Bapak  Pendiri Singapura Meninggalkan Warisan Stabilitas

Bapak Pendiri Singapura Meninggalkan Warisan Stabilitas

The Associated Press

Lee Kuan Yew, pendiri Singapura modern, ditakuti akan taktik otoriternya dan dikagumi di seluruh dunia karena berhasil mengubah negara kota ini menjadi salah satu negara terkaya di dunia saat berkuasa selama 31 tahun.

Perdana Menteri pertama dan terlama di negara itu, yang meninggal pada 23 Maret 2015, pada usia 91 tahun, memandu Singapura melewati perpecahan traumatis dengan Malaysia pada tahun 1965 dan memimpin transformasi yang pada saat itu merupakan kota pelabuhan sepi menjadi pusat perdagangan dan keuangan global. Meskipun dia bisa tetap menjabat lebih lama lagi, dia mengundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan partai yang berkuasa, dan negara itu, kepada generasi yang lebih muda pada tahun 1990. Namun, dia tetap menjadi tokoh yang berpengaruh di belakang layar selama bertahun-tahun sampai kesehatannya memburuk.

“Pada akhirnya, kepuasan terbesar dalam hidup saya berasal dari fakta bahwa saya telah menghabiskan waktu bertahun-tahun mengumpulkan dukungan, menghimpun keinginan untuk membuat tempat ini meritokrasi, bebas korupsi, dan sama untuk semua ras — dan bahwa hal itu akan terus berlangsung meskipun saya telah tiada, seperti selama ini,” kata Lee dalam bukunya tahun 2013, One Man’s View of the World.

Presiden A.S. Barack Obama menyebut Lee “visioner” dan “raksasa sejarah sejati.” “Pandangan dan wawasannya tentang dinamika dan manajemen ekonomi Asia dihormati oleh banyak orang di seluruh dunia,” kata Obama dalam sebuah pernyataan. “Tidak sedikit pemimpin dunia generasi saat ini dan generasi masa lalu telah meminta nasihatnya tentang tata kelola dan pembangunan.”

Sekretaris Jenderal P.B.B. Ban Ki-moon mengatakan bahwa dia “sangat sedih” dengan wafatnya Lee. Dia menyebutkan bahwa Singapura merayakan ulang tahun kemerdekaannya yang ke-50 pada tahun 2015, dan “bapak pendirinya akan dikenang sebagai salah satu pemimpin Asia yang paling inspiratif,” demikian menurut pernyataan yang dirilis oleh juru bicara Ban.

Ban mengatakan bahwa Lee membantu Singapura melakukan “transisi dari negara berkembang menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia, mengubahnya menjadi pusat bisnis internasional yang maju dengan pesat.”

Warisan Lee mencakup pemerintahan yang efisien dengan sedikit korupsi, skema perumahan rakyat yang sukses, tarif pajak yang rendah untuk menarik investasi asing, sekolah yang unggul, dan jalan-jalan yang bersih dan aman. Semua itu telah membantu Singapura untuk terus-menerus menduduki peringkat teratas survei kota yang paling layak huni untuk ekspatriat.

Meskipun demikian, Lee menghadapi kritik karena menggunakan taktik yang keras untuk mengonsolidasikan kekuasaan. Lee memenjarakan beberapa rival politik tanpa persidangan selama beberapa dekade dan mengajukan gugatan pencemaran nama baik terhadap jurnalis dan politisi oposisi, yang menimbulkan efek jera bagi mereka yang memiliki perbedaan pendapat.

Lee bersikeras bahwa batasan ketat pada kebebasan berbicara dan protes umum diperlukan untuk menjaga stabilitas di negara multietnis dan multiagama yang mengalami kerusuhan rasial pada tahun 1960-an. Stabilitas itu, tambahnya, diperlukan untuk memungkinkan pertumbuhan dan meningkatkan standar hidup di negara yang memiliki sedikit sumber daya alam.

“Saya harus melakukan beberapa hal buruk, memenjarakan rekan-rekan tanpa persidangan,” kata Lee dalam wawancara dengan surat kabar The New York Times yang diterbitkan pada September 2010. “Saya tidak mengatakan bahwa semua yang saya lakukan adalah benar. Tapi semua yang saya lakukan adalah untuk tujuan mulia.”

Lee, yang Partai Aksi Rakyatnya telah memerintah Singapura sejak tahun 1959, tetap menjadi penasihat berpengaruh dengan status menteri Kabinet setelah mengundurkan diri sebagai perdana menteri, dan banyak rakyat Singapura, terutama generasi tua, memandangnya sebagai figur ayah yang bijaksana dan tegas.

