Menyemai Ketahanan Pangan

Menyemai Ketahanan Pangan

Teknologi baru yang sedang dikembangkan, pertanian keluarga, dan kerja sama regional akan membantu mengurangi kompetisi sumber daya dan ancaman terhadap stabilitas

Tom Abke dan Jacob Doyle

R ata-rata setiap harinya makanan dalam jumlah besar diproduksi di kawasan Indo-Asia-Pasifik: 1,5 juta metrik ton beras, masing-masing satu juta ton untuk gandum, buah, dan jagung, setengah juta ton kentang, dan ratusan ribu ton ikan, daging sapi, unggas, dan daging lainnya. Hasil panen ini semuanya merupakan bagian dari upaya konstan untuk memberi makan 4,4 miliar penduduk di kawasan itu. Pertumbuhan populasi, keterbatasan lahan dan air, degradasi lingkungan, dan guncangan iklim merupakan tantangan yang dihadapi sistem produksi pangan di kawasan ini yang semakin dituntut untuk memproduksi lebih banyak produk dengan lebih sedikit sumber daya — 50 persen lebih banyak pada tahun 2050.

Beberapa ahli mengkhawatirkan bahwa jika kawasan ini tidak dapat memenuhi permintaan makanan, ketahanan pangan secara keseluruhan bisa menurun dalam beberapa dekade mendatang. “Kerawanan pangan merupakan konsekuensi sekaligus penyebab konflik, sehingga tak terelakkan terkait dengan stabilitas politik di tingkat regional, nasional, dan internasional,” jelas Kimberly Flowers, direktur Proyek Ketahanan Pangan Global di Center for Strategic and International Studies (CSIS).

Seorang petani mengeringkan tongkol jagung selama musim panen di provinsi Jawa Tengah, Indonesia. REUTERS

“Kurangnya akses ke makanan yang terjangkau telah terbukti memicu revolusi dan mendorong kerusuhan di seluruh dunia,” tulis Flowers dalam laporan CSIS pada November 2015 berjudul “Kerawanan Pangan, Konflik, dan Stabilitas.” Dia berpendapat bahwa tingkat kelaparan di seluruh dunia dari populasi yang terkena dampak akan terus memengaruhi keamanan regional dan internasional.

Akan tetapi, banyak ahli tetap optimis bahwa ketahanan pangan dapat ditingkatkan di kawasan Indo-Asia-Pasifik selama beberapa dekade ke depan meskipun adanya potensi ancaman terhadap stabilitas secara keseluruhan. Mereka mengakui bahwa tantangan tetap ada, namun sejumlah solusi mulai dari peningkatan dukungan pemerintah hingga kemajuan dalam pertanian “pintar” dan gizi yang berasal dari serangga sedang diusulkan dan dilaksanakan, biasanya dalam kerangka kerja pertanian keluarga kecil.

“Populasi Asia berkembang dengan pesat dan tidak akan mencapai puncaknya selama 50 tahun mendatang,” kata David Dawe, ekonom senior di Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFAO), dari kantornya di Bangkok dalam wawancara dengan FORUM. “Banyaknya permintaan makanan memberikan tekanan pada pertanian, seperti halnya meningkatnya permintaan akan bahan bakar hayati nabati. Masalahnya bukan orang-orang semakin kaya tetapi asupan makanannya berubah. Ada pergeseran dari beras ke daging dan ikan, dan lebih banyak pertanian diperlukan untuk menghasilkan daging daripada beras.”

Dawe menambahkan bahwa solusi terhadap kerawanan pangan di kawasan ini harus menyertakan akses makanan yang lebih baik. Kelaparan sebagian besar telah diatasi, tetapi kekurangan gizi masih menjadi masalah yang mengancam, salah satu masalah yang mengganggu keluarga di sektor pertanian. Dia mengatakan bahwa membantu pertanian keluarga kecil menjadi produsen yang lebih efisien akan sangat membantu upaya untuk meningkatkan ketahanan pangan di kawasan itu. Dia menegaskan kembali wacana yang diungkapkan oleh peneliti lain, termasuk Dr. Monika Barthwal-Datta, dosen senior ilmu pengetahuan sosial di University of New South Wales, Australia.

