Membangun Pencegahan

Membangun Pencegahan

Membawa Stabilitas ke Hubungan Lintas Selat

Tom Abke

Kemungkinan konflik militer dengan Tiongkok daratan telah muncul di Taiwan sejak pembentukannya sebagai negara berdaulat pada tahun 1949 setelah deklarasi Republik Rakyat Tiongkok di Tiongkok daratan. Tiongkok sudah lama mempertahankan tujuannya untuk melakukan penyatuan dengan Taiwan pada suatu saat nanti. Pengembangan militer Tiongkok secara bertahap selama beberapa dekade dan perlawanan dengan memamerkan kekuatan militer terhadap gerakan yang dilakukan Taiwan di masa lampau guna memperoleh kemerdekaan secara resmi menunjukkan bahwa Tiongkok siap untuk melakukan penyatuan dengan kekuatan militer.

Akan tetapi, sejumlah pertimbangan termasuk kekuatan pertahanan Taiwan yang modern, tangguh, dan mampu bertahan dari serangan musuh, sejauh ini menghalangi langkah militer yang dilakukan oleh Tiongkok dalam apa yang tetap menjadi salah satu hubungan antar negara yang paling ringkih dan kompleks di dunia.

“Tiongkok ingin melakukan unifikasi, Taiwan ingin mempertahankan otonomi,” kata Dr. Douglas Paal, wakil presiden penelitian di Carnegie Endowment for International Peace, dalam sebuah wawancara telepon dengan FORUM. “Sudah lama seperti itu. Di Taiwan, terjadi perdebatan antara mempertahankan otonomi yang dimiliki Taiwan saat ini atau mengambil langkah lebih lanjut dan menjadi negara berdaulat yang independen secara hukum dengan nama yang berbeda dari Tiongkok. Dan Tiongkok telah sering mengancam akan mengambil tindakan yang sifatnya tidak ditentukan — tampaknya tindakan militer — untuk menghentikan terjadinya hal itu.”

Lulusan akademi militer Taiwan melakukan pawai pada saat dibukanya akademi militer bersama untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut di Kaohsiung, Taiwan selatan, pada Juni 2014. reuters

Lulusan akademi militer Taiwan melakukan pawai pada saat dibukanya akademi militer bersama untuk Angkatan Udara dan Angkatan Laut di Kaohsiung, Taiwan selatan, pada Juni 2014. reuters

Sebelum diangkat untuk bekerja di Carnegie, dari tahun 2002 hingga 2006, Paal adalah kepala American Institute di Taiwan, yang menggantikan Kedutaan Besar A.S. pada tahun 1979 setelah A.S. menormalisasi hubungan diplomatiknya dengan Tiongkok.

Ancaman Lintas Udara Kredibel

Tiongkok terus-menerus mengembangkan kekuatan pesawat jet tempur buatan Rusia dan Tiongkok, rudal balistik permukaan-ke-udara (SAM), rudal jelajah, perangkat perang elektronik bergerak termasuk wahana udara tak berawak, dan senjata serangan balasan canggih seperti rudal anti-radiasi pengacak panduan. Gabungan kekuatan militer ini membuat ancaman militer lintas udara Tiongkok ke Taiwan menjadi kekhawatiran utama, terutama jika dibandingkan dengan rendahnya jumlah kekuatan yang dimiliki Taiwan.

“Pertempuran di medan perang tidak hanya mengandalkan jumlah semata,” kata Dr. Ching Chang, seorang peneliti di Society for Strategic Studies di Taiwan. “Pihak yang memiliki pasukan atau alutsista lebih kuat tidak selalu menang di setiap pertempuran. Contohnya bisa dilihat pada kasus perang A.S. vs Vietnam atau invasi Soviet ke Afghanistan, jumlah pasukan memberikan keunggulan yang menguntungkan tetapi tidak pernah memberikan jaminan kemenangan. Kualitas persenjataan juga tidak selalu berhasil mengatasi keunggulan jumlah pasukan.”

Akan tetapi dalam kasus Taiwan, kualitas pasukan mereka diakui sebagai suatu keuntungan. “Keuntungan utama yang dimiliki Taiwan adalah pasukannya yang relatif modern,” kata Mark Cozad, analis penelitian pertahanan senior di Rand Corp. Apakah analisis tersebut membandingkan kemutakhiran sistem pertahanan taktis dan strategisnya atau jet tempur canggihnya, modernitas “secara tradisional telah menjadi keuntungan bagi Taiwan, terutama ketika dihadapkan dengan ancaman udara dari Tiongkok.”

