakyat Tiongkok dari masalah domestik. Budaya tradisional Tiongkok mencakup tiga agama dan sembilan aliran pemikiran. Akan tetapi, Konfusianisme menjadi budaya tradisional Tiongkok yang dominan selama dinasti Han. Konfusius mengembangkan seperangkat prinsip, termasuk Lima Sifat Kekekalan (kebajikan, kebenaran, kepantasan, kebijaksanaan, dan ketulusan) dan Lima Hubungan (rakyat tunduk pada penguasa; anak laki-laki tunduk pada ayah; istri tunduk pada suami; yang lebih muda tunduk pada yang lebih tua; dan teman harus saling percaya). Semua prinsip ini membahas pengaturan hubungan manusia untuk mempertahankan tatanan sosial hierarkis. Konfusius mengatakannya seperti ini: “Biarlah ayah benar-benar menjadi ayah, dan anak laki-laki menjadi anak laki-laki; biarlah kakak laki-laki benar-benar menjadi kakak laki-laki, dan adik laki-laki menjadi adik laki-laki, biarlah suami benar-benar menjadi suami, dan istri menjadi istri: Kemudian akankah keluarga itu berada dalam keadaan normalnya. Bawalah keluarga ke keadaan itu, dan semua di bawah surga akan menikmati kedamaian.” Doktrin Konfusianisme berpusat pada ayah, dan inti dari Konfusianisme adalah kesetiaan: Setia kepada ayah di rumah, dan setia kepada kaisar di masyarakat.

PKT telah menekankan gagasan Konfusianisme tradisional tentang “hubungan yang benar” dalam hierarki keluarga, masyarakat, dan politik untuk memperkuat loyalitas kepada partai. Setiap pemimpin PKT telah meminta rakyat Tiongkok untuk bersatu mendukung PKT dan mematuhi pemimpin tertinggi tanpa syarat. Xi semakin memusatkan kekuasaannya dan menjadikan jabatan kepresidenannya sebagai proposisi seumur hidup dengan mengubah konstitusi Tiongkok. Xi berulang kali menekankan bahwa partai memimpin segala sesuatu dalam masyarakat Tiongkok. Sekarang, Xi memiliki gelar baru, “pemimpin rakyat,” yang sama dengan gelar diktator Mao. PKT menetapkan prinsip yang sama untuk diikuti oleh rakyat Tiongkok: “Setia kepada partai” dan “Ikuti partai tanpa syarat.” Banyak yang menyebut Xi sebagai kaisar Tiongkok abad ke-21.

PKT Tidak Akan Pernah Meninggalkan Sistem Satu Partainya

Pola pikir para pemimpin Tiongkok sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang Tiongkok sebagai negara agraris. Tiongkok menjadi masyarakat agraris 4.000 tahun yang lalu. Pada abad ke-13, Tiongkok adalah negara agraris tercanggih di dunia. Daerah pedesaan menyumbang 88% lahan Tiongkok ketika RRT didirikan pada tahun 1949 dan 82% lahan ketika Tiongkok memulai gerakan reformasi pada tahun 1978. Revolusi industri mulai mengubah Tiongkok setelah tahun 1978, sekitar 200 tahun setelah revolusi industri Barat. Tiongkok masih berjuang untuk menjaga keseimbangan di antara budaya tradisional dan modernisasinya serta menyerap pemikiran Barat.

Masyarakat agraris secara alami telah menghasilkan sistem politik dan tatanan sosial patriarki. Kaisar adalah satu-satunya sumber kekuasaan, otoritas akhir, dan semua hukum. Pemerintah adalah keluarga besar dan kaisar adalah bapak bangsa. Pemerintah dalam bahasa Tiongkok, guo-jia 벌소, berarti “keluarga bangsa.” Revolusi komunis sangat bergantung pada buruh tani Tiongkok. Filosofi pemberontakan buruh tani Tiongkok adalah bahwa siapa pun yang merebut kekuasaan, mempertahankan kekuasaan selamanya. Budaya patriarki ini menuntut kebijakan luar negeri Tiongkok untuk mengonsolidasikan sistem satu partai. Di era pasca-Mao, “generasi merah kedua” (븐랗덜) memandang Tiongkok sebagai dinasti keluarganya dan ingin mempertahankan rezim merah selamanya.

Para pemimpin Tiongkok menerapkan gagasan tentang bakti dan kewajiban keluarga terhadap hubungan internasional. Pemerintahan Xi telah berupaya mendominasi tatanan regional dan global. Ekspansi global Tiongkok adalah upaya untuk memperluas “keluarga merah” komunis. Dipengaruhi oleh budaya patriarki, PKT percaya bahwa “Tiongkok merupakan negara besar, negara lain merupakan negara kecil, dan seperti itu faktanya,” seperti yang dikatakan Menteri Luar Negeri Tiongkok Yang Jiechi pada Konferensi Menteri ASEAN di Hanoi pada Juli 2010. Tiongkok tidak akan memperlakukan negara lain dengan setara tetapi akan bertindak sebagai kakak laki-laki.

Jelas, PKT ingin mengubah Tiongkok menjadi negara adidaya yang dominan di dunia sembari mempertahankan sistem satu partainya di dalam negeri. Tiongkok, yang dipengaruhi oleh sifat PKT, tidak akan menjadi pemangku kepentingan yang bertanggung jawab dalam tatanan internasional yang dipimpin A.S. selama PKT mempertahankan kekuasaannya. Ketika Impian Tiongkok bertemu dengan “Mengutamakan Amerika (America First),” konfrontasi di antara kedua negara menjadi tak terelakkan. Untuk mempertahankan nilai-nilai dan kedaulatannya, Amerika Serikat harus bersiap untuk melakukan perang ideologis jangka panjang dan potensi konfrontasi militer dengan Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik sembari bersaing secara tegas dengan PKT di banyak bidang, terutama perdagangan dan teknologi tinggi. Sangat penting untuk memahami sifat PKT guna memenangkan persaingan global kedua dengan Tiongkok yang berhaluan komunis.  

Dr. Jinghao Zhou adalah seorang guru besar madya studi Asia di Hobart and William Smith Colleges di New York.

saham