Penyembunyian Mahal

Penyembunyian Mahal

Penindasan informasi yang dilakukan pemerintah Tiongkok tentang wabah virus korona mungkin telah meningkatkan kerugian finansial dan korban manusia di seluruh dunia

Staf FORUM

Tak lama setelah pukul 2 pagi pada 8 Februari 2020, pagi hari setelah kematian Dr. Li Wenliang, tagar #wewantfreedomofspeech# muncul di situs media sosial Weibo di Tiongkok, demikian menurut berbagai laporan media. Dokter mata di Wuhan itu adalah salah satu orang pertama yang memberi tahu dokter-dokter lain pada akhir Desember 2019 di ruang obrolan online tentang keseriusan wabah virus korona yang saat itu masih misterius. Dua hari kemudian, kepolisian Tiongkok menahannya dan beberapa dokter lainnya, menegur mereka karena “menyebarkan desas-desus,” demikian yang dilaporkan NPR. Saat merawat pasien, Li kemudian terinfeksi oleh virus korona dan meninggal akibat pneumonia yang disebabkan oleh virus korona. Pada pukul 7 pagi, pagi hari setelah kematiannya, tagar itu telah dilihat lebih dari 2 juta kali dan dicantumkan dalam 5.500 postingan, demikian menurut surat kabar The New York Times. Segera setelah itu, sensor pemerintah Tiongkok menghapus tagar itu dan tagar lainnya tentang topik-topik terkait, termasuk satu tagar yang menyerukan kepada pemerintah Wuhan untuk meminta maaf kepada Li karena berupaya membungkamnya.

“Dia adalah sosok biasa, tetapi sebuah simbol,” ungkap Zhang Lifan, seorang sejarawan independen di Beijing kepada surat kabar The Washington Post. “Jika bukan karena adanya epidemi dan tidak ada yang bisa meninggalkan rumah mereka, besar kemungkinan akan ada demonstrasi sekarang. Para pejabat benar-benar merasa khawatir.”

Melalui kematiannya, Li menjadi lambang penindasan informasi yang dilakukan oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) tentang kemunculan virus korona yang kemudian diberi nama COVID-19. Para ahli berpendapat bahwa pembungkaman yang dilakukan RRT terhadap para dokter dan warga lainnya mungkin telah berkontribusi pada penyebaran virus korona dan meningkatnya kerugian ekonomi dan korban manusia akibat berjangkitnya wabah itu.

Dr. Li Wenliang mengenakan masker respirator di rumah sakit Wuhan beberapa hari sebelum meninggal pada 7 Februari 2020. REUTERS

“Tidak perlu diragukan lagi bahwa pemerintah Wuhan meremehkan penyakit ini,” ungkap seorang penasihat senior pemerintah pusat Tiongkok yang tidak disebutkan namanya, kepada surat kabar Financial Times pada pertengahan Februari 2020. “Walikota Wuhan tidak memiliki keahlian dan kemauan untuk mengikuti saran ahli kesehatan. Kekhawatirannya adalah bahwa peningkatan pencegahan penyakit dapat merugikan stabilitas sosial dan perekonomian setempat.” Dia menambahkan: “Dalam suasana politik saat ini, yang lebih menghargai kepatuhan daripada kompetensi, pejabat lokal memiliki insentif untuk menghindari tanggung jawab.”

Banyak pihak lain juga melihat permainan politik Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengganggu pelaksanaan praktik kesehatan yang baik selama krisis. “Ada kecenderungan alami bagi para pejabat partai di semua tingkatan untuk mengubur informasi negatif dan menyensor pandangan yang berbeda terlepas dari siapa yang bertanggung jawab di Beijing,” ujar Jude Blanchette, seorang analis Tiongkok di Center for Security and International Studies, sebuah kelompok cendekiawan yang berbasis di Washington, kepada Financial Times pada Februari 2020. “Tetapi di bawah pemerintahan Xi Jinping, kecenderungan untuk menindas informasi telah menjadi endemik dan, dalam hal ini, berkontribusi pada periode tidak adanya tindakan secara berkepanjangan sehingga memungkinkan tersebarnya virus korona.”