Lee mundur dari jabatan menteri Kabinet dan mengundurkan diri dari komite eksekutif Partai Aksi Rakyat setelah pemilihan parlemen tahun 2011 ketika partai yang berkuasa memenangkan persentase suara terendah secara keseluruhan sejak kemerdekaan.

Salah seorang putranya, Lee Hsien Loong, adalah perdana menteri Singapura saat ini. Lee juga meninggalkan seorang putra lain, Lee Hsien Yang, dan seorang putri, ahli saraf Lee Wei Ling. Istrinya selama lebih dari 60 tahun, Kwa Geok Choo, meninggal pada Oktober 2010.

Lahir pada 16 September 1923, Lee dibesarkan dalam lingkungan berbahasa Inggris di Singapura yang merupakan bagian dari kekuasaan kolonial Inggris, dan Lee dikenal dengan nama Harry selama sebagian besar awal kehidupannya. Pendidikan universitasnya terganggu oleh pendudukan Jepang selama tiga tahun di pulau itu saat Perang Dunia II. Lee mengatakan bahwa itulah saat ketika dia belajar bagaimana kekuasaan bisa dimanfaatkan.

“Tentara Jepang menuntut ketaatan total, dan mendapatkannya dari hampir semua orang,” tulisnya dalam memoarnya. “Penghargaan saya terhadap pemerintah, pemahaman saya tentang kekuasaan sebagai sarana untuk perubahan revolusioner, tidak akan diperoleh tanpa pengalaman ini.”

Setelah menyelesaikan studinya di Raffles College di Singapura, Lee pergi ke Inggris untuk belajar hukum di Cambridge University. Di sana, dia menikah dengan Kwa, rekan mahasiswinya, pada tahun 1947. Lee kembali ke Singapura pada tahun 1950 dan mulai membuka firma hukum Lee & Lee dengan istrinya pada tahun 1955.

Pada tahun 1954, Lee membantu mendirikan Partai Aksi Rakyat yang beraliansi dengan serikat buruh komunis — hubungan yang kemudian dia putuskan — dan dia menjadi perdana menteri pertama Singapura pada tahun 1959 ketika Inggris memberikan wewenang pemerintahan mandiri dalam segala hal, kecuali pertahanan dan urusan luar negeri.

Singapura mengumumkan kemerdekaannya dari Inggris pada tahun 1963, dan Lee, yang percaya pulaunya tidak bisa bertahan hidup sendirian, membawa negara ini ke dalam federasi negara bagian tetangga yang menjadi cikal bakal negara Malaysia. Tapi pemimpin Melayu meminta Singapura untuk keluar setelah bergabung selama dua tahun karena adanya perbedaan ideologi. Lee menangis di televisi nasional saat mengumumkan perpisahan tersebut, yang kemudian dia sebut sebagai salah satu penyesalan politik terbesarnya.

Lee kemudian beralih memerintah negara pulau kecil itu, memberlakukan kebijakan ketat yang dilihat oleh beberapa orang sebagai mengendalikan setiap aspek kehidupan sehari-hari warga Singapura. Lee mempromosikan bahasa Inggris dan Mandarin serta melarang dialek Tionghoa lainnya dari sekolah umum, radio, dan TV. Lee juga memberlakukan integrasi etnis dengan mengontrol susunan bangunan apartemen umum, tempat tinggal bagi 80 persen penduduk. Pengendalian setiap aspek kehidupan terus berlangsung bahkan di bawah penggantinya, Goh Chok Tong, yang melarang penjualan permen karet karena orang-orang akan menempelkannya pada pintu kereta bawah tanah.

“Saya katakan tanpa penyesalan sedikit pun bahwa kita tidak akan berada di sini, kita tidak akan membuat kemajuan ekonomi, jika kami tidak campur tangan pada hal-hal yang sangat pribadi — siapa tetangga Anda, bagaimana Anda hidup, kegaduhan yang Anda buat, bagaimana Anda meludah atau apa bahasa yang Anda gunakan. Kami memutuskan apa yang benar. Tidak peduli apa yang dipikirkan orang-orang,” kata Lee pada tahun 1987.

Lee juga menindak kejahatan terorganisir dan memberlakukan hukuman berat untuk pelanggaran kecil, sebuah kebijakan yang telah membantu Singapura mempertahankan posisinya sebagai salah satu negara dengan tingkat kejahatan kekerasan terendah di dunia. Kurir narkoba pasti mendapatkan hukuman gantung, perusak kadang-kadang dicambuk — seperti remaja Amerika Michael Fay pada tahun 1994 meskipun adanya permohonan keringanan hukuman dari Presiden A.S. saat itu Bill Clinton — dan membuang sampah sembarangan harus membayar denda besar.

Lee masih aktif bekerja di masa tuanya, mengomentari urusan dalam negeri dan internasional serta sering kali mewakili Singapura pada kunjungan ke luar negeri.

saham