A.S. merenungkan komitmen Tiongkok terhadap kesepakatan anti-peretasan

A.S. merenungkan komitmen Tiongkok terhadap kesepakatan anti-peretasan

Staf FORUM

Akankah Tiongkok benar-benar berhenti meretas perusahaan Amerika untuk mencuri rahasia mereka? Pertanyaan itu telah diungkapkan berulang kali sejak A.S. dan Tiongkok menandatangani perjanjian untuk menanggulangi spionase ekonomi di dunia maya.

Kedua negara menandatangani kesepakatan anti-peretasan selama kunjungan kenegaraan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington, D.C., pada September 2015. A.S. dan Tiongkok masing-masing berjanji untuk tidak melakukan serangan peretasan pada bisnis komersial.
Akan tetapi, sejumlah perkembangan pada November 2015 menunjukkan masih terdapat keraguan sehubungan dengan kesediaan Tiongkok untuk mematuhi perjanjian tersebut dan para pejabat Amerika sedang merenungkan apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

  • Seorang pejabat tinggi kontraintelijen A.S. menyatakan kesangsiannya bahwa Tiongkok sedang menepati janji-janjinya. “Kami belum melihat indikasi apa pun di sektor swasta bahwa ada yang telah berubah,” kata Eksekutif Kontraintelijen Nasional, William Evanina, kepada wartawan, demikian menurut Bloomberg News.
  • Seorang pejabat keamanan nasional A.S. mengatakan bahwa A.S. bisa mengajukan tuntutan pidana atau sanksi terhadap Tiongkok jika peretas Tiongkok melanjutkan spionase perusahaan mereka, demikian menurut The Associated Press.
  • Badan penasihat untuk Kongres A.S. menawarkan saran baru yang tegas kepada anggota parlemen: Mempertimbangkan memungkinkan perusahaan-perusahaan Amerika untuk “meretas balik” jika peretas Tiongkok mencuri informasi rahasia mereka. “Data yang hilang dalam serangan tersebut dapat dipulihkan atau dihapus,” menurut BBC.

Dengan kesepakatan anti-peretasan yang baru saja tercapai, masih harus dilihat bagaimana kesepakatan itu akan dilaksanakan. Ada indikasi yang bertentangan. Meskipun banyak keraguan yang timbul, beberapa tanda-tanda kemajuan telah muncul.
Pada akhir November 2015, pejabat perdagangan A.S. mengumumkan bahwa kedua negara telah mencapai “komitmen yang berarti pada meminimalkan pencurian rahasia dagang dan melindungi kekayaan intelektual” setelah tiga hari pembicaraan di Tiongkok, demikian menurut The Hill, publikasi berita yang berbasis di Washington, D.C.

Namun, beberapa ahli keamanan dunia maya di Amerika Serikat mempertanyakan niat Tiongkok.
“Kami percaya bahwa sangat penting bagi Kongres untuk menilai apakah perusahaan yang berbasis di A.S. yang telah dibajak seharusnya diizinkan untuk terlibat dalam kontraintrusi dengan tujuan memulihkan, menghapus atau mengubah data yang dicuri di jaringan komputer yang menyerangnya,” kata William Reinsch, ketua Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan A.S.-Tiongkok. Panel kongres A.S. melaporkan implikasi keamanan nasional dari hubungan ekonomi antara kedua kekuatan dunia ini.
Laporan tahun 2015 yang diterbitkan oleh komisi tersebut menegaskan bahwa spionase dunia maya Tiongkok telah membuat perusahaan Amerika mengeluarkan biaya puluhan miliar dolar. Laporan tersebut menambahkan bahwa dalam banyak kasus, peretas menyerahkan rahasia dagang kepada perusahaan milik pemerintah Tiongkok.

Dalam email pada November 2015 kepada The Associated Press, juru bicara Kedutaan Besar Tiongkok Zhu Haiquan bersikeras bahwa Tiongkok juga menjadi korban serangan peretasan dan merupakan “pendukung setia” keamanan dunia maya.

saham