Pihak berwenang di Wuhan hingga akhir Januari 2020 melaporkan jumlah kasus dan kematian yang lebih rendah dari fakta di lapangan dan berulang kali mengatakan kepada publik bahwa penularan dari manusia ke manusia tidak mungkin terjadi, demikian yang diungkapkan oleh berbagai pihak yang di antaranya adalah para dokter di Wuhan kepada Financial Times. Pihak berwenang RRT telah diberi tahu beberapa minggu sebelumnya bahwa virus mematikan itu memang bisa menyebar di antara manusia, demikian ungkap para dokter di Wuhan. Dalam sebuah wawancara dengan Huxijie, sebuah situs web medis, Zhao Jianping, seorang dokter spesialis paru di Rumah Sakit Tongji di Wuhan, mengatakan bahwa dia mendiagnosis pasien yang dicurigai terinfeksi virus korona pada 27 Desember 2019.

“Kami tidak mengira penyakit itu akan menjadi begitu parahnya,” ujar Zhao. “Tapi kami yakin penyakit itu bisa menyebar dari manusia ke manusia.” Zhao mengatakan bahwa dia segera melaporkan situasi itu ke Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Wuhan, demikian yang dilaporkan Financial Times.

Seorang warga memberikan penghormatan kepada Dr. Li Wenliang di rumah sakitnya di provinsi Huebei, Tiongkok tengah pada 7 Februari 2020. AFP/GETTY IMAGES

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization – WHO) baru menyatakan wabah itu sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi kekhawatiran internasional pada 30 Januari 2020, lebih dari sebulan setelah peringatan yang diberikan oleh Li dan Zhao, besar kemungkinan disebabkan oleh kurangnya transparansi dari RRT. Para ahli mengatakan bahwa penundaan seperti itu menghambat persiapan dan mobilisasi sumber daya yang lebih luas untuk memerangi wabah yang dimulai di Wuhan, Tiongkok, pada awal Desember 2019, dan menyebar ke lebih dari 68 negara dan wilayah, menginfeksi lebih dari 88.365 orang per 1 Maret 2020.

Beberapa minggu sebelum tindakan WHO, banyak ahli percaya bahwa wabah itu telah melebihi ambang batas penetapan status darurat kesehatan masyarakat. Mereka juga mempertanyakan apakah RRT mungkin tidak hanya menyembunyikan informasi dari WHO tetapi juga memengaruhi keputusan WHO untuk menunda penetapan status itu, demikian menurut surat kabar The Daily Mail. Surat kabar The Wall Street Journal melaporkan bahwa pada saat WHO mengumumkan keadaan darurat internasional, berdasarkan statistik RRT, penyakit itu telah menginfeksi lebih dari 9.500 orang dan menewaskan 213 orang.

Yanzhong Huang, peneliti senior bidang kesehatan global di Council on Foreign Relations, menyampaikan kepada surat kabar The Daily Telegraph pada pertengahan Januari 2020, lebih dari seminggu sebelum penetapan status WHO, bahwa “kriteria untuk menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi kekhawatiran internasional telah dipenuhi.” Akan tetapi, “tidak semua keputusan WHO dibuat berdasarkan perkembangan di dunia biologis,” ungkapnya. 

Hingga pertengahan April 2020, pemerintah Tiongkok telah gagal mengidentifikasi setidaknya secara publik sumber virus Wuhan dan juga menolak untuk menjawab pertanyaan utama tentang deteksi pertama dan penyebaran awal. Kurangnya transparansi PKT yang terjadi secara terus-menerus itu telah memicu spekulasi bahwa virus korona dirilis dari laboratorium biologis Tiongkok di Wuhan, baik secara tidak sengaja atau karena prosedur keselamatan yang tidak memadai di laboratorium itu. PKT telah berulang kali menolak klaim tersebut, yang sedang diselidiki oleh badan intelijen A.S., demikian menurut The Wall Street Journal.

“Kita tahu bahwa virus ini berasal dari Wuhan, Tiongkok. Kita tahu bahwa ada Institut Virologi Wuhan yang hanya beberapa mil jauhnya dari lokasi pasar basah. Masih banyak yang harus dipelajari,” ujar Menteri Luar Negeri A.S. Mike Pompeo kepada Fox News pada 15 April 2020, merujuk pasar hewan hidup yang dinyatakan oleh beberapa pakar kesehatan sebagai lokasi awal munculnya virus itu. “Kita benar-benar membutuhkan keterbukaan dari pemerintah Tiongkok.” 