PERAN PERTANIAN KELUARGA

“Di antara sumber daya yang paling kuat dalam memenuhi tantangan memberi makan dunia secara berkelanjutan dalam menghadapi perubahan iklim adalah pertanian keluarga kecil,” kata Barthwal-Datta. Dia menambahkan bahwa 475 juta pertanian keluarga, biasanya berukuran kurang dari 2 hektar, menghasilkan hingga 80 persen dari semua makanan yang dikonsumsi di dunia, demikian menurut UNFAO. Selain itu, peran pertanian keluarga sangat kuat di Indo-Asia-Pasifik.

“Penelitian menunjukkan bahwa keluarga petani kecil sebenarnya menghasilkan tingkat hasil pertanian yang jauh lebih tinggi per satuan luas daripada pertanian besar,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa keuntungan efisiensi pertanian keluarga ini berasal dari peran sentral dan beragam yang mereka mainkan dalam keluarga yang memilikinya. Selain menghasilkan pendapatan, pertanian itu juga memberi makan setiap keluarga petani secara langsung, serta ternak mereka, dan memberikan identitas budaya yang sudah ada sejak lama.

“Pembuat kebijakan di level pemerintah harus tahu bahwa pertanian adalah proses multifungsi untuk pertanian keluarga kecil — unit produksi yang paling penting di bidang pertanian dan kunci untuk ketahanan pangan,” kata Barthwal-Datta.

Ketika pertanian keluarga diberdayakan oleh kebijakan pemerintah, ketahanan pangan akan meningkat, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Dr. Wusheng Yu, guru besar madya di University of Copenhagen, Denmark, dan pakar ekonomi pangan. Dia mempresentasikan temuannya kepada Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan pada Desember 2015.

Seorang petani memetik bunga labu dari ladangnya di Kolkata, India. REUTERS

Yu mempelajari kebijakan dukungan pertanian di India dan Tiongkok dari awal tahun 1990-an hingga 2014 dan membandingkannya dengan tingkat penurunan kekurangan gizi di kalangan penduduk negara-negara itu. Yu menemukan bahwa pada awal tahun 1990-an, kira-kira seperempat dari semua penduduk di kedua negara menderita kekurangan gizi. Akan tetapi, dua puluh tahun kemudian tingkat kekurangan gizi di Tiongkok berkurang menjadi 10 persen, sedangkan di India tidak beranjak di kisaran 17 persen, demikian menurut Yu dan timnya.

“Kedua negara melakukan hal serupa dalam hal kebijakan, tetapi mereka menerapkan instrumen kebijakan dengan cara yang cukup berbeda,” kata Yu kepada pemirsa. Yu menjelaskan bahwa kedua negara mengikuti kebijakan subsidi komponen produksi, “untuk hal-hal seperti pupuk, air, listrik. Keduanya melakukan hal ini, tetapi mereka melakukannya secara berbeda. India menerapkan subsidi dengan menggunakan instrumen berbasis harga. Tiongkok, terutama dalam beberapa tahun terakhir, menyediakan transfer langsung; mereka memiliki anggaran dan perkiraan untuk kemungkinan peningkatan harga, misalnya, pupuk. Kemudian mereka langsung melakukan transfer ke rekening bank masing-masing petani.”

SUBSIDI DAN KERJA SAMA

Di India, tempat subsidi pemerintah memungkinkan petani untuk membeli komponen produksi dengan harga diskon, mereka menunjukkan kecenderungan menggunakan komponen produksi secara berlebihan dan kadang-kadang mengeksploitasi sumber daya alam seperti air irigasi secara berlebihan, demikian ungkap Yu. Penggunaan secara berlebihan ini mungkin sebenarnya telah meningkatkan biaya sumber daya ini bagi pemerintah, sehingga menyebabkan membengkaknya anggaran.

India sejak itu mulai mengadopsi sistem transfer manfaat langsung (DBT) secara meluas, yang memberikan pembayaran secara langsung kepada petani. Sistem ini mirip dengan sistem di Tiongkok. DBT telah memberdayakan petani untuk membuat keputusan pembelian mereka sendiri, demikian yang dilaporkan Amit Mohan Prasad, menteri pertanian untuk provinsi Uttar Pradesh, India. DBT memperluas pilihan mereka dan memungkinkan hubungan yang lebih erat antara petani dan Departemen Pertanian.

