Apakah kita sendirian di alam semesta?

Apakah kita sendirian di alam semesta?

Reuters

Para ilmuwan akan memulai pencarian kehidupan makhluk asing terbesar yang belum pernah ada sebelumnya. Mereka menyisir langit untuk mencari sinyal dari peradaban di luar tata surya kita dengan dana 1,35 triliun rupiah (100 juta dolar A.S.) dari miliarder Rusia dan dukungan dari fisikawan Stephen Hawking.

Pertanyaan apakah kita sendirian di alam semesta telah muncul di benak seluruh kalangan masyarakat. Penemuan baru-baru yang menyatakan bahwa mungkin ada puluhan miliar planet layak huni di galaksi kita telah menambahkan urgensi untuk menemukan jawaban.

“Tidak ada pertanyaan yang lebih besar. Sudah waktunya berkomitmen untuk menemukan jawabannya — untuk mencari kehidupan di luar Bumi,” kata Hawking kepada jurnalis di peluncuran program pada Juli 2015 di London.

Beberapa teleskop radio terbesar di dunia akan digunakan untuk memindai sinyal radio khas yang bisa menunjukkan adanya kehidupan cerdas. Astronom akan mendengarkan sinyal dari jutaan sistem bintang yang terdekat dengan Bumi dan 100 galaksi terdekat, meskipun mereka belum berencana untuk mengirim kembali pesan ke ruang angkasa. Hawking mengatakan bahwa beberapa bentuk kehidupan sederhana di dunia lain tampak sangat mungkin, tetapi keberadaan kecerdasan adalah masalah lain, dan manusia harus berpikir keras untuk membuat kontak.

“Bisa jadi miliaran tahun mendatang sebuah peradaban berhasil membaca salah satu pesan kita. Jika demikian, mereka akan jauh lebih kuat dan mungkin tidak melihat kita lebih berharga daripada seperti halnya kita melihat bakteri,” katanya.

Proyek selama 10 tahun yang dinamakan Breakthrough Listen tersebut didanai oleh pengusaha internet Rusia Yuri Milner. Dia sendiri memiliki latar belakang pendidikan ilmu fisika yang mendapatkan kekayaannya dari investasi awal yang cerdas pada perusahaan rintisan seperti Facebook Inc. Dia mengatakan bahwa dia bertujuan untuk membawa pendekatan Lembah Silikon ke “pertanyaan teknologi yang paling menarik di era kita.”

Ketika berusia 10 tahun di Moskow, Milner terpesona dengan gagasan kehidupan di luar bumi setelah membaca karya astrofisikawan Carl Sagan Intelligent Life in the Universe. Dia percaya bahwa peradaban lain bisa mengajarkan kita cara menangani tantangan seperti mengalokasikan sumber daya alam, demikian ungkapnya. Jika kita tidak menemukan makhluk lain, kita bisa mempelajari hal lain.

“Jika kita sendirian, kita perlu menghargai apa yang kita miliki,” katanya. “Pesannya adalah, alam semesta tidak memiliki cadangan.”

Proyek baru yang dikenal dengan akronim SETI (“search for extraterrestrial intelligence” atau pencarian kecerdasan di luar bumi) membuat topik lain di bidang ini menjadi tidak ada apa-apanya. Secara global, kurang dari 27,2 miliar rupiah (2 juta dolar A.S.) per tahun dialokasikan untuk SETI, demikian kata Dan Werthimer, penasihat proyek Milner yang mengarahkan program SETI@home yang berafiliasi dengan University of California di Berkeley, yang meminta relawan untuk menjalankan perangkat lunak pada komputer rumah mereka untuk menganalisis data.

Saat ini, oleh karena peningkatan teknologi, termasuk dalam kekuatan komputasi dan sensitivitas teleskop, 1,35 triliun rupiah (100 juta dolar A.S.) akan dikucurkan untuk melakukan lebih banyak penelitian daripada yang dilakukan pada awal tahun 1990-an, saat SETI terakhir kalinya mendapatkan dana yang signifikan. Kemajuan tersebut memungkinkan para ilmuwan untuk memantau beberapa miliar frekuensi radio pada satu waktu, alih-alih beberapa juta, dan untuk melakukan pencarian di langit 10 kali lebih banyak daripada pada awal tahun 1990-an.

Setiap sinyal yang dideteksi para ilmuwan merupakan sinyal yang telah dibuat bertahun-tahun lalu, bahkan mungkin beberapa abad atau milenium sebelumnya. Sinyal radio membutuhkan waktu empat tahun hanya untuk melakukan perjalanan antara Bumi dan bintang terdekat di luar tata surya kita. Breakthrough Listen akan memesan waktu di teleskop radio, termasuk di Observatorium Parkes di New South Wales, Australia dan Observatorium Astronomi Radio di Green Bank, Virginia Barat. Milner berencana untuk memesan waktu sekitar dua bulan dalam setahun di setiap lokasi, anugerah bagi para ilmuwan yang biasanya mungkin mendapatkan dua hari dalam setahun untuk menggunakan teleskop.

Tim yang dipimpin oleh para ilmuwan seperti Peter Worden, yang sampai awal tahun 2015 menjadi direktur di Pusat Penelitian Ames NASA, akan mengatur sinyal radio yang mereka temukan, memublikasikan data, dan memeriksanya untuk mencari adanya pola. Sasarannya bukan menekankan pada memahami sinyal, namun lebih mengarah pada menetapkan apakah sinyal tersebut diciptakan oleh kehidupan cerdas alih-alih fenomena alam.

Para ilmuwan mengatakan fakta bahwa manusia telah mengembangkan sinyal radio membuatnya menjadi lebih dimungkinkan bahwa makhluk lain juga dapat menggunakannya. “Proyek ini tidak mengatakan apa-apa tentang peradaban, tapi memberi tahu Anda bahwa ada sebuah peradaban,” kata Frank Drake, pendukung proyek tersebut.

saham