Seorang perempuan yang mengenakan masker bergegas pergi ketika para pekerja mendisinfeksi pasar tradisional di Seoul, Korea Selatan, pada 26 Februari 2020. Korea Selatan melaporkan lebih dari 3.700 kasus dan 21 kematian per 1 Maret 2020. REUTERS

Kerugian yang Membubung Tinggi

Meskipun demikian, mungkin sudah terlambat untuk menghentikan penyebaran virus itu secara signifikan pada pertengahan Januari 2020. Epidemi virus korona sudah mulai mengganggu jaringan manufaktur dan rantai pasokan Tiongkok, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh industri mulai dari maskapai penerbangan dan pariwisata hingga produsen mobil, obat-obatan, dan teknologi di seluruh dunia.

Perusahaan-perusahaan internasional, seperti Tesla dan Apple, sudah menangguhkan operasi di Tiongkok daratan pada saat itu, demikian menurut Bloomberg News. Dampaknya juga dirasakan di luar Tiongkok. Hyundai Korea Selatan, misalnya, menghentikan produksi mobil karena masalah dengan pasokan suku cadangnya dari Tiongkok.

Pada akhir Januari 2020, para analis sudah memperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat epidemi itu di RRT saja dapat melebihi 884,17 triliun rupiah (60 miliar dolar A.S.) dan mengakibatkan pukulan paling telak pada produk domestik bruto (PDB) RRT. “Pertumbuhan PDB pada kuartal pertama tahun 2020 bisa mencapai sekitar 5%, dan kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan jatuh di bawah 5%,” ungkap Zhang Min, seorang pejabat Chinese Academy of Social Sciences kepada Caixin, salah satu dari sedikit saluran media Tiongkok yang tidak dikontrol dengan ketat oleh pemerintah RRT. Ekonom lain khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi akan menjadi jauh lebih lambat, di bawah 4%, dan belum ada tanda-tanda bahwa kondisi perekonomian akan segera pulih. Perekonomian Tiongkok tumbuh sebesar 6% pada tahun 2019, yang merupakan tingkat terendah sejak tahun 1992 ketika data pertumbuhan ekonomi pertama kalinya ditabulasi.

Virus korona telah memicu inflasi di Tiongkok, mendorong harga konsumen pada Januari 2020 naik 5,4% ke level tertinggi dalam lebih dari delapan tahun, demikian yang dilaporkan surat kabar The Wall Street Journal pada awal Februari 2020. Selain itu, data terbaru tersebut mungkin tidak menangkap dampak ekonomi sebenarnya dari epidemi itu, demikian yang diungkapkan Liu Xuezhi, seorang ekonom di Bank of Communications Tiongkok, kepada The Wall Street Journal.

Ketika dampak ekonomi yang merugikan itu terus menyebar ke berbagai negara lain, para analis menyesuaikan perkiraan mereka ke angka yang lebih tinggi. Pada awal Februari 2020, beberapa analis memprediksi dampak global sebesar 4,42 kuadriliun rupiah (300 miliar dolar A.S.) hingga 5,89 kuadriliun rupiah (400 miliar dolar A.S.). Di antara mereka adalah Panos Kouvelis yang mengajar di Olin Business School, Washington University di St. Louis, Missouri. Dia mengatakan bahwa wabah ini dapat mengganggu rantai pasokan selama 16 bulan sampai dua tahun “hingga Anda berhenti melihat guncangan ini pada rantai pasokan global.”

Pada pertengahan Februari 2020, epidemi COVID-19 yang berasal dari Tiongkok telah menewaskan lebih dari 1.300 orang dan menginfeksi hampir 60.000 orang di seluruh dunia, meskipun sebagian besar terjadi di RRT, melampaui epidemi sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome – SARS) pada tahun 2002-2003 yang menewaskan 774 orang dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang di seluruh dunia. SARS mengakibatkan kerugian ekonomi dunia antara 441,6 triliun rupiah (30 miliar dolar A.S.) dan 736,7 triliun rupiah (50 miliar dolar A.S.), yang merupakan sebagian kecil dari PDB global pada saat itu yang mencapai sekitar 515,7 kuadriliun rupiah (35 triliun dolar A.S.), demikian yang dilaporkan surat kabar The Guardian. Kouvelis mengatakan bahwa dampak virus korona pada rantai pasokan global bisa beberapa kali lebih besar daripada SARS.

“Meskipun virus itu tidak berubah menjadi pandemi, sungguh tidak logis untuk berpikir bahwa virus itu tidak akan berdampak pada apa yang terjadi di dunia,” tulis Scott Minerd, kepala pejabat informasi global di Guggenheim Investments, dalam sebuah catatan penelitian pada pertengahan Februari 2020, demikian menurut majalah U.S. News & World Report. “Dampak dari semua ini pada laba perusahaan dan arus kas bebas akan sangat dramatis.”

