Sri Lanka: Memperoleh energi atom

Sri Lanka: Memperoleh energi atom

Sri Lanka dan Pakistan menandatangani enam perjanjian termasuk satu perjanjian tentang energi atom pada April 2015, kata pemimpin kedua negara, ketika negara pulau yang penting secara strategis ini berupaya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pertamanya.

Rincian perjanjian tidak segera diungkapkan, tetapi perjanjian ini terjadi setelah India menyetujui pada Februari 2015 untuk membangun infrastruktur energi atom Sri Lanka, termasuk pelatihan personel.

Presiden baru Sri Lanka, Maithripala Sirisena, meraih kekuasaan pada Januari 2015, mengakhiri satu dekade pemerintahan di tangan Mahinda Rajapaksa, dan telah berupaya mengurangi pengaruh Tiongkok di negaranya, yang telah membuat India kesal.

Pakistan dan Sri Lanka secara tradisional memiliki ikatan yang kuat, khususnya di bidang pertahanan, lewat pemberian bantuan militer oleh Islamabad selama perang melawan gerilyawan Macan Tamil yang berakhir pada tahun 2009.

Berbicara pada konferensi pers dengan Perdana Menteri Pakistan, Nawaz Sharif, Sirisena mengatakan: “Pada saat-saat kritis dalam sejarah pasca-kemerdekaan, kami telah menjalin solidaritas dengan satu sama lain,” dan menambahkan bahwa ia “sangat berterima kasih atas dukungan yang kuat dalam memerangi terorisme” yang diberikan oleh Pakistan.

“Kami membahas perjanjian regional dan internasional serta menandatangani enam perjanjian di bidang manajemen bencana, olahraga, pengapalan, energi atom … dan dalam bidang narkoba serta kerja sama akademik,” tambahnya.

Pakistan mengoperasikan tiga pembangkit listrik tenaga nuklir yang menghasilkan total sekitar 740 megawatt listrik dan telah mulai membangun dua PLTN lainnya, termasuk PLTN 2.200 megawatt yang akan dibangun dengan bantuan teknis Tiongkok di pesisir Laut Arab di Pantai Paradise, 40 kilometer sebelah barat Karachi.  Agence France-Presse

saham