• Home »
  • Cerita populer »
  • Kerugian ekonomi akibat epidemi virus korona melonjak seiring meningkatnya jumlah kasus dan kematian
Kerugian ekonomi akibat epidemi virus korona melonjak seiring meningkatnya jumlah kasus dan kematian

Kerugian ekonomi akibat epidemi virus korona melonjak seiring meningkatnya jumlah kasus dan kematian

Cerita populer | Feb 26, 2020:

Kerugian yang dialami oleh manusia dan perekonomian terus meningkat akibat epidemi virus korona yang dimulai di Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan telah menyebar ke 27 negara dan wilayah lainnya sejauh ini.

Para analis mengatakan bahwa meskipun epidemi itu akan menimbulkan kerugian terbesar bagi RRT, dampaknya akan semakin memengaruhi ekonomi global.

Beberapa analis memperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat epidemi itu di RRT saja dapat melebihi 822,5 triliun rupiah (60 miliar dolar A.S.) dan mengakibatkan pukulan paling telak bagi produk domestik bruto (PDB) RRT. “Pertumbuhan PDB pada kuartal pertama tahun 2020 bisa mencapai sekitar 5%, dan kami tidak bisa mengesampingkan kemungkinan jatuh di bawah 5%,” ungkap Zhang Min, seorang pejabat Chinese Academy of Social Sciences kepada Caijing, sebuah majalah online. Ekonom lain khawatir bahwa pertumbuhan ekonomi akan menjadi jauh lebih lambat, di bawah 4%, dan belum ada tanda-tanda bahwa kondisi perekonomian akan segera pulih. Perekonomian Tiongkok tumbuh sebesar 6% pada tahun 2019, yang merupakan tingkat terendah sejak tahun 1992 ketika data pertumbuhan ekonomi pertama kalinya ditabulasi.

Virus korona telah memicu inflasi di RRT, mendorong harga konsumen pada Januari 2020 naik 5,4% ke level tertinggi dalam lebih dari delapan tahun, demikian yang dilaporkan surat kabar The Wall Street Journal pada awal Februari 2020.

Liu Xuezhi, seorang ekonom di Bank of Communications Tiongkok, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa data baru itu mungkin tidak menangkap dampak ekonomi sebenarnya dari epidemi itu. Dia mengatakan bahwa dampak virus korona pada permintaan produk konsumen di Tiongkok besar kemungkinan lebih besar daripada data inflasi yang ditunjukkan pada bulan Januari.

Harga makanan Tiongkok meningkat paling cepat pada Januari 2020, demikian menurut CNN Business. “Harga babi — bahan makanan andalan penduduk Tiongkok yang sudah berada di bawah tekanan karena penyakit babi yang mengakibatkan kerugian parah — melonjak tajam 116% dibandingkan dengan harga babi tahun lalu. Harga sayuran 17% lebih mahal,” demikian yang dilaporkan CNN Business.

Indeks harga dan pertumbuhan yang mengkhawatirkan itu menggarisbawahi pentingnya kebijakan kesehatan masyarakat yang dapat diandalkan dan tata kelola yang baik serta bagaimana kegagalan dalam masing-masing faktor tersebut tidak hanya dapat mengakibatkan kerugian terhadap manusia tetapi juga kerugian terhadap perekonomian.

Sumber pemerintah RRT telah melaporkan bahwa di Tiongkok, hampir 60.000 orang terinfeksi dan lebih dari 1.300 orang meninggal akibat virus itu di seluruh dunia hingga 13 Februari 2020. Jumlah kematian itu telah melampaui secara signifikan jumlah kematian akibat epidemi sindrom pernapasan akut berat (severe acute respiratory syndrome – SARS) pada tahun 2002-2003, yang menewaskan 774 orang di seluruh dunia. Lebih dari 187.000 orang di Tiongkok berada di bawah pengawasan medis, demikian menurut BBC. (Foto: Seorang polisi lalu lintas menyesuaikan maskernya di sebuah jalan di Beijing pada 9 Februari 2020. Para kritikus berpendapat bahwa upaya Partai Komunis Tiongkok yang berkuasa untuk menghentikan penyebaran virus itu tidak memadai.)

Efek ekonominya sudah mulai menyebar ke berbagai negara lain. Perekonomian Asia Tenggara, Jepang, dan Australia mungkin paling berisiko terhadap dampak ekonomi yang merugikan itu, demikian menurut surat kabar Guardian karena hubungan mereka dengan perekonomian Tiongkok.

BBC melaporkan bahwa di luar Tiongkok, lebih dari 340 kasus virus korona telah dilaporkan dan setidaknya dua orang telah meninggal.

SARS mengakibatkan kerugian ekonomi global antara 411,3 triliun rupiah (30 miliar dolar A.S.) dan 685,4 triliun rupiah (50 miliar dolar A.S.), yang merupakan sebagian kecil dari PDB global pada saat itu yang mencapai sekitar 478,9 kuadriliun rupiah (35 triliun dolar A.S.), demikian menurut Guardian. SARS menyebar ke 37 negara dan menginfeksi lebih dari 8.000 orang.

Zhang dan analis lain mengatakan bahwa virus korona bisa dengan mudah mengakibatkan kerugian lebih besar daripada SARS. Bisa dikatakan, penyebaran virus itu dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan dan mendorong harga konsumen menjadi jauh lebih tinggi, sehingga memperburuk kondisi perekonomian RRT yang sudah melambat, demikian yang dilaporkan CNN Business.

Epidemi itu telah berdampak pada perusahaan-perusahaan internasional yang menghentikan sementara operasi di Tiongkok seperti Tesla dan Apple serta berbagai produsen suku cadang mobil, demikian menurut Bloomberg News. NPR melaporkan bahwa maskapai penerbangan internasional, hotel, dan bisnis terkait pariwisata telah kehilangan pelanggan dan pemesanan; banyak penyelenggara telah membatalkan pameran dagang dan festival seni.

Rantai pasokan internasional juga terpukul. Bloomberg Economics menentukan bahwa rantai pasokan Asia mungkin paling berisiko karena bergantung pada barang setengah jadi dari Tiongkok untuk sekitar 40% inventarisnya. Hyundai Korea Selatan, misalnya, menghentikan produksi mobil karena masalah dengan pasokan suku cadangnya dari Tiongkok.

Pasar saham dan harga komoditas di seluruh dunia juga terkena dampak negatif akibat kekhawatiran terhadap krisis kesehatan itu. BBC melaporkan bahwa pasar RRT turun 8% pada hari pertama setelah liburan Tahun Baru Imlek.

Para analis menyepakati bahwa kerugian total terhadap perekonomian dan manusia akan bergantung pada kemampuan RRT untuk mengekang penyebaran virus itu secara lebih lanjut dan langkah-langkah apa yang diambil RRT untuk mengelola perlambatan ekonomi yang muncul itu.

Sebagian besar kerugian ekonomi awal di Tiongkok disebabkan oleh upaya untuk mencegah penyebaran virus, termasuk penutupan pabrik, restoran, dan banyak lagi, serta penundaan perjalanan bisnis dan pergerakan barang, jasa, dan orang, demikian menurut BBC. BBC melaporkan bahwa pihak berwenang RRT memperpanjang liburan Tahun Baru Imlek untuk membendung penyebaran virus.

saham