Pasar Saham Tumbang
Pasar saham dan harga komoditas di seluruh dunia juga mulai anjlok seiring merebaknya wabah, sebagian besar karena kekhawatiran terhadap krisis kesehatan itu. BBC melaporkan bahwa pasar saham RRT turun 8% pada awal Februari 2020, hari pertama setelah liburan Tahun Baru Imlek. Pasar saham lain segera menyusul. Pasar saham utama Asia lainnya, termasuk pasar saham di Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, semuanya mengalami penurunan. Pasar saham Eropa juga mengalami penurunan.

Meskipun pada awalnya stabil, pasar saham A.S. tak lama kemudian mengalami koreksi pasar akibat berjangkitnya wabah virus korona. Pada 27 Februari 2020, Dow Jones Industrial Average mencetak rekor penurunan poin terbesar dalam satu hari. Pada akhir Februari 2020, saham-saham A.S. mengalami penurunan terbesar sejak krisis keuangan tahun 2008 pada level koreksi di kisaran 10%, dan para analis juga mulai memperpanjang durasi prakiraan negatif mereka terhadap perekonomian RRT dari kuartal pertama menjadi dua kuartal pertama tahun 2020. “Perekonomian Tiongkok saat ini mendatar,” ujar Stephen Roach, seorang peneliti senior di Yale University, kepada acara Squawk Box di CNBC pada akhir Februari 2020. “Dampak karantina dan pembatasan perjalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya telah membuat perekonomian Tiongkok sekarang ini mengalami kemacetan.”

Roach, yang tinggal di Tiongkok dari tahun 2007 hingga 2012 selama masa jabatannya sebagai ketua Morgan Stanley Asia, mengatakan bahwa dia berharap pemerintah Tiongkok akan terus bekerja untuk membendung wabah virus korona meskipun adanya dampak terhadap perekonomian jangka pendek.

Pada Maret 2020, virus korona terus menyebar ke seluruh dunia pada tingkat yang mengerikan, akan tetapi, menghantam Italia, Spanyol, dan Amerika Serikat dengan lebih dahsyat daripada Tiongkok dan menginfeksi 179 negara dan wilayah. Dow Industrials mencetak lebih banyak rekor, mengalami pelemahan dan jatuh 10% pada 21 Maret, persentase penurunan terburuknya dalam satu hari sejak rontoknya pasar saham pada tahun 1987. Kemudian setelah mencapai titik terendahnya pada 23 Maret di level 42% lebih rendah dari awal tahun, Dow naik 21% selama periode tiga hari, persentase kenaikan tiga hari terbesar bagi indeks itu sejak tahun 1931, demikian yang dilaporkan The Wall Street Journal.

Pada akhir Maret, lebih dari 870.000 orang di seluruh dunia terinfeksi virus korona dan lebih dari 43.000 orang telah meninggal akibat penyakit itu. A.S. mencatat lebih dari 189.000 kasus, Italia lebih dari 105.000 kasus, dan Spanyol lebih dari 100.000 kasus dibandingkan dengan lebih dari 82.000 kasus di Tiongkok hingga 31 Maret 2020. Jumlah kematian di Prancis, Italia, Spanyol, dan A.S. juga telah melampaui jumlah kematian yang dilaporkan di Tiongkok pada waktu itu. Sementara itu, Dow mengalami kinerja kuartal pertama terburuknya, kehilangan nilai lebih dari 22% dalam tiga bulan pertama tahun 2020, demikian menurut CNBC. S&P 500 mencatat kuartal pertama terburuk sejak tahun 1938.

Jumlah kasus dan kematian COVID-19 terus meningkat hingga April 2020. Volatilitas di A.S. dan pasar lain juga berlanjut hingga April, ketika perekonomian di seluruh dunia terus terpukul oleh pandemi dengan cara yang tak terduga. Meskipun perusahaan investasi Goldman Sachs memperkirakan pada akhir Maret bahwa perekonomian A.S. akan mengalami penurunan yang belum pernah terjadi sebelumnya pada kuartal kedua, perusahaan itu mengatakan bahwa pemulihan akan menjadi yang tercepat dalam sejarah, demikian yang dilaporkan CNBC.