Barthwal-Datta mengatakan bahwa meskipun sudah ada peningkatan dukungan pemerintah, namun masih tidak dapat memenuhi harapan. “Lima puluh hingga 80 persen pendapatan petani dihabiskan untuk makanan saja,” katanya. “Pertanian keluarga tidak selalu memiliki hasil yang cukup untuk dimakan keluarga, dan mereka kelaparan selama beberapa bulan dalam setahun.”

Kebutuhan mendesak ini dipandang sebagai kesempatan oleh Unitus Impact, dana modal ventura yang memiliki kantor di Bangalore, Hanoi, Jakarta, dan San Francisco. “Ada peluang besar di kalangan keluarga berpendapatan rendah hingga menengah di Asia-Pasifik,” kata Shuyin Tang, direktur Unitus Impact yang berbasis di Vietnam. “Setiap investasi yang kami buat bertujuan untuk meningkatkan pendapatan kalangan keluarga berpendapatan rendah hingga menengah. Kami berfokus pada peningkatan pendapatan daripada peningkatan hasil panen itu sendiri, karena pada akhirnya kami ingin melihat dampak yang jelas pada mata pencaharian.”

Tang menjelaskan salah satu investasi yang menyoroti pendekatan pendanaannya, Vasham Indonesia. “Vasham menanam jagung untuk pakan ternak,” kata Tang. “Tapi apa yang disadari Vasham adalah seberapa tidak efisiennya rantai nilai jagung itu, sehingga mereka menetapkan untuk meningkatkan efisiensi di segala bidang: dari akses pembiayaan untuk petani kecil, akses ke komponen produksi berkualitas tinggi, hingga akses ke pasar. Vasham menawarkan perbaikan menyeluruh dalam semua bidang, meningkatkan pendapatan petani rata-rata sebesar 30 persen. Tiga ribu petani dilibatkan sejauh ini, dengan proyeksi melibatkan 100.000 petani pada tahun 2020. Model ini sangat mudah diubah untuk mengakomodasi perubahan.”

Tang berpartisipasi dalam KTT Inovasi Pertanian Regional Asia baru-baru ini, yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada Mei 2016. KTT ini menandai peluncuran Feed the Future Asia Innovative Farmers Project, yang didanai oleh Instansi Amerika Serikat untuk Pengembangan Internasional (USAID) dan diselenggarakan oleh Winrock International.

Rob Turner dari Winrock menggambarkan Feed the Future sebagai “prakarsa global pemerintah A.S. untuk mempromosikan ketahanan pangan — prakarsa presiden — dengan Kamboja, Nepal, dan Bangladesh sebagai negara fokus di Asia.”

“Kami menyerukan solusi — teknologi komersial yang telah efektif dalam mempromosikan ketahanan pangan,” kata Turner. “Untuk tahun pertama, fokus kami adalah solusi yang membahas akses petani kecil ke: peningkatan layanan keuangan dan pertanian; infrastruktur penyimpanan dan pascapanen; dan teknologi berbiaya rendah. Begitu teridentifikasi, tujuan kami adalah mengembangkan solusi itu dan memperluas ketersediaannya.”

Turner menjelaskan teknologi baru seperti sensor yang digunakan dalam “pertanian pintar” yang meninjau kondisi dan mengirimkannya ke dalam aplikasi di ponsel cerdas petani. “Contohnya adalah aplikasi untuk akuakultura yang mengukur parameter seperti oksigen dalam air, suhu air, dan nutrisi, sehingga memungkinkan petani akuakultura untuk menghasilkan ikan secara lebih efisien.”

Adapun untuk pakan ikan ternak, serangga bisa menggantikan “ikan sampah” dan isi perut unggas sebagai bahan baku baru yang efisien sumber daya.

“Kami mengembangkan makanan berbasis serangga,” kata David Dawe dari UNFAO. “Ini bukan obat mujarab, tetapi memiliki potensi untuk berkontribusi pada solusi jangka panjang bagi kerawanan pangan di Asia Tengah dan Asia Pasifik. Ada perusahaan yang memproduksi serangga dalam jumlah besar untuk pakan ternak, yang bisa memberikan pengaruh lebih besar pada konsumsi manusia. Pakan ini dapat digunakan di peternakan ikan. Peternakan ikan berkembang dengan pesat di Asia-Pasifik ketika perikanan laut menurun akibat penangkapan ikan secara berlebihan. Akuakultura tumbuh dengan pesat, sehingga serangga bisa memberikan banyak bantuan di sana.”

