Keselamatan Pencegatan Udara

Keselamatan Pencegatan Udara

Memperkuat norma-norma internasional merupakan kunci untuk memastikan keselamatan dan keamanan

Marsekal Madya Russell J. Handy/ANGKATAN UDARA A.S.

Angkatan Udara A.S. akan merayakan ulang tahun ke-70 pada September 2017. Sejak pengoperasian divisi dinas ini, kekuatan udara telah berkembang menjadi bagian pertahanan dan diplomasi yang inovatif, fleksibel, dan efektif. Angkatan Udara A.S. menyajikan kekuatan tempur di udara, memberikan bantuan kemanusiaan, dan mendorong hubungan diplomatik di setiap bagian dunia. Angkatan Udara A.S. telah menciptakan rekor pencapaian tangguh melalui operasi dan kemajuannya selama beragam sejarah yang dialaminya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini, telah terjadi evolusi stabil aktivitas udara militer di dekat batas-batas nasional negara di Kutub Utara dan kawasan Indo-Asia-Pasifik. Ini menyoroti masalah keselamatan tertentu: kebutuhan bagi semua negara untuk mematuhi standar yang diakui secara internasional untuk pencegatan udara yang menjamin keselamatan dan keamanan personel dan aset, sambil menjaga hak masing-masing negara untuk beroperasi di wilayah udara internasional. Negara-negara mempertahankan dan menghormati hak untuk membela wilayah udara mereka, yang jelas-jelas mencakup pengawasan dan pengintaian wilayah udara yang berdekatan dengan perbatasan suatu negara.

Presiden Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) P.B.B. Olumuyiwa Benard Aliu berpidato dalam pertemuan keselamatan global di Kanada pada Februari 2015. ICAO menetapkan standar navigasi udara internasional. REUTERS

Presiden Dewan Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) P.B.B. Olumuyiwa Benard Aliu berpidato dalam pertemuan keselamatan global di Kanada pada Februari 2015. ICAO menetapkan standar navigasi udara internasional. REUTERS

Kebanyakan pemimpin akan menyetujui bahwa kegagalan untuk menetapkan dan mematuhi seperangkat aturan dan prosedur meningkatkan kemungkinan kecelakaan pesawat terbang akibat kesalahpahaman atau salah perhitungan dan potensi konflik. Dalam konteks ini, ada manfaatnya untuk membahas norma-norma internasional untuk pencegatan udara dan bagaimana angkatan udara modern menerapkannya.

Norma-norma internasional

Hukum internasional, seperti umumnya disepakati berdasarkan konvensi, mendefinisikan wilayah udara internasional sebagai wilayah udara yang tidak tunduk pada kedaulatan suatu negara yang diakui secara internasional, termasuk semua wilayah udara yang mengarah ke laut dari wilayah udara nasional negara-negara pantai, wilayah udara di atas zona bersebelahan, zona ekonomi eksklusif, dan laut lepas. Pesawat terbang di wilayah udara internasional diwajibkan untuk beroperasi dengan memperhatikan sebagaimana mestinya hak-hak, kebebasan, dan penggunaan yang sah dari laut dan wilayah udara oleh pesawat terbang semua negara.

Selain persyaratan untuk beroperasi dengan “memperhatikan sebagaimana mestinya,” tidak ada hukum internasional yang ditetapkan mengenai pertemuan pesawat terbang di udara. Tetapi ada norma-norma internasional dan standar penerbangan yang melestarikan hak internasional untuk menggunakan wilayah udara internasional serta menjamin keselamatan dan keamanan semua orang yang menggunakan dan melintasi ruang ini.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Organization – ICAO), sebuah badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa, didirikan pada tahun 1947 untuk alasan ini. Dengan keanggotaan 190 dari 193 negara anggota P.B.B. (termasuk Rusia dan Tiongkok), ICAO membuat pedoman prinsip-prinsip navigasi udara internasional dan menetapkan praktek standar yang direkomendasikan. Untuk memastikan operasi yang aman di wilayah udara tersebut, Konvensi Penerbangan Sipil Internasional (sering disebut sebagai “Konvensi Chicago”) dan lampirannya, termasuk Lampiran 2 (Aturan Udara) dan publikasi ICAO lainnya, merupakan sumber bimbingan untuk kemampuan penerbangan profesional yang diikuti oleh angkatan udara modern.

Ketika kompatibel dengan persyaratan misi, pesawat terbang militer yang bertemu satu sama lain di udara seharusnya beroperasi sesuai dengan pedoman ICAO. Di antara standar-standar ini, dalam Pasal 3.8 Lampiran 2 (Aturan Udara), ICAO mendefinisikan dan menguraikan standar perilaku dan prosedur untuk melaksanakan pencegatan udara yang aman. Meskipun standar ICAO ini dimaksudkan untuk mencegat pesawat terbang sipil, prinsip-prinsip dasarnya sepenuhnya relevan dan diterima secara universal dalam konteks militer. Banyak negara juga menerbitkan standar nasional untuk pencegatan udara. Contohnya, Administrasi Penerbangan Federal A.S. (Federal Aviation Administration – FAA) menguraikan prosedur pencegatan udara guna menjamin keselamatan semua pesawat terbang dan personel yang terlibat. Penerapan prosedur ini secara internasional adalah satu-satunya cara untuk memastikan keselamatan operasi udara di seluruh dunia.