Total Kerugian Tidak Terbatas
Indeks dan prakiraan ekonomi yang mengkhawatirkan itu menekankan pentingnya kebijakan kesehatan masyarakat yang dapat diandalkan dan tata kelola yang baik serta menunjukkan bagaimana kegagalan dalam masing-masing faktor itu tidak hanya dapat mengakibatkan kerugian terhadap kondisi keuangan tetapi juga kerugian terhadap manusia.

Banyak ahli berpendapat bahwa RRT dapat mengurangi kerugian ini dengan membagikan informasi yang akurat secara terbuka dan cepat kepada warganya dan dunia. Tidak seorang pun yang akan pernah mampu mengukur berapa banyak nyawa dan berapa miliar. bahkan triliun, aset dan pendapatan yang bisa dilindungi oleh tindakan cepat RRT. Akan tetapi, para ahli sepakat bahwa konsekuensi ekonomi dan sosial yang serius akan terjadi, terutama di Tiongkok. Para analis menyepakati bahwa total kerugian akan tergantung pada kemampuan berkelanjutan RRT untuk membatasi penyebaran virus secara lebih lanjut, bagaimana Tiongkok mengelola pelambatan yang muncul, dan apakah negara itu bertanggung jawab atas kesalahan dalam langkah awal yang diambilnya.

“Relaksasi karantina dan pembatasan perjalanan yang prematur dapat menyebabkan kambuhnya penyakit yang akan jauh lebih berbahaya daripada wabah saat ini,” ungkap Roach kepada CNBC pada akhir Februari 2020. “Pihak Tiongkok ingin menghindarinya dengan segala cara. Itu penting bagi seluruh dunia ketika infeksi virus terlihat jelas berada dalam proses penyebaran saat ini,” ungkap Roach.

Banyak pemerintah, termasuk RRT, meluncurkan paket stimulus untuk membantu mengimbangi dampak ekonomi akibat wabah tersebut. Akan tetapi, paket stimulus itu kecil kemungkinannya untuk cukup ampuh dalam memperbaiki efek dari langkah-langkah drastis yang harus diterapkan guna menghentikan epidemi yang tengah berkecamuk itu. “Langkah-langkah ini pada dasarnya tidak sensitif terhadap tindakan kebijakan,” ungkapnya. “Apa yang dapat dilakukan oleh kebijakan fiskal dan moneter adalah berupaya menstabilkan pasar — yang tentu saja penting — tetapi yang paling penting, untuk menopang sisi positif pemulihan selanjutnya begitu roda perekonomian seperti Tiongkok dan negara-negara lain kembali berputar. Jadi, langkah-langkah itu ditujukan untuk sisi lain dari dampak terkait virus, bukan sisi negatifnya.”

Tidak ada langkah-langkah yang dapat mengganti kerugian terhadap manusia akibat hilangnya nyawa dan kebebasan. Tragedi sebenarnya adalah RRT memiliki kekuatan untuk menghindari besarnya kerugian tersebut tetapi menempatkan agenda PKT di atas hak dan kesehatan warga Tiongkok, sebuah langkah yang juga membahayakan seluruh dunia. 

“Banyak orang percaya bahwa jika pihak berwenang mendengarkan peringatan Dr. Li Wenliang, virus itu tidak akan menyebar seperti yang terjadi saat ini,” tulis koresponden Keiichi Takamura pada pertengahan Februari 2020 untuk NHK World online, sebuah layanan berita internasional milik pemerintah Jepang.

Ketika Li meninggal, kritik online terhadap PKT meledak di seluruh dunia. RRT berusaha membungkam kritik semacam itu dengan mengirimkan belasungkawa kepada keluarga Li dan meluncurkan penyelidikan terhadap penanganan wabah yang dilakukan oleh pihak berwenang di Wuhan. Meskipun dimotivasi oleh mesin-mesin propaganda RRT, langkah-langkah kecil itu tampaknya menunjukkan beberapa gerakan ke arah mengindahkan kekhawatiran warga, menghargai transparansi yang lebih besar, dan tata kelola yang lebih baik.

Sebelum kematiannya, Li menekankan pentingnya menyebarkan informasi penting mengenai wabah itu kepada masyarakat, alih-alih pemulihan nama baiknya, demikian menurut NPR. Dalam sebuah wawancara dengan majalah online Caixin, Li mengatakan: “Masyarakat yang sehat seharusnya tidak hanya memiliki satu jenis suara.”  

saham