Efek Kim Jong Un

Efek Kim Jong Un

Analis Korea Utara mengamati dengan cermat pemimpin negara ini untuk mempelajari sebanyak mungkin tentang dirinya dan membatasi ketegangan di Semenanjung Korea

Staf FORUM

Kim Jong Un muncul sebagai tanda tanya besar di panggung dunia pada Desember 2011, ketika dia mewarisi kediktatoran Korea Utara setelah kematian ayahnya, Kim Jong Il.

Sebelum dia memegang tampuk kekuasaan, hanya segelintir orang yang mendapatkan konfirmasi bahwa Kim Jong Un merupakan sosok nyata. Debut resminya terjadi pada tahun 2010 ketika Kim diperkenalkan saat parade militer sebagai jenderal bintang empat dan wakil ketua Komisi Militer Pusat negara itu. Tidak ada yang tahu berapa usianya, meskipun Korea Utara merayakan ulang tahunnya pada tanggal 8 Januari. Sumber informasi tidak dapat memastikan apakah dia lahir pada tahun 1982, 1983 atau 1984.

Masa kecil dan masa remajanya begitu terlindungi sehingga hampir mirip dengan pemenjaraan, kata beberapa orang. Ketika menuntut ilmu di Swiss, dia menggunakan nama samaran “Un Pak” dan diklaim sebagai putra diplomat yang bekerja di Kedutaan Besar Korea Utara setempat.

“Secara resmi dia merupakan rahasia negara,” kata Andrei Lankov, ahli sejarah Korea Utara dan profesor di Kookmin University, Seoul, Korea Selatan, kepada FORUM.

Sebagian besar kehidupan pribadi Kim tatkala dewasa tetap terselubung dalam kerahasiaan.

Istrinya, Ri Sol Ju, tidak tampil di depan umum selama empat bulan sampai dia muncul bersama suaminya pada April 2015 di perayaan ulang tahun almarhum Kim Il Sung, pendiri Korea Utara dan kakek dari Kim Jong Un.

Rakyat Korea Utara mengibarkan bendera dan berjalan melewati patung mantan pemimpin Kim Jong Il pada parade militer di Alun-Alun Kim Il Sung, pada Juli 2013. [AFP/GETTY IMAGES]

Rakyat Korea Utara mengibarkan bendera dan berjalan melewati patung mantan pemimpin Kim Jong Il pada parade militer di Alun-Alun Kim Il Sung, pada Juli 2013. [AFP/GETTY IMAGES]

Mantan pemain basket Dennis Rodman, orang Amerika, adalah orang yang mengumumkan nama putri Kim Jong Un kepada dunia, mengatakan pada bulan September 2013 bahwa dia menggendong bayi Ju Ae saat berkunjung ke Pyongyang. Rodman menyebut Kim sebagai “ayah yang baik.”

Pengamat menyerap serpihan informasi dan gambaran sekilar dinasti Kim ini dengan harapan mampu belajar lebih banyak tentang orang yang dianggap kritikus sebagai orang yang paling tidak mungkin untuk memerintah negara itu di antara saudara-saudaranya. Hampir empat tahun setelah menjalani kediktatorannya, dunia tampaknya masih belum bisa menjawab pertanyaan tentang siapa sebenarnya Kim Jong Un.

“Dia tidak dapat diprediksi. Dia akan tetap tak terduga,” kata Lankov, penulis buku, The Real North Korea: Life and Politics in the Failed Stalinist Utopia. “Dia orang yang masih muda, emosional, dan tidak sabaran yang membuat keputusan yang terlihat aneh.”

Namun, hal itu tidak menghentikan peneliti atau kantor berita untuk menganalisis tindakan terbaru Kim dalam upaya untuk menilai pola pikirnya saat ini dan memprediksi langkahnya berikutnya.

Pejabat senior A.S. yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada blog Internet Security Clearance CNN bahwa meskipun Kim Jong Il “lebih dingin dan lebih banyak perhitungan” dalam tindakannya, tetapi dia tetap lebih mengetahui cara-cara untuk meredakan ketegangan daripada putranya.

“Tidak ada yang tahu apa yang dia [Kim Jong Un] rencanakan, apa yang dia pikirkan atau renungkan untuk dilakukan atau mengapa Korea Utara menggandakan retorika mereka tiga kali lipat,” kata sumber yang tidak disebutkan namanya kepada CNN pada Maret 2013.

John Delury, ahli tentang Korea Utara di Yonsei University, Seoul, mengatakan bahwa Kim telah melampaui harapan dalam beberapa hal.