ANCAMAN IKLIM

Para ahli mengatakan bahwa kekeringan dan guncangan iklim lainnya merupakan ancaman berulang yang kurang dapat diprediksi bagi ketahanan pangan daripada kurangnya akses, pembiayaan, atau dukungan.

“Penanganan guncangan iklim tidak boleh diabaikan,” kata Dawe. “Guncangan iklim bisa merugikan banyak keluarga selama beberapa generasi. Orang yang lahir pada masa kekeringan akan mendapatkan pekerjaan dengan gaji lebih rendah 35 tahun mendatang, demikian menurut analisis di Indonesia.”

Selain teknologi komunikasi baru, kerja sama internasional, dan urun daya (crowdsourcing) yang telah meningkatkan upaya bantuan, inovasi lainnya yang kurang dikenal dapat membantu meringankan penderitaan yang terkait dengan iklim.

“Asuransi tanaman penting dalam memastikan stabilitas dan mengurangi kerugian akibat guncangan iklim,” kata Tang. “Akan tetapi, menemukan struktur premi yang tepat, mengukur pola cuaca secara akurat, dan menyesuaikan klaim menimbulkan tantangan.”

Varietas padi baru yang tahan terhadap perendaman berkepanjangan yang disebabkan oleh banjir atau yang berbunga lebih awal di pagi hari sebagai penangkal suhu siang yang lebih tinggi juga telah dikembangkan.

“Sudah ada banyak inovasi dalam mengembangkan varietas padi baru,” kata Tang. “Apa yang dibutuhkan adalah membawa varietas tersebut ke pasar, dan kami sedang mencari model bisnis inovatif untuk melakukan hal ini.”

Sesuai dengan sifatnya, pertanian keluarga kecil menawarkan platform terbaik untuk memenuhi kebutuhan ketahanan pangan global secara berkelanjutan, demikian yang disimpulkan Barthwal-Datta. “Ketika keluarga petani kecil memiliki jaminan kepemilikan, mereka berinvestasi dan menggunakan sumber daya secara berkelanjutan. Mereka memandang masa depan jangka panjang bagi diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada pertanian.”

Para ahli mengatakan bahwa dengan bekerja sama untuk menggunakan teknologi baru, meningkatkan pengelolaan sumber daya lahan dan air bersama, dan memberikan dukungan untuk infrastruktur pertanian keluarga, maka negara-negara di Indo-Asia-Pasifik dapat meningkatkan ketahanan pangan meskipun adanya peningkatan tekanan untuk memberi makan populasi yang semakin meningkat jumlahnya.

Selain itu, menghadapi tantangan pangan memerlukan lembaga dan tindakan dinamis yang dapat mengelola sumber daya pertanian secara efisien untuk meningkatkan produktivitas tanaman dan hewan dan melaksanakan kebijakan perdagangan yang menguntungkan guna meningkatkan distribusi makanan yang adil, bahkan di tengah-tengah ketidakpastian lingkungan.


Tiongkok mempercepat akuisisi lahan pertanian

Jacob Doyle

Tiongkok adalah negara yang mengkhawatirkan ketahanan pangan. Dengan 20 persen populasi dunia dan kurang dari 10 persen lahannya yang bisa ditanami, bangsa ini memerlukan solusi. Rasio yang tidak menguntungkan itu mendasari langkah terbaru perusahaan Tiongkok untuk memperoleh petak-petak lahan pertanian besar di luar perbatasan Tiongkok. Para ahli mengatakan bahwa tindakan itu mungkin didorong oleh kepentingan bisnis dan kebijakan nasional, dan oleh preferensi konsumen Tiongkok terhadap produk makanan asing daripada kebutuhan gizi semata.

Selain itu, kantor berita resmi Tiongkok Xinhua menyatakan bahwa lebih dari 40 persen lahan yang bisa ditanami di Tiongkok mengalami degradasi. Reuters melaporkan bahwa degradasi ini mengurangi kemampuan Tiongkok untuk menghasilkan makanan yang cukup bagi penduduknya.

