• Home »
  • Cerita populer »
  • Citra Satelit Mengungkapkan Kemungkinan Landasan Udara Tiongkok yang Ketiga di Laut Cina Selatan yang Disengketakan
Citra Satelit Mengungkapkan Kemungkinan Landasan Udara Tiongkok yang Ketiga di Laut Cina Selatan yang Disengketakan

Citra Satelit Mengungkapkan Kemungkinan Landasan Udara Tiongkok yang Ketiga di Laut Cina Selatan yang Disengketakan

Reuters

Tiongkok tampaknya mempersiapkan diri untuk membangun landasan udara ketiga di wilayah yang diperebutkan di Laut Cina Selatan, demikian kata seorang ahli A.S. pada September 2015, mengutip citra satelit yang baru saja diperoleh.

Foto-foto tersebut, yang diambil untuk kelompok cendekiawan Washington’s Center for Strategic and International Studies pada 8 September 2015, menunjukkan konstruksi di Mischief Reef, salah satu dari tujuh pulau buatan yang telah diciptakan Tiongkok di Kepulauan Spratly.

Citra tersebut menunjukkan dinding penahan di sekitar daerah sepanjang 3.000 meter, cocok dengan pekerjaan serupa yang dilakukan oleh Tiongkok pada dua terumbu karang lainnya di Kepulauan Spratly — Subi dan Fiery Cross, demikian kata Greg Poling, direktur pusat Prakarsa Transparansi Maritim Asia (Asia Maritime Transparency Initiative).

Poling mengatakan bahwa pekerjaan tersebut “besar kemungkinan menunjukkan persiapan untuk landas pacu” di atas terumbu karang.

Foto satelit dari Juni 2015 menunjukkan bahwa Tiongkok telah hampir menyelesaikan landasan udara sepanjang 3.000 meter di Fiery Cross.

Poling mengatakan bahwa foto satelit lainnya dari September 2015 menunjukkan pekerjaan konstruksi sedang dilakukan di Subi Reef, tempat “konstruksi yang telah kita lihat pastinya akan menjadi landasan udara sepanjang 3.000 meter, dan kita telah melihat beberapa pekerjaan lainnya untuk konstruksi yang tentunya akan menjadi beberapa fasilitas pelabuhan untuk kapal.”

Ketika ditanya baru-baru ini tentang Mischief Reef, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hong Lei mengulangi klaim Tiongkok terhadap “kedaulatan tak terbantahkan” atas Kepulauan Spratly dan haknya untuk membangun fasilitas militer di sana.

Para ahli keamanan mengatakan bahwa landasan udara 3.000 meter itu akan cukup panjang untuk mengakomodasi sebagian besar pesawat militer Tiongkok sehingga memberi Beijing jangkauan yang lebih luas ke jantung maritim Asia Tenggara, tempat negara ini telah beradu klaim dengan beberapa negara.

Berita dilanjutkannya pekerjaan konstruksi ini muncul menjelang kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Washington. Kekhawatiran A.S. akan semakin tegasnya klaim teritorial Tiongkok diharapkan akan menjadi topik utama dalam agenda pertemuan tersebut.

Juru bicara Departemen Pertahanan A.S., Letnan Kolonel Laut Bill Urban, menolak berkomentar secara khusus pada penilaian Poling, tapi mengulangi bahwa A.S. menyerukan penghentian penciptaan lahan, konstruksi, dan militerisasi pos terluar di Laut Cina Selatan guna “meredakan ketegangan dan menciptakan ruang untuk solusi diplomatik.”

“Niat yang dinyatakan Tiongkok dengan program-programnya, dan berlanjutnya konstruksi, tidak akan mengurangi ketegangan atau mendorong ke arah solusi diplomatik yang berarti,” tambahnya.

Landasan udara baru di Mischief Reef akan sangat mengkhawatirkan bagi Filipina, negara penggugat pesaing Tiongkok di Laut Cina Selatan. Landasan udara ini akan memungkinkan Tiongkok untuk melaksanakan patroli yang “hampir konstan” pada Reed Bank, tempat Filipina telah lama mengeksplorasi minyak dan gas, demikian kata Poling.

Tiga landasan udara itu, begitu selesai, akan memungkinkan Tiongkok untuk mengancam semua lalu lintas udara di atas fitur yang telah dibuat di Laut Cina Selatan, demikian ungkapnya, menambahkan bahwa akan sangat mengkhawatirkan jika Tiongkok juga akan memasang pertahanan udara canggih.

Pemerintah Filipina sendiri belum memberikan komentar.

Tiongkok meningkatkan penciptaan pulau buatan di Laut Cina Selatan pada tahun 2014 sehingga menimbulkan kritik keras dari Washington.

saham