Menghentikan Lalu Lintas Senjata Pemusnah Massal

Menghentikan Lalu Lintas Senjata Pemusnah Massal

Cara mengembangkan layanan dukungan teknis

Departemen Energi A.S.

Menarget secara efektif hubungan terorisme dengan senjata pemusnah massal (Weapons of Mass Destruction – WMD) dalam jangka panjang mengharuskan pemerintah mengatasi faktor-faktor penyebab yang memicu dan mendukung ekstremisme kekerasan. Akan tetapi, dalam jangka pendek, pemerintah harus berupaya membatasi akses ke senjata dan komponen yang ingin digunakan oleh kelompok teroris guna mencapai sasaran mereka. Ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah, karena inovasi teknologi dan cepatnya penyebaran pengetahuan telah menempatkan senjata pemusnah massal dan senjata kimia, biologi, radiologi, dan nuklir (CBRN) rakitan dalam jangkauan kelompok teroris yang berniat menggunakannya untuk menciptakan kekacauan dan korban jiwa. Kewaspadaan dan kerja sama antara militer, penegak hukum, petugas patroli perbatasan, dan pejabat teknis — dikombinasikan dengan perundang-undangan yang sesuai untuk melarang kegiatan teroris dan mengatur komoditas sensitif — diperlukan untuk memerangi terorisme senjata pemusnah massal secara efektif dan proaktif.

Selain peningkatan penyebaran pengetahuan dan informasi, berkembang pesatnya ekonomi dan industri global membuat materi dan komoditas penggunaan ganda yang terkait dengan CBRN menjadi lebih banyak dan mudah diakses. Meskipun pembuatan dan produksi skala besar program senjata pemusnah massal masih memerlukan investasi yang sangat besar dalam pengembangan modal industri dan manusia yang sebagian besar membatasi akuisisi bagi negara berdaulat, saat ini banyak materi, komponen, dan teknologi penting yang tersedia dan dapat diimprovisasi pada skala kecil dengan sumber daya yang relatif sedikit. Teroris secara rutin memanfaatkan aliran informasi bebas dan barang-barang yang mudah diakses untuk memutakhirkan taktik dan senjata mereka dengan menyertakan inovasi ilmiah dan teknologi terbaru ke dalam rencana mereka. Mengingat aksesibilitas barang-barang tersebut dan keterbatasan sumber daya, organisasi teroris cenderung berupaya mendapatkan perangkat CBRN atau senjata pemusnah massal rakitan berskala kecil — mulai dari bahan kimia industri beracun yang digunakan untuk tujuan lain, seperti amonia atau klorin, hingga senjata seperti antraks dan perangkat penyebar radiologi (juga dikenal sebagai bom kotor).

Anggota unit bahan peledak kimia, biologi, radiologi, dan nuklir Angkatan Bersenjata Filipina membantu korban simulasi dalam latihan anti-teroris di Quezon City pada Maret 2014. REUTERS

Anggota unit bahan peledak kimia, biologi, radiologi, dan nuklir Angkatan Bersenjata Filipina membantu korban simulasi dalam latihan anti-teroris di Quezon City pada Maret 2014. REUTERS

Ketika barang, teknologi, dan keahlian sensitif mudah diperoleh, komoditas tertentu lebih mungkin dieksploitasi daripada komoditas lain untuk senjata CBRN. Misalnya, materi, komponen, dan peralatan biologi dan kimia yang terkait dengan senjata pemusnah massal memiliki risiko terbesar untuk digunakan oleh organisasi teroris karena mudah diperoleh. Meskipun senjata nuklir belum digunakan oleh teroris dan akan lebih sulit untuk dikembangkan, organisasi teroris telah mengatakan bahwa mereka ingin menggunakan senjata ini, dan beberapa telah mempekerjakan ahli teknis dan mengambil langkah-langkah untuk meneliti senjata tersebut. Belum ada organisasi teroris yang menggunakan senjata radiologi, tetapi telah ada upaya untuk melakukannya. Selain itu, isotop radioaktif curian atau terlantar tetap menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Menurut laporan Database Perdagangan Gelap Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tahun 2014, 125 negara peserta melaporkan lebih dari 2.477 insiden bahan nuklir di luar kendali regulasi antara tahun 1993 dan 2013. Dari jumlah tersebut, 424 adalah insiden kepemilikan kriminal termasuk upaya untuk memindahkan, membeli atau menjual sumber radioaktif. Selama periode waktu yang sama, dilaporkan adanya 664 insiden lain terkait materi radioaktif hilang atau dicuri, demikian menurut database tersebut. Materi yang dilaporkan berkisar dari isotop yang tidak begitu berbahaya hingga yang sangat berbahaya seperti cesium-137 dan amerisium-241.

Memerangi ancaman CBRN membutuhkan pemahaman tentang komponen dan teknologi yang biasanya tidak dimiliki oleh aparat penegak hukum. Akan tetapi, penting bagi penegak hukum untuk memelihara hubungan kerja yang erat dengan ahli di bidangnya dan instansi teknis yang dapat memberikan pelatihan mengenai efek, dampak, dan spesifikasi teknis komoditas yang terkait dengan CBRN. Pencegahan terorisme senjata pemusnah massal secara efektif membutuhkan pembiasaan diri aparat penegak hukum tidak hanya dengan komoditas CBRN, tetapi juga dengan lembaga dan pakar nasional yang dapat membantu mengidentifikasi, mengamankan, mengangkut, mengelola, menanggapi, dan menyelidiki insiden senjata pemusnah massal. Selain itu, ahli teknis memiliki posisi yang lebih baik dalam meminta bantuan internasional dari IAEA dan organisasi lainnya seandainya diperlukan sumber daya tambahan. Layanan dukungan teknis yang diberikan lembaga-lembaga ini kepada aparat penegak hukum garis depan sangatlah berharga dan seharusnya menjadi elemen tak terpisahkan dari upaya nasional untuk mencegah proliferasi dan menarget terorisme senjata pemusnah massal.

Upaya teroris untuk mendapatkan senjata pemusnah massal merupakan ancaman nyata dan berkesinambungan bagi keamanan internasional. Kerja sama di antara lembaga militer, bea cukai, penegak hukum, dan teknis untuk lebih memahami ancaman terorisme senjata pemusnah massal dan komoditas CBRN sangat penting untuk melawan upaya teroris dalam memperoleh, mengembangkan, dan menggunakan senjata-senjata ini. Membangun kemitraan layanan dukungan teknis di antara organisasi teknis dan penegak hukum sejak dini sebagai bagian integral dari pelatihan dapat merampingkan komunikasi pada saat insiden CBRN yang kritis dan sensitif terhadap waktu. Pendekatan antarlembaga terhadap pelatihan, dikombinasikan dengan perundang-undangan dan peraturan anti-teror yang kuat untuk komoditas yang terkait dengan CBRN, membangun kemampuan nasional untuk menarget dan mencegah tindak terorisme senjata pemusnah massal rakitan.

saham