Cozad mengakui bahwa dalam hal besarnya ukuran dan kemampuan persenjataan pasukan, Taiwan kalah jauh dari persenjataan yang dimiliki Tiongkok jika konflik militer besar-besaran meletus di Selat Taiwan. Namun dia menambahkan bahwa biaya mengalahkan Taiwan dalam konflik tersebut, dengan tujuan unifikasi, mungkin terlalu tinggi untuk dicoba dilakukan oleh Tiongkok — setidaknya di masa mendatang.

“Jika saya melihat bagaimana ancaman dari Tiongkok dapat dinetralkan, hal terbesar yang perlu dipertimbangkan adalah kelangsungan hidup,” kata Cozad. Tingkat kelangsungan hidup yang memadai dari pasukan Taiwan, jelasnya, dan bukannya kemampuan untuk benar-benar mengalahkan Tiongkok di medan pertempuran, bisa cukup untuk mencegah Tiongkok untuk menggelar solusi militer terhadap masalah politik unifikasi.

Mengamankan Kelangsungan Hidup

Cozad mencantumkan sistem pertahanan udara bergerak, fasilitas bawah tanah, alat penyamar, rangkaian perangkap — baik fisik dan elektronik — dan perangkat lainnya sebagai kunci untuk kelangsungan hidup. Dia juga menyebut strategi dan taktik yang “membuat sulit bagi musuh untuk mengetahui di mana target berada” serta perkiraan tidak jelas terhadap kerusakan akibat pertempuran dan pada dasarnya untuk “meningkatkan tingkat ketidakpastian.”

Personel militer Taiwan memasuki helikopter Chinook CH-47SD selama latihan militer di sebuah pangkalan Angkatan Darat di Hsinchu, Taiwan utara, pada Juli 2015. reuters

Personel militer Taiwan memasuki helikopter Chinook CH-47SD selama latihan militer di sebuah pangkalan Angkatan Darat di Hsinchu, Taiwan utara, pada Juli 2015. reuters

“Jika Anda mengamati literatur ilmu militer Tiongkok, Anda akan menemukan bahwa mereka cukup konservatif dalam perencanaan mereka,” kata Cozad. “Sehingga ketidakpastian bisa menjadi hal yang sangat sulit untuk ditangani oleh mereka.”

Cozad menegaskan bahwa langkah yang diambil oleh Taiwan untuk melindungi kekuatannya dan meningkatkan kelangsungan hidup di sepanjang konflik yang berlarut-larut merupakan langkah tepat yang berfungsi sebagai pencegah terhadap invasi Tiongkok. Langkah-langkah ini mencakup sistem fasilitas bawah tanah yang rumit seperti Pusat Komando Militer Tri-Matra Hengshan, dibangun untuk mempertahankan diri terhadap rudal balistik Tiongkok; Pusat Operasi Udara, dikenal sebagai “Gunung Katak,” yang mengawasi jaringan pertahanan udara dan rudal Taiwan; fasilitas F-16 di Chia-yi, yang seluruhnya berada di dalam gunung; dan pangkalan cadangan di pantai timur Taiwan di dalam Chiashan, atau “Gunung Optimal.”

Paal setuju dengan Cozad tentang arti penting kelangsungan hidup. “Ini adalah prioritas utama, dan hal itu telah dilakukan,” kata Paal. “Laksamana Chen Yeong-kang, wakil menteri pertahanan, telah terlibat dalam hal ini selama beberapa waktu. Taiwan telah melakukan pekerjaan yang sangat serius dalam mencoba untuk belajar menggunakan jalan raya sebagai landasan pacu ketika landasan pacu diledakkan, dan kemudian belajar untuk memperbaiki landasan pacu ketika diledakkan, untuk menjaga agar pesawat terbang mereka dapat tetap mengudara.”

Jika gunung tempat pangkalan F-16 di Chia-yi diserang, “besar kemungkinan akan mampu mempertahankan diri, dan ketika pesawat terbang tersebut keluar mengangkasa, mereka akan menghadapi ancaman lain dari rudal permukaan-ke-udara yang harus ditangani,” kata Paal. Taiwan telah mengakuisisi pertahanan rudal, mungkin tidak pada kecepatan yang cukup berani untuk memenuhi tantangan dari Tiongkok, tapi pastinya cukup mempersulit upaya Tiongkok untuk mengintimidasi Taiwan.”

Chang merasakan bahwa biaya yang harus dibayar oleh serangan militer Tiongkok terhadap Taiwan tidak hanya sekadar mencakup ongkos pertempuran, tetapi juga melibatkan arena kepentingan perdagangan global. “Setiap konflik atau bahkan ketegangan yang terjadi di Selat Taiwan bisa jadi mengakibatkan dampak psikologis dan dampak besar terhadap pasar global,” kata Chang, “karena Taipei dan Beijing memiliki peran signifikan dalam berbagai rantai pasokan barang dagangan internasional.”