Kegiatan akuisisi lahan yang dilakukan Tiongkok telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan pemerintah asing. “Akuisisi lahan yang dilakukan Tiongkok akhir-akhir ini tidak difokuskan untuk memperluas wilayah, tetapi untuk ketahanan pangan,” kata Dr. Andrew Scobell, yang menulis tentang Tiongkok sebagai ilmuwan politik senior di Rand Corp. di Arlington, Virginia. “Sepuluh tahun yang lalu, masalahnya adalah akuisisi energi dan akuisisi perusahaan sumber daya. Perusahaan Tiongkok mencoba, tapi tidak berhasil, untuk membeli Rio Tinto, raksasa pertambangan Inggris-Australia. Saat ini, komoditas melemah, dan ekonomi Tiongkok sedang melambat, sehingga trennya adalah menuju akuisisi yang berhubungan dengan pangan.”

Konsumen Tiongkok lebih cenderung memercayai produk makanan yang diimpor daripada produk domestik, demikian ungkap Scobell yang mengutip penelitian terbaru tentang pendapat konsumen Tiongkok yang dilakukan oleh koleganya di Rand. Kecenderungan ini berakar pada skandal makanan tercemar beberapa tahun lalu seperti contohnya pada tahun 2008 yang melibatkan susu formula terkontaminasi yang membuat 294.000 bayi sakit dan menyebabkan kematian enam bayi.

“Dapatkah Tiongkok membersihkan sektor makanannya di dalam negeri dan meyakinkan konsumen Tiongkok untuk membeli produk yang ditanam di dalam negeri? Jika tidak, akan terus ada permintaan produk pangan impor,” kata Scobell. “Sama seperti label organik yang populer di dunia Barat, hal serupa bisa terjadi di Tiongkok, dan hal ini bisa membuat pembelian produk buatan lokal menjadi lebih menarik, tapi hal ini belum terjadi. Sementara itu, perusahaan Tiongkok akan terus berupaya untuk membeli lahan pertanian di luar negeri dengan tujuan mengirimkan kembali hasilnya ke Tiongkok.”

Pada tahun 2014, Tiongkok menduduki peringkat pertama sebagai negara yang paling aktif di dunia dalam perdagangan lahan. Tiongkok membeli lahan dari 33 negara tetapi hanya menjual lahannya ke tiga negara, demikian menurut studi yang dipimpin oleh Jonathan Seaquist dari Lund University di Swedia. Pembelian produsen daging babi A.S. Smithfield Foods Inc. oleh Shuanghui International Holdings Tiongkok menjadi berita utama pada tahun 2013, termasuk lebih dari 40.000 hektar lahan pertanian di Missouri, Texas dan North Carolina. Lahan pertanian di Cile, Brasil, Rusia, Ukraina, Bulgaria, dan Australia telah dibeli oleh perusahaan Tiongkok. Hingga Mei 2016, pengembang real estate di Shanghai, Pengxin, berusaha menjadi pemilik lahan swasta terbesar di dunia dengan berupaya untuk mengakuisisi lahan penggembalaan dari S. Kidman & Co., kerajaan bisnis ternak terbesar di Australia.

“Akuisisi tersebut didorong oleh ketahanan pangan,” kata Scobell, “namun tidak serta merta didorong oleh keputusan yang dibuat oleh Politbiro Tiongkok.” Dia menambahkan bahwa meskipun perusahaan Tiongkok yang telah melakukan pembelian aktual, “Setiap perusahaan di Tiongkok memiliki beberapa perbankan, subsidi, dan investasi pemerintah. Sangat rumit untuk mengetahui siapa pemiliknya dan menilai motifnya. Semua ini mendorong munculnya skeptisisme, khususnya di pihak pemerintah asing.”

Indikasi bahwa reaksi negatif telah mulai terjadi dapat dilihat di Selandia Baru. Pihak berwenang di sana telah mengerem rangkaian akuisisi Tiongkok dengan memveto pembelian Pengxin atas Lochinver Station, peternakan domba seluas 138 kilometer persegi. Hal ini membuat Pengxin menarik 10 penawaran lahan lainnya di Selandia Baru. Sementara itu, Australia telah memangkas ambang batas untuk persetujuan akuisisi lahan pedesaan oleh pihak asing dari 2,43 triliun rupiah (186 juta dolar A.S.) menjadi 143,6 miliar rupiah (11 juta dolar A.S.) yang bisa menggagalkan rencana pembelian lahan Tiongkok di sana.

saham