Filipina mendapat pesawat jet tempur pertama dalam satu dekade di tengah perseteruan laut

Filipina mendapat pesawat jet tempur pertama dalam satu dekade di tengah perseteruan laut

The Associated Press

Filipina menerima dua pesawat jet tempur buatan Korea pada akhir November 2015 — pesawat tempur supersonik pertama negara itu dalam satu dekade — ketika negara ini memperkuat militernya yang mengalami kekurangan dana di tengah meningkatnya perseteruan teritorial dengan Tiongkok.

Pesawat jet FA-50 tersebut mendarat di Clark Freeport, bekas pangkalan Angkatan Udara A.S. di sebelah utara Manila, sambil pejabat pertahanan Filipina bertepuk tangan dan truk pemadam kebakaran menyemprotkan air sebagai tanda sambutan penghormatan tradisional untuk pesawat yang masih belum dipersenjatai tersebut.

Filipina membeli 12 pesawat jet FA-50, yang terutama merupakan pesawat jet latih yang dikonversi militer untuk berperan sebagai pesawat tempur multiperan, dari Korea Aerospace Industries senilai 5,56 triliun rupiah (402 juta dolar A.S.). Pesawat jet lainnya akan dikirimkan secara berkelompok hingga 2017.

Senjata untuk FA-50, termasuk bom dan roket, akan dibeli setelahnya.

“Kami senang kami akhirnya kembali ke zaman supersonik,” kata Menteri Pertahanan Voltaire Gazmin.

Militer Filipina menonaktifkan armada pesawat tempur supersonik terakhirnya, F-5, pada tahun 2005. Program modernisasi militer yang mencakup rencana untuk pembelian setidaknya satu skuadron pesawat jet tempur dan fregat angkatan laut tertunda selama beberapa tahun, terutama karena kurangnya dana.

Selama bertahun-tahun, kekuatan militer negara ini menurun menjadi salah satu yang paling lemah di Asia.

Akan tetapi di bawah Presiden saat ini Benigno Aquino III, perseteruan teritorial dengan Tiongkok atas kepulauan di Laut Cina Selatan telah meningkat dan mengakibatkan didudukinya Scarborough Shoal yang disengketakan oleh Tiongkok pada tahun 2012 sehingga mendorong militer bergegas mendapatkan kapal Angkatan Laut dan pesawat terbang Angkatan Udara yang baru dengan bantuan dari Amerika Serikat, sekutu lama perjanjian pertahanan Filipina.

Aquino memberi wewenang kepada Gazmin untuk menandatangani kontrak-kontrak besar untuk memperoleh alutsista militer senilai 12,96 triliun rupiah (936 juta dolar A.S.), termasuk dua fregat, helikopter anti-kapal selam, dan kendaraan serbu amfibi untuk Angkatan Laut, dan pesawat terbang patroli jarak jauh, persenjataan untuk FA-50, dan radar pengintaian untuk Angkatan Udara, demikian ungkap Wakil Menteri Pertahanan Fernando Manalo.

Kapal, pesawat terbang, dan peralatan militer baru itu diharapkan akan dibeli dari tahun 2015 hingga 2018, demikian menurut Manalo.

Letnan Kolonel Rolando Condrad Pena III, salah satu dari tiga pilot Angkatan Udara Filipina yang menerima pelatihan di Korea Selatan untuk menerbangkan pesawat jet FA-50, mengatakan bahwa pesawat jet itu bisa membawa cukup banyak muatan amunisi dan dapat digunakan di pertempuran udara-ke-udara dan udara-ke-darat.

“Sekarang kami memiliki pesawat terbang supersonik, waktu reaksi kami akan menjadi lebih cepat,” kata Pena kepada jurnalis.

Meskipun demikian, Filipina menolak penggunaan solusi militer terhadap konflik teritorial dengan kemampuan pertahanannya yang terbatas. Pada Januari 2013, Filipina membawa sengketanya dengan Tiongkok ke arbitrase internasional, tetapi Beijing menolak untuk berpartisipasi dan menekan diadakannya negosiasi bilateral.

Akan tetapi pengadilan internasional di Den Haag, menolak argumen hukum Tiongkok pada Oktober 2015 dan memutuskan bahwa pengadilan tersebut berwenang mengadili kasus Filipina. Pengadilan itu menyatakan bahwa keputusan mengenai beberapa isu yang diangkat oleh Filipina diharapkan akan diambil tahun depan, termasuk keabsahan klaim teritorial sapu bersih Tiongkok berdasarkan Konvensi Hukum Laut Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982.

saham