Biaya yang diperkirakan muncul terhadap kepentingan perdagangan Tiongkok ini tidak hanya menghalangi Tiongkok untuk melaksanakan solusi militer terhadap unifikasi dengan Taiwan, tetapi juga telah menetapkan langkah untuk menggunakan hubungan ekonominya yang semakin berkembang dengan Taiwan sebagai landasan strategi barunya untuk melakukan unifikasi.

“Tujuan utama Tiongkok adalah unifikasi. Jadi ada banyak cara potensial yang dapat ditempuh Tiongkok untuk mencapai tujuannya,” ungkap Cozad. “Sejak tahun 2008, ketika Presiden Taiwan Ma Ying-jeou dan partai KMT-nya terpilih, sebagian besar hubungan kedua negara berkembang menjadi lebih baik. Sudah ada upaya dari kedua belah pihak untuk meningkatkan hubungan, hubungan politik dan ekonomi, tapi sekali lagi ada batasan terhadap apa yang bersedia untuk diterima oleh penduduk Taiwan secara keseluruhan.”

Konsekuensi Politik

Intoleransi yang dirasakan terhadap meningkatnya upaya penyatuan, dicampur dengan kekhawatiran tentang konsekuensi unifikasi — keprihatinan yang dipicu oleh laporan negatif dari populasi Hong Kong atas unifikasi mereka dengan Tiongkok, demikian kata Cozad — bisa mendorong kembalinya kekuasaan ke tangan partai oposisi saat ini, Partai Progresif Demokratik (Democratic Progressive Party – DPP). Simpati DPP terhadap gerakan kemerdekaan Taiwan, yang lebih menyukai Taiwan menjadi negara berdaulat yang independen dengan sepenuhnya dari Tiongkok, bisa menimbulkan perselisihan dengan Tiongkok daratan, seperti yang terjadi satu dekade lalu ketika Taiwan dua kali menyelenggarakan referendum terkait dengan kemerdekaan.

Deklarasi kemerdekaan merupakan salah satu tindakan yang dipandang Chang sebagai kemungkinan penyebab intervensi militer Tiongkok terhadap Taiwan. “Kemungkinan dilakukannya solusi militer dapat terjadi hanya jika Taipei mengklaim kemerdekaan politik secara formal dan de jure,” kata Chang. “Mengubah Republik Tiongkok dengan nama lain seperti Republik Taiwan tentunya dapat memicu konflik. Bentuk lain dari upaya untuk memperoleh kemerdekaan de facto juga dapat menimbulkan risiko. Di sisi lain, menuduh Taipei menunda proses unifikasi sebagai alasan untuk mengaktifkan tindakan militer terhadap Taiwan besar kemungkinan tidak akan terjadi.”

Menurut Cozad, skenario yang paling mungkin terjadi dari setiap intervensi militer yang dilakukan Tiongkok adalah memblokade jalur pelayaran Taiwan, sehingga mengisolasi Taiwan dari seluruh dunia.

Memperkuat Pertahanan

Dapatkah prospek berkelanjutan dari penggunaan — atau ancaman — kekuatan oleh Tiongkok membenarkan dilakukannya pengembangan pertahanan udara Taiwan dengan menyertakan pesawat tempur canggih seperti F-35 Amerika Serikat, sebagaimana yang telah didesak oleh beberapa pihak? Paal merasakan bahwa ada lebih banyak cara hemat biaya untuk meningkatkan pertahanan Taiwan. “Kembali pada tahun 1992, saya sangat terlibat dalam menjual F-16 ke Taiwan,” kata Paal, “karena pada saat itu, kemampuan RRT [Republik Rakyat Tiongkok] telah mengimbangi kemampuan Taiwan untuk melawan kekuatan yang digunakan untuk melawannya.”

Sejak itu, Paal berpendapat, waktu dan kondisi telah berubah. “Tingkat pelemahan kekuatan dalam pertempuran antara pesawat tempur canggih Taiwan — semisal mereka memilikinya — dan kemampuan yang sekarang ini dimiliki oleh Tiongkok untuk menembak jatuh pesawat tempur itu, telah berubah menjadi begitu tinggi sehingga Anda harus bertanya-tanya apakah menambah lebih banyak pesawat tempur merupakan cara terbaik untuk membelanjakan anggaran pertahanan Taiwan. Bukankah lebih baik untuk memiliki kapal patroli yang mampu bergerak dengan cepat dan helikopter serta lebih banyak rudal patriot anti-SAM dan jenis kemampuan anti-rudal lainnya, sebagai fokus pembelanjaan militer? Karena saat mengerahkan sebuah pesawat tempur di udara, Anda kehilangan 2,1 triliun rupiah (150 juta dolar A.S.) atau berapa pun biaya alutsista tersebut, sedangkan, Anda dapat meluncurkan beberapa rudal guna melawan alutsista buatan Tiongkok dengan biaya yang jauh lebih rendah.”

saham