Kehadiran pengebom berkesinambungan A.S. menampilkan komitmen terhadap keamanan regional

Kehadiran pengebom berkesinambungan A.S. menampilkan komitmen terhadap keamanan regional

Staf FORUM

A.S. mengungkapkan komitmennya terhadap wilayah Indo-Asia-Pasifik dalam banyak cara. Pencegahan dan jaminan merupakan faktor utama di antara tindakan-tindakannya untuk mengungkapkan komitmen tersebut. Angkatan Udara A.S. mempertahankan visibilitas konstan di garis depan melalui kehadiran pengebom berkesinambungannya (continuous bomber presence – CBP).

Kehadiran pengebom berkesinambungan yang berbasis di Guam dan daratan A.S. meningkatkan kemampuan tempur A.S. dengan mementaskan pertunjukan kekuatan secara permanen, demikian yang dijelaskan oleh Mayor Seth Spanier, kepala Operasi Pengebom di Angkatan Udara Pasifik, kepada FORUM. Kehadiran pengebom berkesinambungan ini mencakup pesawat terbang B-1, B-2, dan B-52. B-2 Spirit dan B-52 Stratofortress merupakan pesawat yang memiliki kemampuan nuklir.

Pada awal Januari 2016 dalam menanggapi klaim provokatif Korea Utara, misalnya, Angkatan Udara A.S. menerbangkan B-52 dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam ke Pangkalan Udara Osan di Korea Selatan, demikian menurut situs web theaviationist.com. Pesawat jet tempur F-15K Slam Eagle Korea Selatan dan F-16 Fighting Falcon A.S. juga terbang melintasi pangkalan itu.

Penerbangan melintas pada ketinggian rendah itu menunjukkan kemampuan A.S. dan Korea Selatan untuk menanggapi setiap ancaman kapan saja, demikian yang dikatakan Jenderal Curtis M. Scaparotti, komandan Pasukan A.S. di Korea, kepada situs web aviationist.com.

“B-52 merupakan simbol kekuatan udara Amerika yang terlihat dengan sangat jelas,” kata Kolonel Kristin Goodwin, komandan Wing Bom ke-2, kepada situs web Air Force Global Strike Command. “Sekutu dan musuh kami memperhatikan kapan, di mana, dan bagaimana kami mengerahkannya sehingga membuat B-52 menjadi platform yang ideal untuk Medan Tempur Asia-Pasifik yang semakin dinamis.”

Pesawat terbang B-52 bisa terbang lebih dari 12.800 kilometer tanpa mengisi bahan bakar. Pesawat terbang ini menyediakan kemampuan serangan jarak jauh yang persisten, demikian ungkap Mayor Spanier. Pengerahan di garis depan meningkatkan waktu untuk melakukan serangan mendadak dan mengurangi stres pada awak dan sumber daya pemeliharaan.

Selain itu, Angkatan Udara A.S. terus memperluas kehadiran pengebom berkesinambungannya di wilayah tersebut. Pada November 2015, A.S. setuju untuk melakukan rotasi pesawat pengisi bahan bakar di udara dan pesawat pengebom di pangkalan Angkatan Udara Australia (RAAF) di Tindal dan Darwin.

“Idenya adalah seperti apa yang kita lakukan di Guam — rotasi pesawat pengebom dan pesawat pengisi bahan bakar di udara untuk melakukan pelatihan dan bekerja dengan sekutu kita Australia … serta pelatihan pilot dan awak udara kita — untuk membantu mereka memahami luasnya wilayah itu,” kata Marsekal Lori Robinson, komandan Angkatan Udara Pasifik, pada pertemuan di Washington, D.C., demikian menurut situs web janes.com. “Kemampuan kita untuk memproyeksikan kekuatan di medan tempur akan menjadi salah satu kemampuan yang ingin kita miliki karena … itu menunjukkan komitmen terhadap medan tempur itu,” kata Marsekal Robinson, demikian yang dilaporkan janes.com.

Para pejabat militer dari A.S. dan Australia masih merencanakan rincian rotasi tersebut. Pesawat terbang B-52 Stratofortress Angkatan Udara A.S. berpartisipasi dalam latihan Pitch Black 2014 di Australia, latihan udara yang diselenggarakan RAAF setiap dua tahun selama 20 tahun terakhir ini, demikian menurut Departemen Pertahanan Australia.

Setiap tahun di Guam, Pangkalan Angkatan Udara Andersen menyelenggarakan latihan bersama dan multilateral tahunan yang berlangsung selama dua minggu yang dikenal sebagai Cope North dan latihan udara, darat, dan laut dua tahunan yang berlangsung selama sembilan hari yaitu Exercise Valiant Shield. Menurut situs web Komando Pasifik A.S., Cope North 15 diikuti oleh lebih dari 2.340 peserta, dengan awak B-52 dan personel militer dari Australia, Jepang, Selandia Baru, Filipina, dan Korea Selatan, serta pengamat dari Vietnam dan Singapura.

Istilah diplomasi pesawat pengebom telah menjadi bagian dari misi Angkatan Udara sejak awal pendiriannya dan akan terus berlanjut, demikian yang dikatakan Mayor Andrew Marshall, navigator radar B-52, kepada Air Force Magazine pada Agustus 2015. “Coba pikirkan. Ketika Anda mengatakan, ‘saya bisa mencegah siapa pun yang datang mendekat, bahwa saya mewakili … Amerika, dan kami ada di sini untuk teman-teman kami’ — kami telah melakukannya sejak Perang Dunia I, dan kami akan terus melakukannya.”

saham