“Dia muncul sebagai kepala negara termuda di planet ini, dalam budaya yang menghargai usia dan senioritas dan dalam sistem politik dengan banyak orang-orang berkuasa yang berusia lebih dari 60 tahun,” kata Delury kepada surat kabar Stars and Stripes pada Desember 2014. “Ini memberi tahu kita sedikit tentang dirinya dan sedikit tentang sistem mereka — meskipun Anda masih muda, siapa pun yang berada dalam garis keturunan penguasa — banyak orang akan menyukseskannya.”

Kim Jong Il berada dalam posisi yang sama ketika dia mulai memegang tampuk kepemimpinan pada tahun 1980-an, kata Lankov. Kedua pria ini membuat kesalahan ketika mereka belajar cara untuk memimpin, tapi mereka membuat penyesuaian dengan cepat, katanya. “Manusia itu cerdas. Kita mampu belajar dari kesalahan kita. Kita ini tak pernah berhenti belajar,” kata Lankov kepada FORUM.

WARISAN KIM

Korea Utara benar-benar menuntut pemujaan sepenuhnya dan terang-terangan terhadap negara dan, khususnya, keluarga Kim.

Mural, patung, poster, dan museum memberitakan legenda keturunan Kim yang telah memimpin negeri ini — mungkin tidak ada yang bisa melebihi Kim Il Sung.

Lahir pada 15 April 1912, Kim Il Sung menjadi presiden Korea Utara pada tahun 1972 dan menjabat sampai meninggal pada 8 Juli 1994. Kim Il Sung juga menjabat sebagai pemimpin partai dan perdana menteri Republik Demokratik Rakyat Korea sejak tahun 1948.

Gelar-gelar yang dimiliki oleh Kim Il Sung adalah Bapak Rakyat, Pemimpin Besar, dan Presiden Abadi. Rakyat Korea Utara bahkan menyebutnya sebagai “Pemimpin Tercinta, yang merupakan perwujudan sempurna dari penampilan yang seharusnya dimiliki oleh seorang pemimpin.”

Karena kasih sayang yang tak tergoyahkan dari rakyat negara ini untuk Kim Il Sung, Kim Jong Un memilih untuk sebisa mungkin membuat banyak kemiripan dengan kakeknya, kata Lankov, sampai-sampai meniru gaya berpakaian kakeknya.

Rakyat Korea Utara pada umumnya menyalahkan Kim Jong Il atas kelaparan di negara itu selama periode 1990-an, sehingga Kim Jong Un berupaya sebaik mungkin untuk menjauhkan diri dari citra ayahnya karena kepahitan yang takkan pernah hilang itu, kata Lankov.

“Ada beberapa interpretasi politik mengenai kemiripan Kim Jong Un dengan Kim Il Sung. Salah satunya adalah bahwa Kim Jong Un sengaja meniru kakeknya dengan harapan bahwa warisan kakeknya akan membantunya meningkatkan basis kekuasaannya sendiri,” demikian menurut analisis tentang kepemimpinan Kim Jong Un yang diterbitkan pada Desember 2014 di The Hankyoreh, surat kabar yang berbasis di Seoul.

Laporan itu mencakup penilaian tentang kepemimpinan Kim Jong Un dari Kementerian Unifikasi Korea Selatan: “Meskipun memainkan nostalgia masa lalu dengan meniru gerak-gerik dan penampilan kakeknya, Kim Il Sung, Kim Jong Un juga sedang mengembangkan gaya kepemimpinan uniknya sendiri.”

TEMAN, MUSUH, DAN SIAPA YANG TAHU

Lankov melihat lebih banyak kemiripan antara Kim Jong Un dan kakeknya daripada sekadar kemiripan fisik dan gerak-gerik nostalgia belaka, terutama terkait dengan hubungan Korea Utara saat ini dengan Tiongkok dan Rusia.

Tiongkok telah menjadi sekutu lama Korea Utara, tapi provokasi terbaru Kim Jong Un, terutama atas program nuklir Korea Utara, terkadang menyebabkan Beijing menjauhkan diri dari Pyongyang.

Berita utama tentang ketegangan yang memuncak antara kedua negara ini diterbitkan secara reguler di sepanjang tahun 2014. Pada akhir spekulasi tersebut muncul pengumuman bahwa Korea Utara telah menetapkan tahun 2015 sebagai “tahun persahabatan” dengan Rusia ketika Pyongyang menggandeng Moskow untuk menjalin kerja sama ekonomi dalam rangka mengurangi ketergantungan pada Beijing, tulis Financial Times pada April 2015.

