Filipina meminta Facebook menutup akun-akun pejuang Islam

Filipina meminta Facebook menutup akun-akun pejuang Islam

Reuters

Angkatan Darat Filipina menyeru Facebook menutup puluhan akun militan Islam yang menggunakan untuk menyebarkan informasi yang mengelirukan tentang serangan mereka di kota Selatan dan mengkoordinasikan pertempuran kelompok teror ini dengan pasukan keamanan.

Tim pemantauan Sosial media Militer mengidentifikasi 63 akun di bawah nama palsu yang mereka percaya sedang digunakan oleh kelompok Maute sekutu simpatisan Negara Islam. “Mereka menyebarkan kebohongan, mereka menyebarkan informasi yang keliru dan mereka menciptakan lebih banyak masalah dalam pertempuran kami melawan teroris,” Let. Kol. Jo-Ar Herrera mengatakan di kota Marawi, dimana militan bersembunyi setelah mencoba untuk menawan kota.

Para pegawai mengatakan kira-kira 500 – 1.000 warga sipil terperangkap di wilayah yang ditempati oleh para pejuang, yang diserang pengeboman udara pada tanggal 9 Juni tahun 2017. Beberapa warga sipil ditawan sebagai perisai manusia, sementara yang lain bersembunyi di rumah mereka takut ditangkap oleh para militan dan tidak mempunyai bekalan air, listrik atau makanan, kata Zia Alonto Adiong, seorang politisi yang terlibat dalam upaya pengungsian.

Akun-akun palsu tidak diizinkan di bawah Facebook, dan dalam beberapa bulan terakhir perusahaan itu telah meluncurkan beberapa inisiatif terhadap berita palsu. “Standar komunitas kami tidak mengizinkan kelompok atau orang-orang yang terlibat dalam kegiatan teroris, atau posting yang menyatakan dukungan untuk terorisme,” kata Wakil Facebook dalam respons email kepada permintaan untuk komentar.

“Akun-akun palsu juga dilarang. Kami akan menghapus akun dan konten yang melanggar kebijakan ini jika kami mengetahuinya.”

Salah satu faksi Islam utama yang sangat terlibat dikota adalah kelompok Maute, pendatang yang relatif baru pada pemberontakan yang melanda pulau Mindanao yang analis katakan lebih canggih dan cerdas bermedia daripada kelompok yang lebih mapan.

“Bagian dari apa yang kami lihat adalah radikalisasi di media sosial. Ini digunakan untuk meradikalisasi para remaja,” kata Herrera. “Kami melihat informasi besar-besar yang keliru dan menggunakan media sosial untuk memfasilitasi aktivitas-aktivitas propaganda.”

Penyitaan kota Marawi mengkhawatirkan para pemimpin Asia Tenggara, yang takut negara Islam Suriah, dan Irak (ISIS), menghadapi kemunduran di medan perang, mendirikan benteng di Mindanao yang boleh mengancam seluruh wilayah. Sekitar 40 orang asing telah berjuang bersama para militan Filipina di kota Marawi -sebagian besar dari mereka dari Indonesia dan Malaysia — meskipun beberapa datang dari Timur Tengah.

Filipina sebagian besarnya adalah Kristen, tetapi Mindanao mempunyai populasi Muslim yang signifikan, dan kota Marawi kebanyakan adalah populasi Muslim. (Gambar: para prajurit berdiri menjaga sepanjang jalan utama desa Mapandi sedang pasukan pemerintah melanjutkan serangan mereka keatas pemberontak dari kelompok Maute.)
Maute bergabung dengan Isnilon Hapilon, yang diklaim ISIS tahun lalu sebagai emirat Asia Tenggara. Para pegawai mengatakan tentara sedang mengambil kembali wilayah yang dikawal oleh para militan perlahan-lahan. Volume api yang berasal dari pihak pemberontak telah kurang dan penembak mereka menjadi lebih selektif.

saham