Kerumunan orang bersorak-sorai merayakan pertukaran lahan antara India dan Bangladesh

Kerumunan orang bersorak-sorai merayakan pertukaran lahan antara India dan Bangladesh

Agence France-Presse

“Di sinilah kami berada, lihat … tepat di sini di peta ini,” kata Mohammed Mansoor Ali, sambil menunjuk-nunjuk sehelai kertas perkamen yang sudah compang-camping dan menguning.

“Ini Bangladesh, dan itu India yang mengelilingi kami.”

Ali, 74 tahun, sedang memamerkan surat tanah bertanggalkan tahun 1931 — saat terakhir kali diadakan pengukuran tanah untuk daerah kantong perbatasan Poaturkuthi milik Bangladesh, di negara bagian Benggala Barat yang terletak di bagian timur India.

“Pada waktu itu kami merupakan bagian dari India Britania. Saya memiliki surat tanah asli keluarga kami yang dibubuhi stempel kebesaran Raja George V dan juga surat tanah dari Pakistan Timur serta satu lagi dari Bangladesh, tetapi tidak ada surat tanah dari India,” demikian disampaikan Ali kepada BBC pada bulan Agustus 2015.

Ali merupakan salah satu dari sekitar 50.000 penduduk yang tinggal di daerah-daerah kantong perbatasan kecil dan terpencil yang terletak di India namun dimiliki oleh Bangladesh dan sebaliknya.

Semua itu berubah pada tanggal 1 Agustus 2015.

Kerumunan orang bersorak-sorai gembira ketika Bangladesh dan India menyelenggarakan pertukaran daerah-daerah kantong perbatasan tersebut dan mengakhiri salah satu konflik perbatasan yang paling bermasalah di dunia. Ketika jam menunjukkan satu menit lewat tengah malam, ribuan penduduk yang selama ini hidup tanpa sekolah, klinik maupun tenaga listrik selama satu generasi meledak dalam luapan kegirangan menyambut kewarganegaraan baru mereka.

“Selama 68 tahun kami hidup dalam kegelapan,” kata Russel Khandaker, 20 tahun, merujuk pada periode sejak pemisahan India Britania pada tahun 1947.

Dia berjoget ria dengan teman-temannya di daerah kantong perbatasan Dashiar Chhara, yang sebelumnya dimiliki oleh India namun sekarang menjadi bagian dari Bangladesh.

“Akhirnya kami menemukan titik terang,” katanya.

Sebanyak 162 kelompok lahan kecil — 111 di Bangladesh dan 51 di India — secara resmi diserahterimakan kembali kepada negara-negara yang mengelilinginya setelah Dhaka dan New Delhi menandatangani sebuah perjanjian perbatasan pada bulan Juni 2015.

Di Dashiar Chhara, ribuan orang merayakan peristiwa itu tanpa mengindahkan hujan muson. Mereka berbaris melewati jalan-jalan berlumpur sambil menyanyikan lagu kebangsaan Bangladesh dan berteriak: “Negaraku, negaramu. Bangladesh! Bangladesh!”

Para pejabat dari Bangladesh dan India juga mengibarkan bendera nasional masing-masing di wilayah-wilayah baru mereka dalam upacara formal.

Shafiqul Islam, kepala administrator pemerintahan di distrik utara Debiganj, mengatakan bahwa pemerintah Bangladesh akan segera menggelar “rencana induk percepatan” untuk membangun daerah-daerah kantong perbatasan itu. Rencana tersebut mencakup pembangunan jalan, sekolah, saluran listrik, dan klinik baru.

Daerah-daerah kantong perbatasan ini dilatarbelakangi oleh pengaturan kepemilikan yang dibuat berabad-abad sebelumnya di antara pangeran-pangeran setempat.

Bidang-bidang tanah tersebut dipertahankan pada saat pemisahan subbenua India dari Inggris pada tahun 1947 dan perang kemerdekaan Bangladesh dengan Pakistan pada tahun 1971.

Pada tahun 1974, Bangladesh menyetujui kesepakatan dengan India dalam upaya mengakhiri masalah daerah-daerah kantong perbatasan tersebut, namun India baru menandatangani perjanjian akhir pada bulan Juni ketika Perdana Menteri Narendra Modi mengunjungi Dhaka.

Di saat-saat terakhir sebelum serah terima, penduduk desa mengadakan pesta khusus dan melakukan doa bersama di masjid dan kuil Hindu.

Prodeep Kumar Barman memimpin rombongannya menyanyikan lagu: “Oh sukacita, sukacita!” di dekat sebuah kuil yang terletak di bazar utama Dashiar Chhara.

“Ini adalah perayaan terbesar dalam hidup saya. Saya tidak mampu menggambarkan perasaan saya hari ini,” kata Parul

Khatun, 35 tahun, seorang penduduk daerah kantong perbatasan Kot Bajni milik India.

India dan Bangladesh telah bersama-sama melakukan survei pada bulan Juli 2015 untuk meminta penduduk daerah kantong perbatasan memilih kewarganegaraan mereka. Sebagian besar penduduk yang tinggal di daerah-daerah kantong perbatasan India yang berada di Bangladesh memilih kewarganegaraan Bangladesh, namun hampir 1.000 orang yang tinggal di bagian Bangladesh memilih untuk tetap menjadi warga negara India. Kini, mereka harus meninggalkan rumah-rumah mereka paling lambat bulan November untuk pindah ke India dan mereka akan ditempatkan di Benggala Barat.

saham