“Hubungan politik antara negara kami berkembang lebih produktif daripada sebelumnya,” kata Im Cheon Il, diplomat Korea Utara yang berbasis di bagian timur Rusia, demikian menurut Financial Times.

Pada Oktober 2014, Rusia setuju untuk memperbaiki rel kereta api sepanjang 3.500 kilometer di Korea Utara sebagai imbalan atas akses ke batu bara dan mineral lainnya.

Apakah ketegangan yang dirasakan di antara Tiongkok dan Korea Utara adalah katalis bagi hubungan antara Pyongyang dan Moskow masih menjadi hal yang diperdebatkan. Selain itu, investasi antara Korea Utara dan Tiongkok masih terjalin dengan baik sehingga hubungan ekonomi ini akan memastikan tetap stabilnya hubungan diplomatik, meskipun kadang-kadang mungkin muncul ketegangan akibat tindakan Kim Jong Un.

“Beijing dan Pyongyang terlalu penting bagi satu sama lain dan tidak mungkin mengakhiri hubungan kedua negara dalam waktu dekat,” karena Tiongkok membukukan 57 persen impor Korea Utara dan 42 persen ekspor Korea Utara, demikian menurut laporan pada Maret 2015 di majalah The Diplomat berjudul, “No, China Isn’t Abandoning North Korea.” “Korea Utara sangat bergantung pada perdagangan dan energi Tiongkok, dan Korea Utara juga merupakan bagian sentral dari sasaran strategis regional Beijing. Oleh karena itu, posisi Beijing mengenai program nuklir Pyongyang tidak seharusnya dianggap sebagai refleksi dari sikapnya terhadap Pyongyang secara umum.”

Lankov memiliki pendapat yang sama, meskipun dia tidak melihat hubungan antara Korea Utara dan Rusia berjalan seperti yang diinginkan oleh Kim Jong Un.

“Dia mungkin sebentar lagi akan kecewa,” kata Lankov kepada FORUM. “Dia berharap untuk mendapatkan bantuan, yang tidak akan memerlukan kewajiban dari pihaknya.”

Lankov mengatakan bahwa Rusia akan berinvestasi di Korea Utara selama Rusia menerima imbalan dari investasi itu. Begitu hubungan itu memburuk — dan Lankov memprediksi hal itu akan terjadi — Korea Utara pada akhirnya akan kembali menjalin hubungan baik dengan Tiongkok.

“Tiongkok pada dasarnya sudah bosan dengan Korea Utara,” kata Lankov. “Meskipun demikian, Tiongkok masih membutuhkan negara penyangga yang dapat diandalkan.”

PERBAIKAN SOSIAL DAN STATUS QUO

Lankov menekankan bahwa Korea Utara bukanlah negara miskin seperti yang pernah diyakini secara luas. Reformasi yang terjadi saat ini telah mendorong negara itu ke dalam tahap pemulihan, dan tanda-tanda perbaikan ekonomi telah tumbuh.

“Banyak dari revolusi paling penting dari sebuah negara dimulai ketika negara itu dalam kondisi biasa-biasa saja,” kata Lankov. “Korea Utara memang miskin tapi tidak putus asa. Semuanya menjadi lebih baik, tapi tidak berarti adanya kemapanan.”

Meskipun ada reformasi struktural internal, tapi jangan berharap adanya perubahan kebijakan, baik luar negeri maupun domestik. “Dia tidak akan berkompromi pada apa pun,” kata Lankov tentang Kim Jong Un.

Tentang reunifikasi, Lankov mengatakan bahwa Tiongkok kemungkinan akan menerima Korea bersatu namun percaya bahwa Beijing lebih suka semenanjung yang tetap terbagi tapi stabil, terutama mengingat penilaiannya bahwa perang kecil kemungkinannya untuk terjadi.

“Korea Selatan tidak akan memulai perang. Mereka kemungkinan akan menang, tetapi dengan biaya yang sangat besar,” kata Lankov, menjelaskan bahwa Korea Selatan kemungkinan akan mengorbankan Seoul dalam pertempuran hanya untuk mewarisi area yang luas, sangat miskin, dan rusak di perbatasan. “Tidak akan menjadi kemenangan yang murah dan mudah bagi Korea Selatan.”

Jujur saja, Korea Utara kecil kemungkinannya untuk memulai perang, karena mereka tahu bahwa mereka akan kalah dalam peperangan, kata Lankov.

saham