Kami menerapkan prosedur ini untuk pencegatan udara dalam tiga tahap: tahap pendekatan, tahap identifikasi, dan tahap pasca-pencegatan.

Prosedur ICAO dan FAA menyatakan bahwa tanggung jawab untuk keselamatan hanya berada di tangan pesawat terbang yang mencegat, terlepas dari tahap penerbangan yang sedang dijalani. Pilot pesawat terbang yang memulai perjumpaan udara bertanggung jawab untuk memastikan pemisahan yang aman ketika beroperasi berdasarkan prinsip “memperhatikan sebagaimana mestinya.” Memperhatikan sebagaimana mestinya membentuk pedoman perilaku pembatasan diri timbal balik yang menyadari dan menghormati kehadiran pesawat terbang lain.

Pencegatan aman 

Prinsip ini merupakan dasar dan sangat penting untuk operasi yang aman dari pesawat terbang di wilayah udara bersama. Selama tahap pendekatan, pilot umumnya mengharapkan pesawat terbang pencegat untuk bergabung di sebelah kiri, atau sisi kiri pesawat terbang yang dicegat, dalam posisi yang terlihat sedikit di atas dan di depan pesawat terbang yang dicegat sambil tetap menjaga jarak dengan jelas. Selama tahap ini, penting bagi pesawat terbang pencegat untuk mengendalikan penutupan ruang gerak dan tetap dapat diprediksi. Setelah kecepatan dan posisinya telah ditetapkan dengan aman, pesawat terbang pencegat seharusnya, jika perlu, melanjutkannya dengan tahap prosedur identifikasi.

Selama tahap itu, pesawat terbang seharusnya bergerak dari posisi stabil (observasi) di sisi kiri untuk mencapai langkah-langkah yang diperlukan hanya untuk identifikasi. Pesawat terbang pencegat seharusnya berada pada jarak dekat dengan pesawat terbang yang dicegat dalam cara yang stabil dan dapat diprediksi dan menghindari tingkat penutupan ruang gerak berlebihan yang menggelisahkan pesawat terbang yang dicegat.

Delegasi dari 18 negara dan pejabat dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional membahas cara-cara untuk meningkatkan keamanan penerbangan global. AFP/GETTY IMAGES

Delegasi dari 18 negara dan pejabat dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional membahas cara-cara untuk meningkatkan keamanan penerbangan global. AFP/GETTY IMAGES

Pesawat terbang pencegat seharusnya melanjutkan tidak lebih dekat dari yang diperlukan selama tahap ini. Setelah identifikasi positif diperoleh, pesawat terbang pencegat seharusnya segera melanjutkannya dengan tahap pasca-pencegatan.

Selama tahap ini, pesawat terbang pencegat seharusnya menjauh dengan cara yang terkendali, sambil tetap dapat diprediksi dan stabil. Pesawat terbang yang dicegat seharusnya meningkatkan kewaspadaan di sepanjang proses pencegatan dan mempertimbangkan hal ini sebagai tahap penerbangan yang kritis.

Pencegatan udara berbahaya ketika para peserta mengabaikan standar dan menggunakan manuver tidak sah yang dapat mengakibatkan bencana. Penerbang harus mengikuti standar yang tinggi dalam hal ini. Komandan juga bertanggung jawab untuk menegakkan standar-standar ini. Sebelum pilot di Angkatan Udara A.S. diizinkan untuk terbang guna melakukan pencegatan udara, pilot harus dievaluasi atas kemampuannya untuk melakukan prosedur seperti yang diuraikan di atas. Kegagalan untuk memenuhi standar tersebut oleh seorang pilot di tingkat mana pun dapat mengakibatkan tindakan mulai dari pelatihan perbaikan hingga hilangnya status terbang.

Pencegatan terjadi untuk sejumlah alasan, dan istilah “mencegat” itu sendiri tidak selalu berarti pilot pencegat bermaksud untuk mengubah arah atau mengarahkan pesawat terbang yang dicegat. Kebanyakan pencegatan adalah untuk tujuan pelatihan atau untuk membuktikan identifikasi pesawat terbang secara visual.

Ketika wilayah kepentingan bersama global menjadi semakin jenuh dengan lalu lintas udara, potensi perjumpaan di udara akan meningkat, dan kebutuhan untuk mematuhi prosedur internasional yang diakui menjadi penting. Prosedur ICAO untuk pencegatan udara menyediakan kerangka kerja untuk operasi pesawat terbang yang aman di wilayah udara internasional.

Prosedur ini dibuat dengan mengutamakan keselamatan. Melalui standarisasi internasional dan kepatuhan terhadap prosedur yang telah ditetapkan, risiko yang melekat dalam melakukan pencegatan udara dapat dikurangi bagi semua pihak yang berbagi wilayah udara.

Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada para Penerbang dari semua negara atas perhatian mereka terhadap masalah penting ini dan meminta pemimpin Penerbang dari seluruh dunia untuk memastikan awaknya mematuhi norma-norma internasional yang diterima selagi memenuhi persyaratan rantai komando mereka. Tujuan yang sama berlaku bagi semua Penerbang untuk menjadi arbiter perdamaian dan stabilitas di daerah masing-masing. Pencegatan udara yang aman dan tertib merupakan bagian penting dari tujuan ini.

saham